Sosok Ali Larijani Pemegang Wewenang Tertinggi Iran Usai Ali Khamenei Meninggal Diserang Israel-AS
Putra Dewangga Candra Seta March 02, 2026 09:04 AM

 

SURYA.co.id – Media-media pemerintah Iran melaporkan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei setelah kediamannya menjadi sasaran serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).

Dalam tragedi itu, anak, menantu, dan cucu Khamenei disebut turut menjadi korban.

Otoritas setempat menetapkan 40 hari berkabung nasional.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab kematian maupun figur yang akan mengisi kursi tertinggi negara.

Di tengah duka nasional dan ketidakpastian, perhatian publik beralih pada mekanisme suksesi yang diatur konstitusi, serta pada satu nama yang mendadak menguat di lingkar kekuasaan.

Jalur Konstitusi dan Nama Ali Larijani Mengemuka

TEWAS - (kiri) Presiden AS, Donald Trump saat mengumumkan serangan ke Iran bersama dengan Israel, Sabtu (28/2/2026). 
(kanan) Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
TEWAS - (kiri) Presiden AS, Donald Trump saat mengumumkan serangan ke Iran bersama dengan Israel, Sabtu (28/2/2026). (kanan) Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. (istimewa/Youtube/laman Kremlin)

Dilansir SURYA.co.id dari Kompas.com yang mengutip Al Jazeera, konstitusi Iran mengamanatkan pembentukan dewan transisi beranggotakan tiga orang (presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi) untuk mengambil alih kendali negara ketika pemimpin tertinggi wafat.

Dalam fase awal ini, wewenang strategis dilaporkan berada di tangan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani.

Namun, lanskap politik tidak tunggal. Reuters melaporkan kemungkinan skenario lain, pengaruh tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menguat dalam perebutan arah kepemimpinan.

Seorang sumber menyebut, pengambilalihan oleh figur IRGC hanyalah satu dari beberapa skenario yang dipertimbangkan.

Baca juga: Mampukah Presiden Prabowo Jadi Juru Damai Perang Iran dan Israel? Begini Analisis Guru Besar HI UI

Kedekatan, Diplomasi, dan Kepercayaan Sang Pemimpin

Relasi personal Larijani dengan Khamenei dikenal sangat dekat.

Menurut AFP, Rabu (25/2/2026), Larijani baru-baru ini dipercaya mewakili Teheran bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, sekaligus menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat negara Teluk yang berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington.

Rekam jejak panjangnya di militer, media, dan legislatif membuatnya memahami detail teknis sekaligus psikologi kekuasaan Iran.

Larijani kembali memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) tak lama setelah konflik Iran–Israel pecah pada 2025, jabatan strategis yang pernah ia emban hampir dua dekade lalu, dengan mandat mengoordinasikan strategi pertahanan dan pengawasan program nuklir.

Penilaian eksternal pun menguat.

"Dia sekarang memainkan peran yang lebih menonjol daripada kebanyakan pendahulunya," kata Ali Vaez, direktur proyek International Crisis Group untuk Iran.

"Larijani adalah orang dalam sejati, seorang operator yang cerdik, memahami cara kerja sistem dan memahami kecenderungan pemimpin tertinggi," lanjutnya.

Rekam Jejak Panjang, dan Ujian Politik

Lahir di Najaf, Irak pada 1957, Larijani berasal dari keluarga ulama berpengaruh yang dekat dengan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Pengaruh keluarga ini telah lama terasa di panggung politik Iran, meski sebagian kerabatnya kerap disorot tudingan korupsi, tuduhan yang selalu dibantah.

Secara akademik, Larijani mengantongi gelar PhD Filsafat Barat dari Universitas Teheran.

Ia juga veteran Korps Garda Revolusi Islam pada perang Iran–Irak, lalu memimpin lembaga penyiaran negara IRIB selama satu dekade sejak 1994. 

Karier politiknya berlanjut sebagai Ketua Parlemen (2008–2020). Pada 1996, ia ditunjuk sebagai perwakilan Khamenei di SNSC.

Meski kalah dalam Pilpres 2005 dari Mahmoud Ahmadinejad dan sempat didiskualifikasi pada pencalonan 2021 serta 2024, kembalinya Larijani ke jantung keamanan nasional kini dibaca sebagai sinyal kembalinya manajemen keamanan yang lebih pragmatis, di saat Iran menghadapi salah satu persimpangan sejarah paling menentukan.

Iran berduka

PERANG IRAN ISRAEL - Tangkap layar video serangan Israel ke Iran. Tak menunggu lama, Iran langsung membalas serangan tersebut dengan rudal.
PERANG IRAN ISRAEL - Tangkap layar video serangan Israel ke Iran. Tak menunggu lama, Iran langsung membalas serangan tersebut dengan rudal. (Tangkap layar youtube SURYA.co.id)

Iran berduka atas wafatnya Khamenei. Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebutnya sebagai ulama besar dan “pemimpin para syuhada Revolusi Islam.” 

Mereka menegaskan bahwa kesyahidannya tidak akan menghentikan jalannya, melainkan memperkuat tekad rakyat Iran untuk melanjutkan warisannya. 

Pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur resmi. Dewan Keamanan Nasional menilai kesyahidannya akan menjadi katalis kebangkitan besar melawan tirani global.

Serangan ini terjadi setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan pada 28 Februari, di tengah pembicaraan nuklir. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi itu sebagai langkah untuk menghapus “ancaman eksistensial” dan mengubah lanskap strategis kawasan. 

Ledakan dilaporkan terjadi di Tehran, Qom, Tabriz, dan Khorramshahr, disusul penutupan wilayah udara Iran dan regional.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke arah Israel, dengan laporan serangan mencapai Tel Aviv, Haifa, dan wilayah Palestina yang diduduki. 

Media Iran menyebut serangan itu sebagai “balasan menghancurkan” terhadap entitas Zionis. Selain itu, ledakan juga dilaporkan di sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS, termasuk Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Satu hal yang menarik perhatian analis maupun pengamat Barat, struktur komando Iran masih utuh dan merespons dengan terkoordinasi.

Tampaknya kelompok Garda Revolusi dan ulama kini memegang kendali dan perang akan terus berlanjut meskipun Ayatullah Khamenei telah gugur.

Pada usia 86 tahun, kematian Ayatullah Ali Khamenei justru disebut menjadi faktor pemersatu, alih-alih berujung pada kekacauan seperti yang diharapkan Israel dan Amerika Serikat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.