Tertangkap Satelit, Penampakan Beit-e Rahbari Rumah Khamenei Pemimpin Iran Pasca Serangan AS-Israel
Rusaidah March 02, 2026 11:03 AM

 

BANGKAPOS.COM -- Begini kondisi Beit-e Rahbari, kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pasca serangan udara besar-besaran  yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026).

Penampakan rumah kediaman Ayatollah Ali Khamenei terungkap melalui tangkapan citra satelit.

Dikabarkan. Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat.

Tak hanya itu, diketahui pula putri, menantu dan cucu Ayatollah Ali Khamenei ikut menjadi korban dalam serangan masif tersebut.

Baca juga: Putri, Menantu dan Cucu Khamenei Pimpinan Tertinggi Iran Tewas Diserang, Kediaman Hancur Total

Melalui tangkapan layar citra satelit dari Airbus Defence and Space yang dikutip Kompas.com, memperlihatkan bangunan utama di kompleks tersebut dalam kondisi hancur total.  

Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.

KHAMENEI TEWAS - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei tewas dalam serangan besar-besaran oleh AS dan Israel hari Sabtu, 29 Februari 2026.
KHAMENEI TEWAS - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei tewas dalam serangan besar-besaran oleh AS dan Israel hari Sabtu, 29 Februari 2026. (https://english.khamenei.ir)

Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah.

Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa pola kawah dan dampak ledakan yang terlihat konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker (bunker-buster). 

Senjata jenis ini dirancang khusus untuk menembus lapisan beton bangunan guna menghancurkan fasilitas bawah tanah yang diperkuat.

Pemimpin Tertinggi Iran Gugur

Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Donald Trump menyatakan di Truth Social bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia.

Trump menegaskan di media sosial Truth, bahwa Khamenei telah terbunuh dalam serangan AS dan Israel.

Adapun AS bersama Israel melakukan serangan ke Iran, Sabtu (28/2/2026), dan salah satu target serangan adalah di dekat Kantor Ayatollah Ali Khamenei.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat di sejarah, telah tewas,” tulis Trump di media sosial miliknya tersebut dilansir dari The Independent, dikutip Kompas.com

Trump menambahkan kematian Khamenei menjadi kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.

Menurut sumber The Independent, pernyataan Trump itu muncul setelah Khamanei diduga tewas dalam serangan yang meluluhlantakan kediamannya.

Trump telah menginformasikan bahwa AS melakukan operasi pertempuran besar di Iran.

Baca juga: Cincin Berukir Khamenei Pemimpin Iran Gugur Diserang AS-Israel, Tersemat Ayat Alquran, Apa Maknanya?

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada NBC, mengatakan sepanjang yang diketahuinya Khamanei dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih hidup.

Araghchi mengatakan bahwa situasi Iran saat ini sudah terkendali.

Selain itu, ia juga mengatakan hampir semua pejabat tinggi selamat, kecuali beberapa komandan.

Selain Trump, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga mengungkapkan keyakinan bahwa Khamenei telah tewas.

Netanyahu meningkatkan adanya peningkatan tanda-tanda Ali Khamenei telah tewas dalam serangan tersebut.

Serangan Masif AS-Israel 

Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada hari Sabtu. 

Serangan ini memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan. 

Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi. 

Laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota. 

Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer. 

Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.  

Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi Iran saat ini yang menjabat sejak 1989.

Di Iran, ucapan Ali Khamenei adalah mutlak.

Dia pernah dinobatkan sebagai orang ke-21 dalam daftar “Orang Paling Berpengaruh di Dunia” oleh Forbes, karena dianggap sebagai otoritas politik paling kuat di Iran, bahkan lebih kuat daripada Presiden negaranya.

Sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, dia pernah menjabat sebagai Presiden Iran selama beberapa tahun.

Dia memainkan peran kunci dalam Revolusi Iran 1979, ketika dinasti Pahlavi di bawah Mohammad Reza Shah Pahlavi digulingkan.

Baca juga: PLN Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik Sampai 10 Maret 2026, Cek Syarat, Cara Klaim dan Biaya

Setelah Grand Ayatollah Ruhollah Khomeini mendirikan Partai Republik Islam, Ali Khamenei mencapai kekuatan politik yang cukup besar sebagai orang kepercayaannya.

Dia mengambil alih jabatan presiden pada 1981, setelah pembunuhan Mohammad-Ali Rajai dan menjadi ulama pertama yang menjabat di posisi tersebut.

"Saya memiliki jiwa yang miskin, tubuh yang tidak lengkap, dan sedikit martabat yang telah Anda berikan kepada saya - saya akan mengorbankan semuanya untuk Revolusi dan untuk Islam," kata Ayatollah Ali Khamenei pada 2009.

Ulama Sejak Muda 

Ali Khamenei Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara, pasangan Seyyed Javad Khamenei dan Khadijeh Mirdamadi di Mashhad, kota paling suci Iran.

Dia mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang ulama, meski itu bukan pilihan yang mudah.

Iran saat itu berada di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, raja sekuler yang memandang agama sebagai sesuatu yang kuno dan mencurigakan.

"Khamenei menjadi ulama ketika dia masih sangat muda, pada usia 11 tahun," menurut kata Mehdi Khalaji, yang menulis biografi Ayatullah melansir BBC.

Status itu membuatnya menjalani masa pertumbuhan yang tidak mudah.

Banyak anak sepantarannya mengejek seragam ulamanya yang sering membuatnya kesulitan untuk bermain dengan anak-anak lain di jalanan.

Menurut salah satu anggota keluarga terdekatnya, Khamenei adalah pria pendiam yang menyukai puisi.

Meski begitu, dia juga sangat baik dan mudah bergaul.

Di tahun-tahun awalnya, Ali Khamenei juga suka merokok dan bahkan menghisap cerutu, kebiasaan yang sangat tidak biasa bagi seorang pria religius.

Khamenei kemudian menjadi pendukung dari musuh utama Raja Shah, ulama yang diasingkan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Ayatollah ingin membawa ajaran Islam ke Iran.

Ali Khamenei yang pada akhirnya mencoba menyebarkan pesan ayatullah di Iran. Alhasil, polisi Raja Shah menangkapnya enam kali.

Dalam tahanan, ulama Ali Khamenei berbagi sel penjara dengan Houshang Asadi, seorang komunis muda.

Ulama dan komunis saat itu bergaul dengan cukup baik. Salah satunya karena selama 1970-an, kelompok-kelompok Marxis juga berusaha menyingkirkan Shah.

Teman-teman satu selnya mengenal Khamenei sebagai ulama yang sangat baik dan memiliki selera humor bahkan untuk hal terkecil sekalipun.

Tapi, ketika itu tidak ada yang pernah menyangka bahwa Khamenei akhirnya akan menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Bukan Sekadar Pemimpin Iran

Banyak yang belum mengetahui, selain menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei juga dikenal sebagai seorang ulama Syiah yang memiliki pengaruh luas di kalangan pengikut Syiah. 

Dalam tradisi Islam Syiah, seorang ulama yang memiliki kualifikasi tinggi di bidang agama bisa diikuti sebagai marja’ (sumber rujukan dalam fiqh). Ada banyak orang—termasuk di luar Iran—yang mengaku mengikuti Ali Khamenei sebagai marja’ mereka dalam hal rujukan hukum Islam.

Bahkan, keputusan, dan fatwa Ali Khamenei sering diikuti atau dibaca oleh jutaan orang Syiah di berbagai negara. Ini membuat pengaruhnya melampaui batas Iran sendiri.

Apa yang akan terjadi dengan Iran usai Khamenei gugur?

Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Donald Trump menyatakan di Truth Social bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia.

Tak pelak, klaim tersebut memicu pertanyaan besar di kawasan Timur Tengah mengenai masa depan Iran.

Selain tentang kebenaran dari klaim Trump, pertanyaan juga tertuju ke satu isu dasar, yakni apakah sistem Republik Islam iran akan ikut runtuh bersama sosok yang selama ini menjadi pusat otoritas tertinggi?

Sejak awal berdiri pada 1979, Republik Islam dirancang untuk melampaui figur individu.

Prinsip ini ditanamkan Ayatollah Ruhollah Khomeini bahwa negara harus lebih penting daripada siapa pun yang memimpinnya.

Namun, dikutip dari Forbes pada Sabtu (28/2/2026), situasi saat ini memunculkan kekhawatiran berbeda, terutama terkait bagaimana sistem militer Iran yang dirancang merespons otomatis akan berhenti ketika tak ada lagi otoritas tunggal yang memerintahkannya.

Cincin Berukir Khamenei Tersemat Ayat Alquran

Sosok Ayatullah Ali Khamenei pun menuai sorotan usai kabar kematiannya.

Kehidupannya menarik simpati warganet.

Baca juga: ASN Dinas Perikanan Bangka Tunggu Sidang, Kejari Cari Bukti SPBU Korupsi BBM Subsidi Nelayan

Bahkan, cincin yang dipakai pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei saat masih hidup, sempat mencuri perhatian, terutama di media sosial.

Dalam "tradisi" muslim Syiah, mengenakan cincin diyakini bagian dari praktik yang sangat ditekankan ajaran Nabi Muhammad serta Ahlulbait (keluarga nabi). 

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, diketahui sebagai sosok yang mengikuti "tradisi" ini secara konsisten. 

Dalam berbagai penampilan publik—baik pertemuan resmi, acara keagamaan, maupun seremoni—Ali Khamenei sering terlihat mengenakan cincin perak yang berbeda-beda. 

CINCIN KHAMENEI - Cincin bertuliskan penggalan ayat suci Alquran yang dipakai Ayatullah Ali Khamenei semasa hidup. 
CINCIN KHAMENEI - Cincin bertuliskan penggalan ayat suci Alquran yang dipakai Ayatullah Ali Khamenei semasa hidup.  (HO/Istimewa/https://english.khamenei.ir)

Cincin-cincin tersebut bukan sekadar perhiasan, melainkan dipilih berdasarkan makna mendalam dan sifat-sifat yang dikaitkan dengan setiap batu dalam tradisi Islam.

Misalnya, dalam acara tadarusan Alquran di Teheran, Ibu Kota Iran, hari-hari pertama bulan suci Ramadan, Ali Khamenei mengenakan cincin yang bertulisan sebuah penggalan ayat suci Alquran.

Di cincin itu terukir penggalan ayat berbahasa Arab: إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (Inna ma‘iya rabbī sayahdīni) dari QS. Asy-Syu‘ara (26): 62.

Penggalan ayat tersebut memiliki terjemahan: “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” 

Ini adalah ucapan Nabi Musa ketika dikejar Fir’aun dan laut terbentang di depan.

Ayat ini, oleh ulama-ulama Islam, ditafsirkan menggambarkan keteguhan iman dan tawakal Nabi Musa saat menghadapi situasi kritis, di mana ia dengan tegas menolak keputusasaan pengikutnya melalui kata "kalla" (sekali-kali tidak) demi meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan tertangkap oleh kejaran Fir'aun. 

Dengan keyakinan penuh bahwa Allah senantiasa menyertainya (inna ma'iya Rabbi), Musa memberikan jaminan bahwa pertolongan serta jalan keluar pasti akan datang sebagai petunjuk dari Allah bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya. 

4 Kemungkinan yang Membayangi Iran

Pertama, konsolidasi IRGC dengan kepemimpinan kolektif sementara dan figur ulama simbolis diperkirakan memiliki peluang sekitar 35 persen, meski lebih rendah dibanding sebelum serangan.

Kedua, perebutan kekuasaan berkepanjangan antara faksi IRGC, para pemuka agama, dan komando provinsi diperkirakan 30 persen dan berpotensi menciptakan ketidakpastian panjang di pasar energi.

Ketiga, pemberontakan rakyat memiliki kemungkinan 25 persen, terutama setelah preseden Januari 2026 dan tawaran kekebalan dari Trump kepada personel keamanan yang membelot, meski belum ada alternatif politik terorganisir yang siap memerintah.

Terakhir, keruntuhan total negara diperkirakan 10 persen dan menjadi skenario yang telah diantisipasi negara-negara tetangga sejak Januari.

Dalam hampir semua skenario, kira-kira diperlukan 60-90 hari sebelum pusat kekuasaan baru mampu bernegosiasi, memberi sinyal niat, atau memerintahkan penghentian operasi rudal.

Iran Umumkan 40 Hari Berkabung

Media pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan berkelanjutan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut.

Laporan yang sama menyebut putri, menantu, dan cucu Khamenei turut menjadi korban.

Baca juga: Daftar 9 Mitra Usaha Terseret Kasus Korupsi Timah Rp4,16 Triliun, Terbaru Punya Mantan Cawabup Basel

Selain itu, media pemerintah melaporkan sedikitnya 108 orang tewas akibat serangan di sebuah sekolah di Iran selatan.

Secara keseluruhan, korban jiwa disebut mencapai sedikitnya 201 orang yang tersebar di 24 provinsi.

Pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional.

Meski demikian, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai kronologi maupun lokasi pasti serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi tersebut.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 28 Februari menyatakan melalui media sosial bahwa Khamenei meninggal dunia setelah serangan militer besar-besaran oleh AS dan Israel.

Pernyataan itu mengindikasikan Washington mengklaim telah mengonfirmasi kematian tersebut dalam operasi gabungan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyebut terdapat banyak tanda bahwa Khamenei tidak lagi hidup.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup, memunculkan perbedaan informasi terkait kondisi sebenarnya.

(Kompas.com/Tribunnews.com/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.