Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu mengimbau masyarakat agar penggunaan pengeras suara atau toa masjid untuk membangunkan sahur selama Ramadan 1447 Hijriah dilakukan secara bijak dan mengedepankan toleransi antarumat beragama.
Hal itu disampaikan Ketua MUI Palu, Prof Zainal Abidin, saat ditemui di Kantor MUI Kota Palu, Jl Sis Al Jufri, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Senin (2/3/2026).
Imbauan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan MUI Pusat terkait penggunaan pengeras suara selama bulan suci Ramadan.
Baca juga: HIPKA Sulteng Dorong Kota Palu Jadi Tuan Rumah Rakernas
Prof Zainal Abidin, menyebut imbauan itu sebagai langkah positif dalam menjaga kehidupan yang rukun dan damai di tengah masyarakat yang majemuk.
“Saya kira imbauan MUI Pusat terkait pengeras suara atau toa masjid di bulan Ramadhan ini sebenarnya positif, baik dalam menjaga kehidupan yang rukun dan damai di antara kita sesama warga negara yang di dalamnya memiliki banyak agama dan aliran pemahaman keagamaan,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan pengeras suara untuk membangunkan sahur sudah menjadi kebiasaan di sebagian masyarakat.
Namun, ia mengingatkan agar tradisi tersebut tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar.
“Selama masyarakatnya dengan pengeras suaranya tidak terjadi sesuatu, tentu kita bisa lanjutkan. Tetapi seandainya ada kelompok masyarakat kita yang terganggu, tentu itu bisa kita pertimbangkan,” katanya.
Ia menegaskan, syiar Islam tidak semata-mata diukur dari kerasnya suara yang dipancarkan dari masjid.
Keberhasilan dakwah, kata dia, justru terletak pada kelembutan dan kesantunan dalam menyampaikan pesan-pesan agama.
Baca juga: Pasca Ketegangan Iran Versus As-Israel, Pemerintah Imbau Jemaah Umrah Tunda Keberangkatan
“Syiar agama Islam itu tidak hanya melalui toa atau pengeras suara. Apakah dengan suara mengaji yang begitu keras dari masjid itu menjadi ukuran banyak yang datang ke masjid? Menurut saya, kejayaan dan kesuksesan umat Islam itu tergantung kepada kelembutan dan kesantunan dalam menyampaikan pesan-pesan agama,” jelasnya.
Ia menambahkan, semakin santun dan arif dalam menyampaikan dakwah, maka pesan agama akan semakin mudah diterima oleh semua pihak.
Apalagi, lanjutnya, Islam merupakan agama rahmatan lil’alamin yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam.
“Islam adalah agama yang memberikan kasih dan sayang, bukan hanya kepada manusia tetapi seluruh alam. Karena itu, kesantunan dan kejujuran menjadi bagian penting dari dakwah,” tuturnya.
Baca juga: Insanul Fahmi Minta Polisi Tunda Proses Hukum Laporan Mawa, Singgung Upaya Damai
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum MUI Pusat, KH M Cholil Nafis, juga mengimbau agar tradisi membangunkan sahur menggunakan pengeras suara dilakukan seperlunya saja, terutama di daerah padat penduduk dan wilayah yang dihuni masyarakat non-Muslim.
Melalui imbauan tersebut, MUI Palu berharap tradisi Ramadhan tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan dan kerukunan antarumat beragama.(*)