SURYA.CO.ID - Ini lah amanah terakhir Wapres ke- RI Try Sutrisno sebelum meninggal dunia saat dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada Senin (2/3/2026).
Ternyata Try Sutrisno meminta agar peti jenazahnya dibopong atau diangkat oleh anak-anaknya.
Amanah itu pun dilaksanakan ketika jenazah usai disalatkan di Masjid Agung Sunda Kelapa.
“Ada amanah dari almarhum. Mohon putranya yang mengangkat (peti jenazah). Ini amanah almarhum,” ujar seorang pria dari pengeras suara Masjid Agung Sunda Kelapa usai shalat jenazah dilaksanakan.
Oleh karena itu, para buah hati pun mengangkat peti jenazah ayahnya.
Baca juga: Sosok Taufik Dwi Cahyono Anak ke-2 Try Sutrisno Jadi Imam Salat Jenazah, Dosen Unhan Bergelar Doktor
Mereka adalah Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, Komjen Pol (Purn) Firman Santyabudi, Taufiq Dwi Cahyono, dan Isfan Fajar Satrio.
Mereka tampak didampingi oleh pasukan Paspampres berseragam merah yang turut membantu mereka.
Anak-anak Try Sutrisno pun terlihat menangis sambil menggotong peti jenazah sebelum sang ayah diserahkan kepada negara melalui upacara yang digelar di Masjid Agung Sunda Kelapa.
Momen tersebut menjadi bagian khidmat sebelum jenazah dibawa untuk prosesi militer.
Pantauan Tribunnews.com di lokasi, peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih diusung perlahan oleh para prajurit berseragam upacara.
Di sisi peti, tampak keempat putra almarhum berjalan mendampingi, bahkan ikut memanggul secara bergantian.
Suasana di dalam masjid ramai melantukan salawat ketika rombongan pembawa jenazah mulai bergerak menuju kendaraan jenazah.
Sejumlah pelayat yang hadir berdiri memberi penghormatan terakhir.
Setelah dari Masjid Sunda Kelapa, jenazah dijadwalkan dibawa untuk rangkaian upacara militer sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Wiranto menyebut Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno kerap melaporkan hal penting kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum dia meninggal dunia pada Senin (2/3/2026).
“Saya selalu komunikasi dengan beliau. Hal-hal yang kira-kira menyangkut masalah-masalah kenegaraan, beliau selalu memberikan nasihat kepada saya,” ujar Wiranto usai melayat ke rumah duka Try Sutrisno di Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat.
“Saat ini saya masih menjadi penasihat presiden khusus presiden bidang politik dan keamanan. Selalu beliau mengontak saya. Untuk hal-hal yang prinsip ya. Yang beliau anggap sebagai hal-hal yang perlu dilaporkan kepada Presiden,” jelas dia.
Sementara itu, Wiranto mengenang Try Sutrisno sebagai sosok yang sederhana dan patuh terhadap konstitusi.
Try Sutrisno, kata Wiranto, juga merupakan sosok yang selalu mendahulukan kepentingan rakyat, ketimbang pribadinya.
"Kesederhanaannya, kepatuhan terhadap konstitusi, perjuangan yang selalu membela kebenaran dan berkiblat kepada sesuatu yang menjadi keyakinan beliau," ujar Wiranto.
"Bahwa sebagai Wakil Presiden waktu itu, selalu mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan golongan," sambungnya.
Menurut Wiranto, Try Sutrisno juga merupakan figur yang selalu memikirkan langkah terbaik untuk masyarakat saat menjalankan tugas negaranya.
"Dan saya kira, itu satu sikap yang memang harus kita teladani. Sikap yang perlu dicontoh bagi, baik sebagai prajurit maupun bagi teman-teman yang saat ini duduk ya di dalam jabatan-jabatan kenegaraan," kata Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan itu.
Untuk diketahui, Try Sutrisno meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto pada Senin pagi.
Pihak keluarga menyebutkan bahwa Try Sutrisno tidak memiliki riwayat penyakit tertentu yang menyebabkan Try meninggal dunia pada Senin (2/3/2/2026).
Anak Try, Taufik Dwi Cahyono, menyebutkan bahwa kondisi kesehatan sang ayah menurun karena faktor usia Try yang sudah menginjak 90 tahun.
"Bapak sih karena memang sudah usia, semuanya kan menurun, umur segitu, enggak ada yang spesial sakit khusus ya karena memang sudah usia ya, menurun dari kemampuan napasnya, atau semacamnya," kata Taufik di RSPAD Gatot Soebroto, Senin, dikutip dari Kompas TV.
Taufik menuturkan, sebelum wafat, Try telah dirawat di RSPAD sejak tanggal 16 Februari 2026 lalu karena sempat tidak punya selera untuk makan.
"(Dirawat sejak) 16 Februari. Jadi cuma tiba-tiba selera makan turun, dibawa ke sini, naik turun lah, dikasih obat, dikasih makan," kata Taufik.
Taufik menuturkan, tim dokter RSPAD dan kepresidenan sudah mengupayakan pengobatan terbaik kepada Try.