Permintaan Terakhir Wapres Try Sutrisno Sebelum Wafat, Ingin Anak-anak Bopong Peti Jenazah
Rusaidah March 02, 2026 03:39 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Sebelum meninggal dunia, Wapres ke-6 RI Try Sutrisno ternyata memiliki amanah terakhir.

Try Sutrisno diketahui meninggal dunia saat dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada Senin (2/3/2026). 

Dia memiliki amanah terakhir yang sederhana.

Amanah atau permintaan itu pun dilaksanakan ketika jenazah usai disalatkan di  Masjid Agung Sunda Kelapa. 

Usut punya usut Try Sutrisno meminta agar peti jenazahnya dibopong atau diangkat oleh anak-anaknya.

Baca juga: Jejak Moncer Firman Santyabudi, Anak Wapres Try Sutrisno, Jenderal Bintang 2 Jadi Direktur MIND ID

“Ada amanah dari almarhum. Mohon putranya yang mengangkat (peti jenazah). Ini amanah almarhum,” ujar seorang pria dari pengeras suara Masjid Agung Sunda Kelapa usai shalat jenazah dilaksanakan.

Oleh karena itu, para buah hati pun mengangkat peti jenazah ayahnya.

Mereka adalah Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, Komjen Pol (Purn) Firman Santyabudi, Taufiq Dwi Cahyono, dan Isfan Fajar Satrio.

Mereka tampak didampingi oleh pasukan Paspampres berseragam merah yang turut membantu mereka.

Anak-anak Try Sutrisno pun terlihat menangis sambil menggotong peti jenazah sebelum sang ayah diserahkan kepada negara melalui upacara yang digelar di Masjid Agung Sunda Kelapa.

Momen tersebut menjadi bagian khidmat sebelum jenazah dibawa untuk prosesi militer.

Pantauan Tribunnews.com di lokasi, peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih diusung perlahan oleh para prajurit berseragam upacara.

Di sisi peti, tampak keempat putra almarhum berjalan mendampingi, bahkan ikut memanggul secara bergantian.

Suasana di dalam masjid ramai melantukan salawat ketika rombongan pembawa jenazah mulai bergerak menuju kendaraan jenazah.

Sejumlah pelayat yang hadir berdiri memberi penghormatan terakhir.

Setelah dari Masjid Sunda Kelapa, jenazah dijadwalkan dibawa untuk rangkaian upacara militer sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Aktivitas Try Sutrisno

Dalam kenangan para sahabatnya, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang sederhana dan teguh memegang prinsip.

Mantan Panglima ABRI, Wiranto, mengungkapkan bahwa almarhum kerap berkomunikasi dengannya terkait persoalan kenegaraan, bahkan sebelum wafat.

“Saya selalu komunikasi dengan beliau. Hal-hal yang kira-kira menyangkut masalah-masalah kenegaraan, beliau selalu memberikan nasihat kepada saya,” ujar Wiranto usai melayat di rumah duka di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Saat ini saya masih menjadi penasihat presiden khusus presiden bidang politik dan keamanan. Selalu beliau mengontak saya. Untuk hal-hal yang prinsip ya. Yang beliau anggap sebagai hal-hal yang perlu dilaporkan kepada Presiden,” jelas dia.

Wiranto juga mengenang Try Sutrisno sebagai figur yang patuh terhadap konstitusi dan selalu mendahulukan kepentingan rakyat.

"Kesederhanaannya, kepatuhan terhadap konstitusi, perjuangan yang selalu membela kebenaran dan berkiblat kepada sesuatu yang menjadi keyakinan beliau," ujarnya.

"Bahwa sebagai Wakil Presiden waktu itu, selalu mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan golongan," sambungnya.

Menurutnya, sikap tersebut menjadi teladan bagi prajurit maupun para pejabat negara. 

"Dan saya kira, itu satu sikap yang memang harus kita teladani. Sikap yang perlu dicontoh bagi, baik sebagai prajurit maupun bagi teman-teman yang saat ini duduk ya di dalam jabatan-jabatan kenegaraan," kata Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan itu.

Sementara itu, pihak keluarga memastikan Try Sutrisno tidak memiliki penyakit khusus sebelum meninggal. Putranya, Taufik Dwi Cahyono, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan sang ayah menurun karena faktor usia yang telah menginjak 90 tahun.

"Bapak sih karena memang sudah usia, semuanya kan menurun, umur segitu, enggak ada yang spesial sakit khusus ya karena memang sudah usia ya, menurun dari kemampuan napasnya, atau semacamnya," kata Taufik di RSPAD Gatot Soebroto, Senin.

Ia menambahkan bahwa almarhum telah dirawat sejak 16 Februari 2026 karena penurunan selera makan. "(Dirawat sejak) 16 Februari.

 Jadi cuma tiba-tiba selera makan turun, dibawa ke sini, naik turun lah, dikasih obat, dikasih makan," ujarnya. Taufik juga menuturkan bahwa tim dokter RSPAD bersama tim kepresidenan telah memberikan penanganan terbaik selama masa perawatan tersebut.

(Bangkapos.com/Tribunnews/Tribunnews Maker)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.