Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Perang yang terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berimbas kepada jemaah umrah asal Indonesia.
Salah satunya yang berangkat dari Kota Solo, misalnya, ada beberapa jadwal keberangkatan yang dibatalkan.
Selain itu, akibat perang tersebut, sejumlah kelompok jemaah umrah yang akan kembali ke Solo juga mengalami kendala karena penerbangan ditunda selama beberapa hari terakhir.
Atas kejadian tersebut, Ketua Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) Kota Solo, Her Suprabu, mengatakan bahwa kini pihaknya tengah mengupayakan agar perjalanan ibadah umrah untuk jemaah yang telah terjadwal tetap bisa diselesaikan.
Pimpinan PT Dewangga Lil Hajj Wal Umroh tersebut mengatakan bahwa di bironya saja terdapat beberapa kendala keberangkatan dan kepulangan jemaah akibat pecahnya perang Iran.
"Ini memang situasi yang tidak bisa diprediksi, terjadi eskalasi mendadak di Timur Tengah dan berdampak langsung pada bisnis umrah karena banyak sekali penerbangan yang ter-cancel, baik yang berangkat maupun yang pulang," ungkap Her Suprabu saat dikonfirmasi TribunSolo.com, Senin (2/3/2026).
"Ini yang berangkat kan masih di Indonesia, yang pulang ini kan mereka (jemaah) menunggu, sudah ada tiga hari ini yang belum pulang juga ada," lanjutnya.
Di bawah bironya sendiri, Her Suprabu menyebut setidaknya ada tiga grup umrah yang terkonfirmasi masih terhambat penerbangannya untuk kembali ke Tanah Air.
"Ada, kalau di tempat kami sudah tiga hari ada satu grup dan hari ini ada dua grup lagi yang belum bisa pulang karena pesawatnya pakai EQ dengan standar keamanan tinggi, jadi membatalkan semua," urai Her Suprabu.
Namun demikian, kondisi pembatalan penerbangan untuk jemaah umrah tersebut dikatakan oleh Her Suprabu hanya terjadi pada pesawat-pesawat dengan rute transit atau non-direct.
Sementara untuk jemaah umrah yang menggunakan pesawat direct seperti Garuda Indonesia, disebut Her Suprabu tidak terkendala.
"Tapi untuk pesawat yang direct seperti Garuda, alhamdulillah keberangkatan dan kepulangan masih lancar. Seperti hari ini kami masih ada keberangkatan, kemarin juga ada kepulangan masih lancar. Tapi kalau pesawat-pesawat yang transit, terutama di Doha (Qatar) dan Emirat, memang tidak bisa diberangkatkan maupun dipulangkan jemaahnya," imbuhnya.
Disinggung terkait pandangan pebisnis travel haji dan umrah dengan kondisi perang Iran, menurut Her Suprabu tidak berpengaruh banyak pada penurunan jemaah.
Namun demikian, Her Suprabu tidak memungkiri adanya pembatalan dari jemaah yang akan berangkat menjalankan ibadah ke Tanah Suci.
"Ya enggak lah, kalau umrah ini kan memang panggilan. Karena berangkat ini kan pasti ibadah dan ibadah pasti diniati untuk ibadah. Tapi kalau situasi seperti ini dikembalikan ke jemaahnya karena di tempat saya ada beberapa jemaah yang memilih menjadwalkan ulang keberangkatan," sebutnya.
"Tapi kalau tinggal berangkat lalu dipending, itu ada konsekuensinya karena hotel dan pesawat sudah dipesan, ini tidak bisa dikembalikan kecuali pesawat yang dibatalkan, itu ada refund. Tapi untuk pesawat yang tetap berangkat tidak bisa dikembalikan," imbuh Her.
Menurut Her, kejadian serupa juga pernah terjadi beberapa waktu lalu.
"Mungkin menurun pada saat ini, tapi kalau eskalasinya sudah menurun insyaallah akan normal kembali," katanya.
Baca juga: Perang Israel-Amerika Serikat Vs Iran, Apa Dampaknya Bagi Warga Solo Raya?
Kondisi perang Iran tidak dipungkiri Her Suprabu juga membuat beberapa jemaah waswas.
Namun ia menyebutkan bahwa sebagian besar jemaah yang telah terjadwal keberangkatannya tetap diberangkatkan.
"Oh iya pasti, beberapa jemaah sebelum berangkat masih waswas berangkat atau tidak. Tapi alhamdulillah tadi pagi kita juga ada keberangkatan dan lancar untuk keberangkatan direct. Tapi untuk transit-transit kita pindah ke pesawat-pesawat yang direct. Tapi ada yang tidak mau ya enggak apa-apa, kita jadwalkan ke lain kesempatan," kata dia.
"Tapi tingkat pembatalan masih di bawah 5 persen. Misal satu grup 45 jemaah, yang batal ya lima jemaah dan lainnya tetap diberangkatkan," jelasnya.
Tidak dimungkiri, menurut Her Suprabu, pengusaha perjalanan haji dan umrah kini terimbas karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengubah jadwal bagi jemaah.
"Pastinya, dengan re-route pasti kan ada selisih harga tiket. Tapi fokus kita tetap berangkatkan jemaah dulu karena kita mengejar hotel dan visa yang bisa hangus. Nanti kalkulasinya kita lihat dan butuh proses," tegasnya.
Her juga menyebutkan bahwa kini dirinya dan pengusaha serupa lainnya intens berkomunikasi terkait tantangan yang sama.
Ia pun mengimbau agar agen lain mengutamakan skala prioritas jemaah, termasuk tingkat keselamatan. (*)