Turis-turis di Bali Kebingungan, Penerbangan Dibatalkan Imbas Perang Iran
GH News March 02, 2026 05:10 PM
Badung -

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membuat sejumlah penerbangan dibatalkan. Turis-turis di Bali pun kebingungan tak bisa pulang.

Sejumlah penerbangan internasional di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali terpaksa dibatalkan imbas perang Iran dan Israel.

Sejumlah penumpang yang notabene adalah turis asing mengaku kebingungan dan terpaksa memperpanjang masa tinggal mereka di Bali tanpa perencanaan sebelumnya.

Salah satunya adalah Marlene dan suaminya, pasangan asal Belanda yang tengah berbulan madu di Bali. Keduanya berencana kembali ke kampung halaman setelah beberapa hari menikmati liburan.

Namun, pembatalan penerbangan akibat perang membuat mereka harus mencari alternatif perjalanan karena mengharuskan transit di Doha.

"Kami sudah mencoba untuk mencari penerbangan baru di sekitar Timur Tengah. Tapi, penerbangan itu sangat mahal dan sangat panjang. Jadi, kami pikir kami akan berada di sini selama beberapa hari," ujar Marlene, Senin (2/3/2026).

Marlene mengaku telah mendatangi layanan pelanggan maskapai Qatar Airways untuk mencari kejelasan. Namun, menurutnya, belum ada solusi konkret yang ditawarkan.

"Satu-satunya yang mereka bilang adalah kami harus mencari penerbangan lain. Tapi, mereka tidak memberikan pilihan. Mereka tidak memiliki informasi. Mereka tidak memberikan apa-apa bagi kami. Jadi, mereka meninggalkan kami. Ya, seperti ruang gelap," jelasnya.

Marlene juga mengatakan bahwa maskapai belum pasti mengembalikan uang mereka. Meski demikian, Marlene memahami bahwa situasi ini juga bukan hal mudah bagi maskapai.

"Saya rasa ini juga sulit bagi mereka (maskapai) karena ini adalah perang. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi," imbuhnya.

Hal serupa dialami Tyrah, wisatawan asal Kenya yang berlibur seorang diri di Bali selama 10 hari. Penerbangannya menuju Kenya yang dijadwalkan berangkat hari ini terpaksa dibatalkan karena rute penerbangan mengharuskan transit di Kuala Lumpur dan Doha.

Tyrah telah mendatangi layanan pelanggan maskapai. Namun belum mendapatkan solusi selain diminta menunggu informasi lebih lanjut.

"Mereka hanya memberitahu saya untuk terus memeriksa halaman resmi mereka di Twitter, dan kemudian saya lihat bila penerbangan akan dijadwalkan ulang. Tapi mereka tidak bisa memberi garansi. Jadi saya hanya harus menunggu dan terus memeriksa," jawabnya.

Beruntung, Tyah mengajukan visa kunjungan selama 30 hari sehingga masa tinggalnya masih mencukupi. Namun, ia kini menghadapi persoalan akomodasi karena tidak memiliki rencana memperpanjang penginapan.

"Ternyata, saya diberikan visa tinggal selama 30 hari dan saya hanya tinggal seminggu. Jadi visa saya baik-baik saja, tapi sekarang masalahnya adalah tempat tinggal," katanya.

Hingga kini, Tyrah mengaku belum memiliki rencana pasti dan hanya bisa terus duduk dan memantau informasi dari maskapai sambil berharap situasi segera membaik.

"Saya tidak memiliki rencana, hanya untuk mengatasi frustasi dan berharap untuk yang terbaik. Menunggu informasi," harapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.