Pengakuan Raihan Usai Pembacokan Mahasiswi UIN Suska: Ingin Taubat, Tebersit Akhiri Nyawa Sendiri
Firmauli Sihaloho March 02, 2026 05:17 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Raihan Mufazzar (21), tersangka pembacokan mahasiswi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau, menunjukkan penyesalan mendalam saat menjalani pendampingan psikologi di Markas Polresta Pekanbaru, Senin (2/3/2026).

Dalam sesi konseling yang dilakukan tim Bagian Psikologi Biro SDM Polda Riau, Raihan sempat melafalkan Surah Al-Kafirun dan Ayat Kursi. 

Ia juga menyampaikan keinginannya untuk melaksanakan salat taubat. Selama berada di tahanan, ia juga sangat ingin membaca buku-buku bernuansa spiritual.

Pendampingan tersebut dipimpin Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau AKBP Dr Winarko. 

Serangkaian tes psikologi dilakukan untuk menggali kondisi kejiwaan tersangka, termasuk perilaku di lingkungan keluarga, pertemanan, serta dinamika emosinya sebelum kejadian.

“Pendampingan ini untuk memahami aspek psikologis tersangka secara komprehensif. Dari hasil sementara, yang bersangkutan menunjukkan rasa penyesalan yang sangat mendalam. Ia mengaku bertanggung jawab atas perbuatannya,” ujar Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad.

Menurut Pandra, usai melakukan penganiayaan, Raihan sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Namun hal tersebut tidak sampai terjadi.

Baca juga: Raihan, Pembacok Mahasiswi UIN Suska Riau Jalani Pendampingan Psikologi: Introvert, Ngaku Menyesal

Baca juga: Hukuman bagi ASN Pemko Pekanbaru yang Cuma Sekedar Ambil Absen, Disuruh Atur Kemacetan

Tersangka pembacokan mahasiswi UIN Suska Riau, Raihan Mufazzar saat menjalani pendampingan psikologi dari tim Polda Riau, Senin (2/3/2026)
Tersangka pembacokan mahasiswi UIN Suska Riau, Raihan Mufazzar saat menjalani pendampingan psikologi dari tim Polda Riau, Senin (2/3/2026) (Tribun Pekanbaru/Rizky Armanda)

Dalam sesi pendampingan, tersangka menyampaikan bahwa seharusnya jika memiliki persoalan, ia bisa bercerita dan mencari jalan keluar, bukan memendamnya sendiri.

“Semakin dilakukan pendekatan psikologis, kita edukasi. Prinsip kami fight the crime, love humanity. Kejahatannya tetap diproses, tetapi sisi kemanusiaannya juga kita perhatikan. Untuk keinginannya salat taubat, serta buku-buku spiritual atau keagamaan, nanti akan disiapkan,” tegas Pandra.

Dari hasil asesmen awal, Raihan diketahui berkepribadian introvert atau tertutup dan disebut tidak pernah merasakan kehangatan dalam lingkungan keluarga. 

Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. 

Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan.

Raihan sempat tidak lagi aktif kuliah pada November dan Desember 2025, lantaran hubungan dengan korban, Farradhilla Ayu Pramesti (23) merenggang.

Pelaku dan korban, memang memiliki kedekatan, namun tidak berpacaran.

Diketahui, aksi pembacokan terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau. 

Saat itu korban tengah menunggu jadwal ujian akhir skripsi di sebuah ruangan, seketika diserang menggunakan senjata tajam oleh Raihan Mufazzar.

Korban mengalami luka serius dan sempat menjalani operasi. 

Sebelumnya, tim trauma healing Polda Riau juga telah memberikan pendampingan psikologi kepada korban di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tempat ia menjalani pemulihan.

Pandra menekankan, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya peran keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak, terutama dalam pengendalian emosi dan kesehatan mental. 

Pengawasan, komunikasi, serta kehangatan di lingkungan rumah dinilai menjadi fondasi penting agar persoalan pribadi tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.