- Harga minyak dunia melonjak tajam, sementara pasar global tertekan.
Setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran gangguan besar pada pengiriman dan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Pasar keuangan global memulai pekan ini dalam tekanan.
Eskalasi militer di kawasan dinilai berpotensi meluas menjadi guncangan ekonomi yang lebih luas.
Pada awal perdagangan Asia, minyak mentah Brent sempat melonjak sekitar 10 hingga 13 persen, menyentuh kisaran Rp1.350.000 per barel.
Lonjakan ini terjadi karena investor mempertimbangkan risiko terganggunya arus energi melalui Selat Hormuz.
Jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi pasokan energi global.
Harga minyak sebelumnya memang telah berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan Al Mayadeen (2/3), menyebut dipicu oleh pengetatan pasokan dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Asia Barat.
Kondisi itu membuat pasar semakin sensitif terhadap potensi gangguan suplai.
Diketahui, Selat Hormuz membawa sekitar seperlima perdagangan minyak global dan sekitar 20 persen pengiriman gas alam cair (LNG) dunia.
Opsi jalur alternatif pun sangat terbatas apabila akses terganggu.
Laporan mengenai peringatan dari pasukan Iran agar kapal tanker menghindari transit di Selat Hormuz semakin memperbesar kecemasan pasar.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa pengiriman komersial bisa terhambat memasuki titik sempit tersebut.
Sehingga memperketat pasar energi yang sudah rapuh.
Bahkan, sejumlah perusahaan asuransi dan pelayaran besar mulai mengurangi operasi mereka.
Program: Tribunnews Update
Host: Thalia Iza
Editor Video: Mellinia Pranandari
Uploader: bagus gema praditiya sukirman