SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Pemkot Malang memburu nilai investasi sebanyak Rp 3,6 triliun pada 2026.
Pada 2025, nilai investasi masuk ke Kota Malang yang dicatat Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMPTSP) sebanyak Rp 3,1 triliun.
Kepala DPMPTSP Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, memperkirakan peningkatan target investasi ini akan memengaruhi serapan tenaga kerja.
Berkaca pada 2025, dari raihan Rp 3,1 triliun, ada 11 ribu tenaga kerja terserap berdasarkan data di DPMPTSP Kota Malang.
Arif menjelaskan, jika capaian target pada tahun ini tercapai, maka bisa menyerap hingga 14 ribu tenaga kerja.
Arif cukup yakin dengan angka sarapan tersebut karena selaras dengan kenaikan target investasi.
"Kami telah mencatat 11.700 serapan tenaga kerja pada 2025."
"Angka itu sejalan dengan capaian investasi di tahun itu, maka untuk 2026 ini potensinya juga sama."
"Investasi akan membuka lapangan kerja,” papar Arif Tri Sastyawan kepada SURYAMALANG.COM, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Akses Jalan di Desa Taji Tergerus Longsor, Bupati Malang Siapkan Dana Rp 800 Juta untuk Perbaikan
Tingkat pengangguran terbuka di Kota Malang mencapai 5,69 persen.
Angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang itu berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2025.
Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,41 poin dibandingkan Agustus 2024, yang menandakan membaiknya kondisi penyerapan tenaga kerja di Kota Malang.
Sektor lapangan pekerja penyumbang investasi antara lain bisnis makanan minuman yang mencapai 45 persen, kemudian ada properti 25 persen, dan setelah itu hotel dengan 20 persen.
Ada tantangan yang dihadapi untuk merealisasikan target tersebut.
Arif menerangkan, capaian target biasanya baru terealisasi di akhir tahun.
Persoalan itu akan coba diatasi agar serapan kerja merata. Salah satu yang coba untuk diatasi adalah penyederhanaan administrasi.
Baca juga: Program 1000 Sarjana Kota Batu 2026 Ada 399 Pendaftar, Bantuan Biaya Pendidikan Maksimal 8 Semester
Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Malang, Suhirno berpendapat bahwa kondisi saat ini cukup sulit bagi angkatan kerja mendapat kesempatan kerja.
Kondisi ekonomi yang tak menentu merupakan salah satu penyebabnya.
Selain itu, praktik nepotisme juga kerap dilakukan dalam proses penyerapan tenaga kerja.
Hal itu mengakibatkan serapan tenaga kerja yang berdasarkan kompetensinya tidak merata.
“Sekarang kalau tanpa orang dalam sangat sulit untuk bisa masuk kerja,” katanya.
Menurut Suhirno, Pemkot Malang harus berani mengambil investasi industry padat karya untuk bisa menyerap tenaga kerja.
Ia juga menyarankan agar Pemkot Malang bisa menggaet investor dari luar negeri.
Suhirno mengungkapkan, meski angka statistik pertumbuhan ekonomi naik, namun realitas di masyarakat beban yang ditanggung semakin berat.
Daya beli yang menurun, dan sulitnya melunasi cicilan kerap ditemukan di tengah masyarakat kelas bawah.