Iran Tutup Selat Hormuz, Bahlil Sebut Cadangan Minyak RI Cukup 20 Hari
Mareza Sutan AJ March 02, 2026 09:03 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu reaksi cepat dari Teheran.

Iran dilaporkan melakukan serangan balasan yang menargetkan kepentingan AS dan Israel di sejumlah negara di Timur Tengah, di antaranya Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Oman.

Di tengah meningkatnya konflik antara AS-Israel dan Iran, otoritas Tehran mengirimkan sinyal keras dengan mengancam menggunakan senjata ekonomi strategis berupa penutupan jalur pelayaran energi paling penting di dunia, yakni Selat Hormuz.

Informasi tersebut turut dibenarkan pejabat Uni Eropa yang menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menerima transmisi radio frekuensi sangat tinggi (VHF) dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Dalam pesan itu disebutkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz”.

Tak lama setelah peringatan tersebut disampaikan, setidaknya tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar kawasan selat.

Dua kapal disebut terkena serangan secara langsung, sedangkan satu kapal lainnya hampir terdampak ledakan proyektil yang tidak dikenal.

Sejalan dengan pernyataan pejabat Uni Eropa, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengonfirmasi adanya “aktivitas militer signifikan” di wilayah tersebut, termasuk insiden yang terjadi sekitar dua mil laut di utara Kumzar, Oman.

Akibat situasi itu, aktivitas pelayaran internasional nyaris lumpuh.

Data dari platform pelacakan kapal Kpler mencatat sekitar 150 kapal tanker memilih berlabuh di luar perairan Selat Hormuz.

Namun demikian, sejumlah kapal berbendera Iran dan China masih dilaporkan tetap melintas.

Minyak Mentah Naik

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pascaserangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya menyebabkan terganggunya jalur distribusi minyak dunia. 

Dampaknya segera terasa di pasar global dengan meningkatnya harga minyak mentah.

Pemerintah Indonesia pun segera mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan efek lanjutan pada pasokan serta cadangan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mengadakan rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) guna membahas kondisi terbaru pasokan minyak dan ketahanan cadangan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/3).

Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu melakukan kajian menyeluruh sebelum menetapkan kebijakan lanjutan.

“Saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional. Setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian dari DEN,” ujar Bahlil.

Ia menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia kini mulai bergerak naik seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Meski kenaikannya belum terlalu tajam, ia mengingatkan agar tren tersebut tetap diwaspadai.

“Perlahan-lahan sebagian sudah ada perubahan harga naik,” katanya.

Bahlil mengungkapkan bahwa hingga saat ini cadangan minyak nasional diperkirakan masih cukup untuk sekitar 20 hari ke depan.

Ia memastikan bahwa dampak terhadap subsidi energi di dalam negeri belum dirasakan. Namun, ia menilai perkembangan situasi global berpotensi memicu penyesuaian harga lebih lanjut.

“Sampai hari ini enggak ada masalah, tapi harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” pungkasnya.

Penutupan Selat Hormuz diumumkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Jalur tersebut merupakan salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi dunia karena menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak global serta 20–25 persen perdagangan LNG dunia melewati jalur ini.

Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengandalkan Selat Hormuz untuk menyalurkan minyak mentah ke pasar Asia.

Sementara Qatar mengekspor hampir seluruh LNG-nya melalui jalur tersebut.

Akibat penutupan ini, sejumlah perusahaan energi dan pedagang global menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta LNG.

Kondisi tersebut semakin menekan pasar energi internasional dan memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan dalam skala lebih luas.

Di tengah ketidakpastian itu, pemerintah Indonesia kini menunggu hasil analisis resmi dari Dewan Energi Nasional sebagai dasar dalam menentukan langkah strategis guna menjaga ketahanan energi nasional.

Dampak di Jambi

Meskipun konflik Iran dan Amerika Serikat secara geografis tampak jauh dari Jambi, Arief menilai situasi tersebut tetap berpengaruh terhadap sektor ekonomi.

“Kalau kita pakai perspektif ekonomi politik internasional justru sebaliknya, dampaknya dapat turun secara perlahan hingga level daerah melalui mekanisme pasar global,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung, konflik di Timur Tengah hampir selalu berdampak pertama kali pada harga energi serta biaya logistik internasional.

Dampak tersebut kemudian menjalar ke wilayah berbasis komoditas seperti Jambi. Ketika ketegangan militer meningkat dan risiko terhadap jalur energi dunia bertambah, harga minyak global cenderung terdorong naik.

Hal ini pada akhirnya meningkatkan ongkos transportasi, distribusi, dan produksi, termasuk untuk kegiatan ekspor dan impor di daerah.

“Bagi Jambi, yang sangat ‘ekstraktif,’ dampak paling realistis bukan gangguan perdagangan langsung dari konflik, tapi perubahan pada struktur keuntungan komoditas ekspor," katanya.

Arief menjelaskan bahwa perekonomian Jambi sangat bergantung pada komoditas global seperti CPO, karet, batubara, serta produk turunan perkebunan yang harganya dipengaruhi dinamika pasar internasional.

Dalam kondisi konflik global, biasanya muncul dua kemungkinan sekaligus: di satu sisi pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat ekspor terlihat lebih kompetitif.

Tetapi di sisi lain kenaikan biaya energi dan ongkos angkut internasional justru menekan margin keuntungan pelaku usaha di daerah.

“Artinya, konflik geopolitik global sering menghasilkan situasi paradoks bagi daerah, nilai ekspor bisa naik secara nominal, tetapi keuntungan riil belum tentu meningkat,” jelasnya.

“Jadi masalah lagi, karena seragamisasi komoditas yg gencar didukung pemerintah akhir-akhir ini,” lanjutnya.

Ia berpendapat bahwa hal yang menarik namun kerap terabaikan adalah konflik global juga memengaruhi keputusan investasi serta arus perdagangan jangka pendek.

Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, perusahaan internasional dan pembeli global cenderung menunda kontrak baru atau menyesuaikan volume impor.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, tetapi bisa muncul beberapa bulan kemudian dalam bentuk perlambatan permintaan komoditas atau perubahan jalur perdagangan.

Dengan demikian, dalam konteks ini, Jambi berada pada posisi yang sangat bergantung pada stabilitas eksternal.

“Contoh nyata bagaimana ekonomi daerah hari ini tidak lagi sepenuhnya lokal, melainkan menjadi bagian dari rantai ekonomi politik global,” ucapnya.

Arief menerangkan bahwa pada akhirnya konflik Iran-Amerika memberikan satu pelajaran penting, yakni geopolitik dunia saat ini tidak berhenti pada level negara, tetapi merambat hingga ekonomi daerah.

“Apa yang terjadi di Teluk Persia dapat mempengaruhi biaya angkut di pelabuhan-pelabuhan sumatera, harga komoditas petani, hingga keputusan ekspor perusahaan di Jambi.

"Dengan kata lain, meskipun Jambi tidak terlibat dalam konflik internasional, daerah tetap menjadi penerima dampak dari turbulensi sistem global,” terangnya.

“Inilah realitas globalisasi kontemporer, perang mungkin terjadi jauh dari kita, tetapi konsekuensi ekonominya bisa terasa sangat dekat,” pungkasnya.

(tribunnews/taufik ismail/namira)
(tribunjambi/syrillus krisdianto)

 

Baca juga: Sopir Dua Tahun Buron Ditangkap Polisi saat Pulang Hendak Lebaran sama Keluarga

Baca juga: Konflik Iran vs Israel-AS dan Dampak bagi Jambi menurut Analisis Dosen Unja

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H Kabupaten Bungo selama Satu Bulan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.