SURYA.CO.ID, PONOROGO - Hindar Agusta, korban luka akibat ledakan petasan maut di Ponorogo, Jawa Timur (Jatim), masih menjalani perawatan di ruang rawat inap Flamboyan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Harjono.
Peristiwa mengenaskan itu terjadi di rumah Minten, Dusun Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Pihak dokter RSUD dr Harjono Ponorogo menyebutkan, bahwa Hindar mengalami luka bakar sebesar 16 persen.
Saat dikunjungi oleh tim media, Hindar tampak sedang ditunggui oleh sang ibu, Senin (2/3/2026).
Dengan suara pelan, Hindar menceritakan detik-detik ledakan petasan maut yang mengakibatkan dirinya mengalami luka bakar serius.
Baca juga: Kondisi Terkini 2 Korban Ledakan Petasan Maut di Ponorogo, Dirawat Insentif di RSUD dr Harjono
Hindar mengisahkan, bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 1 Maret 2026. Ia bahkan mengaku sempat terlempar saat ledakan dahsyat itu terjadi.
"Bahkan saya sempat terpelanting," kisahnya kepada awak media.
Hindar menyebutkan, bahwa saat kejadian, terdapat beberapa orang di rumah Minten. Korban meninggal dunia, Rifai Kurnia Putra, sedang merakit petasan bersama temannya yang bernama Ahmad Fatoani.
Hindar menjelaskan, bahwa dirinya baru saja datang ke lokasi tersebut untuk mengembalikan sepeda motor.
"Terus kan saya baru datang mau mengembalikan motor, ya itu ngrakit di depan pintu. Saya di depan, di halaman. Mau mengembalikan kuncinya," ujarnya menjelaskan posisi saat kejadian.
Menurutnya, saat ia meletakkan kunci motor tersebut, ledakan langsung terjadi seketika.
"Terus adiknya itu kan masih ngerakit, lagi kuncinya saya taruh langsung meledak," tegas Hindar.
Baca juga: Terungkap Ledakan Petasan Maut di Ponorogo Berasal dari 5 Kg Black Powder
Hindar mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi pemicu ledakan tersebut. Ia tidak bisa memastikan apakah ledakan dipicu oleh rokok atau faktor lainnya.
"Gak lihat saya soal merokok. Soalnya saya kasih kunci, saya dingkluk gitu, terus meledak. Terus saya sempat mencelat," urai Hindar menggambarkan suasana mencekam tersebut.
Ia menyatakan, bahwa dirinya terlempar namun posisinya tidak terlalu jauh.
Sementara itu, korban Rifai yang meninggal dunia dan Ahmad Fatoani terlempar dalam jarak yang cukup jauh.
"Saya langsung keluar ke jalan. saya dibonceng bertiga dibawa ke klinik. Yang sadar kan cuma saya, yang satu sudah meletik jauh, yang satunya meninggal di tempat," imbuhnya lagi.
Saat ledakan terjadi, Hindar merasakan sensasi panas yang luar biasa di bagian leher ke atas hingga ke tangan.
Baca juga: Fakta Terbaru Ledakan Petasan Maut di Ponorogo, Warga Sebut Rumah Minten Sebagai Markas
Berikut adalah rincian korban dalam insiden ledakan petasan di Ponorogo tersebut:
Perihal rumah Minten yang dijadikan markas merakit petasan, Hindar mengaku baru mengetahuinya pada Ramadan tahun ini. Sebelumnya, ia tidak pernah tahu adanya aktivitas tersebut.
"Saya baru tahunya bulan puasa ini, sebelumnya gak tahu. Kalau warga dulu sempat pagi-pagi menerbangkan balon sempat ditegur," pungkasnya.
Baca juga: Breaking News : Ledakan Petasan Hebat di Plosojenar Ponorogo Renggut Nyawa Siswa SMP
Hingga saat ini, dua korban luka masih dirawat intensif di RSUD dr Harjono Ponorogo. Korban berinisial A (Ahmad Fatoani) yang merupakan warga Desa Morosari masih berada di ruang ICU (Intensive Care Unit).
Ahmad telah menjalani tindakan operasi pada Minggu, 1 Maret 2026, sekitar pukul 21.00 WIB.
Secara medis, Ahmad mengalami luka bakar hingga 36 persen yang tersebar di area wajah, leher, tangan, dan kaki.
Sementara itu, kondisi korban Hindar Agusta dilaporkan lebih stabil.
Berdasarkan keterangan Humas RSUD dr Harjono Ponorogo, Sugiyanto, Hindar dalam kondisi sadar dan dapat menjalankan aktivitas dengan baik.
Secara motorik, kondisi Hindar dinilai bagus dan proses perawatannya berjalan lancar hingga hari ini.