Ramadan Picu Lonjakan Sampah hingga 20 Persen, Aksata Pangan Medan Ajak Warga Bijak Kelola Makanan
Ayu Prasandi March 02, 2026 09:10 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Fenomena “lapar mata” saat berburu takjil di bulan Ramadan dinilai turut memicu peningkatan timbunan sampah makanan dan kemasan sekali pakai. Kondisi ini bahkan tercatat secara nasional mengalami lonjakan hingga 10–20 persen selama Ramadan.

Hal itu disampaikan Karina dari Aksata Pangan Food Bank Medan saat diwawancarai terkait isu pemborosan makanan di bulan puasa.

“Memang berdasarkan laporan nasional ada peningkatan timbunan sampah sekitar 20 persen selama Ramadan. Peningkatan ini didominasi oleh sampah makanan dan kemasan sekali pakai,” ujarnya.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan tren kenaikan volume sampah saat Ramadan.

Selain sisa makanan, kemasan plastik dan styrofoam dari takjil juga memperparah beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Karina menjelaskan, sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dan berakhir di TPA akan menghasilkan gas metana (CH4). Gas ini merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

“Gas metana itu 25 sampai 80 kali lebih kuat dampaknya dibanding CO2 dalam memerangkap panas. Jadi ketika sampah makanan bercampur di TPA tanpa pengelolaan, dampaknya besar terhadap perubahan iklim,” jelasnya.

Selain itu, kemasan sekali pakai seperti plastik dan styrofoam membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Plastik yang terdegradasi akan menjadi mikroplastik dan berpotensi mencemari rantai makanan.

Ia menambahkan, isu mikroplastik kini menjadi perhatian global karena telah ditemukan dalam berbagai sumber pangan, bahkan pada tubuh manusia.

Dari sisi sosial, Karina menilai pemborosan makanan sangat ironis. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas tahun 2021, Indonesia menghasilkan 115–184 kilogram sampah makanan per kapita per tahun. Jika tidak terbuang, jumlah tersebut berpotensi memberi makan sekitar 49 persen populasi Indonesia yang membutuhkan.

“Masih banyak masyarakat yang kesulitan akses pangan, tapi di sisi lain makanan terbuang begitu saja. Ini yang coba kami lawan melalui gerakan penyelamatan pangan,” katanya.

Aksata Pangan sebagai food bank di Medan berupaya menyelamatkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari berbagai sumber untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat membutuhkan.

Di Kota Medan sendiri, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, sisa makanan mendominasi timbunan sampah di TPA Terjun, terutama saat Ramadan.

Riset Universitas Sumatera Utara (USU) juga mencatat rata-rata timbulan sampah warga Medan mencapai 0,222 kilogram per orang per hari, dengan komposisi terbesar berasal dari sampah organik.

Secara global, laporan Food Waste Index dari United Nations Environment Programme (UNEP) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang sampah makanan terbesar di dunia.

Karina menekankan pentingnya penerapan hierarki pemulihan makanan, mulai dari pencegahan, donasi, hingga pengolahan kembali.

Jika makanan masih layak konsumsi, masyarakat dapat membagikannya kepada tetangga, petugas kebersihan, pengemudi ojek daring, atau pihak lain yang membutuhkan. Untuk skala besar seperti acara buka bersama, distribusi dapat dilakukan melalui food bank.

Sementara makanan yang tidak lagi layak konsumsi dapat dialihkan menjadi pakan ternak, dikelola melalui budidaya maggot yang mampu mengurai 70–80 persen sampah organik, atau diolah menjadi kompos rumah tangga.

“Sebisa mungkin hindari membuang makanan langsung ke tempat sampah. Karena ujungnya akan masuk ke TPA dan menambah beban lingkungan,” ujarnya.

Karina juga membagikan sejumlah tips agar masyarakat lebih bijak selama Ramadan.

Pertama, membuat perencanaan belanja atau meal prep sebelum membeli bahan makanan dan takjil. Dengan daftar belanja, masyarakat dapat menghindari pembelian impulsif.

“Kalau ingin beli takjil, tidak perlu malu ambil porsi kecil. Jangan sampai beli berlebihan tapi tidak habis,” katanya.

Jika makanan tersisa dan masih layak konsumsi, simpan dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah kontaminasi silang. Makanan basah sebaiknya disimpan di freezer agar lebih tahan lama dibanding hanya di chiller.

“Kalau memang masih bisa dimakan saat sahur, simpan dengan benar. Tapi kalau sudah tidak layak, olah jadi kompos atau pakan ternak,” tambahnya.

Ia berharap Ramadan menjadi momentum meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih bersyukur dan bijak dalam mengelola pangan.

“Bijak dan berkesadaran dalam mengonsumsi makanan juga bagian dari rasa syukur. Ramadan harusnya bukan hanya menahan lapar, tapi juga belajar mengendalikan diri, termasuk dari pemborosan,” tutup Karina.

(cr26/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.