TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR- Masjid Raya Taqwa Parapat menjadi simbol eksistensi muslim di Kota Wisata Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.
Usul punya usul, ada sosok Presiden RI pertama, Soekarno dibalik pendirian masjid ini di Tanah Batak.
Masjid Raya Taqwa Parapat kini berdiri dengan megah di pintu gerbang Danau Toba.
Sejak dibangun pada tahun 1952, masjid mengalami banyak renovasi hingga berubah total dari bentuk awalnya.
Pengurus Badan Kenaziran Masjid Raya Taqwa Parapat, Abdul Sani atau biasa disapa H. Buyung menyampaikan bahwa awalnya ada satu masjid berdiri di Parapat sebelum Soekarno diasingkan pada tahun 1949.
Namun masjid itu begitu kecil dan berada di titik yang kini area Terminal Sosor Saba.
“Jadi waktu Presiden Soekarno di Parapat, dia nanya di mana masjid? Kok nggak ada di tengah kota (Parapat) ini?. Jadi dari ucapan Soekarno itu, masyarakat di sini berpikir mewujudkannya,” kata H. Buyung.
Dari ucapan Soekarno itu, tokoh masyarakat muslim bernama H. Abdul Halim Pardede menghibahkan tanahnya untuk dibangun masjid yang lebih besar dan tepat di pinggir jalan.
Masjid inilah yang sekarang menjadi Masjid Raya Taqwa.
Di area ini, ada sebagian tanah milik Porhot Saragih, sosok masyarakat lokal yang belakangan baru menganut agama Islam atau mualaf.
“Jadi setelah itu adalah ide dari masyarakat menyediakan lahan pertaniannya di pusat kota untuk dijadikan Masjid Raya Taqwa Parapat. Dahulu itu ladang. Jadi dari Sosor Saba dipindahkan ke sini (tempat sekarang). Ada tanah warga lain namanya Porhot Saragih,” kata H. Buyung.
Saat ini Masjid Raya Parapat mengalami banyak renovasi. Renovasi teranyar terjadi pada tahun 2017 dan membuat masjid yang diprakarsai Presiden Soekarno ini begitu megah di Danau Toba.
Amatan reporter Tribun-Medan.com, Masjid Raya Taqwa memiliki satu pilar besar.
Masjid didominasi warna bata ini memiliki dua tingkat dan satu basement. Masjid juga memiliki perpustakaan hingga madrasah.
Abdul Sani menyampaikan bahwa pada momen Ramadan 1447 Hijriyah/2026, BKM masjid mengadakan buka puasa bersama dengan memberikan jadwal pemberian takjil dari warga-warga muslim sekitar Kecamatan Girsang Sipangan Bolon hingga Ajibata.
Masjid ini kini menjadi rumah bagi musafir dalam perjalanan.
“Jadi setiap jelang buka puasa, ada warga yang memberikan takjil. Semua dari warga. Sudah ada jadwalnya dan sukarela. Begitu,” kata H. Buyung
Jejak Soekarno di Parapat
Setelah dari Berastagi, Soekarno diasingkan ke Parapat pada 4 Januari 1949 selama hampir dua bulan sebelum dipindahkan ke Pulau Bangka.
Di Parapat, usia pengasingan Soekarno termasuk singkat. Parapat menjadi Soekarno lepas dari komunikasi dengan gerilyawan.
Di Parapat terdapat rumah pengasingan yang dihuni Soekarno dengan konstruksi khas Eropa.
Rumah itu dibangun sekitar tahun 1820-an atau 1930-an oleh Belanda.
Bangunan dua lantai berarsitektur kolonial Eropa ini didominasi dinding kayu jati yang kini menjadi situs cagar budaya dan sering dikunjungi wisatawan.
Bagian dalamnya masih menyimpan barang peninggalan seperti tempat tidur dan meja kerja, serta foto-foto dokumentasi pengasingan.
(alj/tribun-medan.com)