Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Langkah kaki di Jalan ABC nomor 8, Kota Bandung, biasanya disambut keriuhan deru mesin kendaraan dan tawar menawar urusan bisnis.
Namun, tepat di sebuah sudut yang dahulunya gudang pusat perbelanjaan, berdiri sebuah bangunan yang memaksa mata untuk menoleh sejenak. Jika tak ada kubah di puncaknya, orang mungkin akan mengiranya sebagai kelenteng.
Warna merah menyala mendominasi setiap jengkal dinding. Lampion-lampion bundar menggantung manis, bergoyang pelan ditiup angin yang menyusup ke selasar masjid.
Inilah Masjid Al Imtizaj, sebuah oase unik di mana arsitektur Tionghoa dan nilai-nilai Islam melebur dalam satu tarikan napas.
Masjid ini tidak lahir dari kemewahan lahan baru. Dia adalah wujud "daur ulang" spiritual dari sebuah bekas mal dan supermarket terbesar di masanya.
Baca juga: Pemkot Bandung Kaji Pemberian Tunjang Hari Raya Untuk Ribuan PPPK Paruh Waktu
Muhamad Yahya Azlani, Ketua DKM Masjid Al Imtizaj, mengatakan bahwa pembangunan Masjid Al Imtizaj yang dimulai sekitar 2010 merupakan buah pikir panjang dari para mualaf Tionghoa dan mantan Gubernur Jawa Barat, HR Nuriana.
"Dulu, di kawasan perbelanjaan seperti ini, sangat sulit mencari tempat salat yang nyaman," ujar Muhamad Yahya Azlani saat berbincang hangat di kediamannya, Senin (2/3/2026).
Bagi Yahya, kehadiran masjid ini jawaban atas dahaga spiritual para pelaku usaha dan pengunjung di pusat perdagangan Bandung. Meski sempat melalui estafet kepemimpinan gubernur yang panjang, mimpi para mualaf untuk memiliki rumah ibadah yang merepresentasikan jati diri budaya mereka akhirnya tegak berdiri di Jalan ABC.
Nama "Al Imtizaj" bukan sekadar label. Diberikan oleh KH Hafidz Utsman dari MUI Jabar, kata ini secara harfiah berarti pembauran. Dalam bahasa Mandarin, disebut Ronghe.
"Maksudnya, harus ada pembauran antara budaya Sunda, Islam, dan Tionghoa. Pembauran antara muslim lama dan muslim baru (mualaf), serta antarbudaya," ucap Yahya dengan nada tenang.
Baca juga: Pastikan Takjil di Lembang Aman, BBPOM Bandung Malah Temukan Produk Tanpa Izin di Ritel Modern
Filosofi itu terpahat nyata pada interior masjid. Begitu melewati pintu masuk, pengunjung akan disambut tulisan Mandarin tentang pembauran yang dikelilingi oleh kaligrafi Asmaul Husna yang melingkar indah. Tidak ada sekat prasangka di sini. Sejauh ini, tak ada yang mempermasalahkan warna merah yang mencolok atau ornamen khas kelenteng tersebut. Bagian terpenting tetap satu, yakni arah kiblat yang lurus menuju Kabah.
Masjid ini memiliki daya pikat tersendiri bagi para pencari Tuhan. Selain menjadi tempat salat wajib yang selalu penuh hingga ke saf belakang, Al Imtizaj sering menjadi saksi bisu bagi mereka yang memutuskan untuk memeluk Islam.
Di sini, mualaf tak hanya diterima, tapi juga dirangkul lewat pengajian rutin setiap hari Minggu.
Meski mampu menampung sekitar 200 jemaah, masjid ini nyatanya melayani lebih dari sekadar angka. Jamaahnya datang dari berbagai penjuru, mulai dari warga lokal hingga pelancong luar Jawa yang penasaran dengan keunikan bangunan "kelenteng berkubah" ini.
Menariknya, kemegahan makna di balik dinding merah ini lahir secara mandiri.
"Alhamdulillah, murni dari masyarakat untuk masyarakat. Pemerintah belum pernah ada sumbangan," kata Yahya penuh syukur. (*)