Cerita Jemaah Balikpapan di Tanah Suci Saat Perang Memanas, Keluarga di Rumah Cemas
Heriani AM March 03, 2026 03:19 AM

 

Senin (2/3/2026) sekitar pukul 17.44 Wita, Tribun Kaltim terhubung melalui video call grup dengan salah seorang warga Balikpapan yang sedang menjalankan ibadah umrah di Madinah, yakni Rosandi.

Saat diwawancarai melalui sambungan video call, Rosandi terlihat mengenakan gamis dan peci hitam. Ia tampak tenang menyampaikan kondisi rombongan jemaah asal Balikpapan yang saat ini berada di Tanah Suci.

Dalam kesempatan itu, Rosandi menyampaikan bahwa dirinya bersama sekitar 20 warga Balikpapan lainnya dalam kondisi baik dan tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk.

Baca juga: Dubes Iran Apresiasi Niat Prabowo, Namun Sebut Tak Ada Perundingan dengan AS yang Berguna

Ia mengakui, kekhawatiran justru lebih dirasakan oleh pihak keluarga yang berada di Balikpapan setelah melihat berbagai informasi yang beredar.

“Kalau perasaan takut itu justru dari keluarga yang di Balikpapan. Kalau kami di sini tetap tenang dan fokus beribadah,” ungkapnya.

Rosandi mengatakan rombongan jemaah asal Balikpapan tersebut sudah berada di Madinah selama lima hari.

Sesuai rencana, dalam dua hari ke depan mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Mekkah untuk menunaikan rangkaian ibadah umrah berikutnya.

“Sudah lima hari di Madinah, mungkin dua hari lagi kami ke Mekkah,” katanya.

Ia juga memastikan aktivitas ibadah di Madinah tetap berjalan normal dan para jemaah dari berbagai negara masih menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa terpengaruh isu yang berkembang.

Di akhir perbincangan, suara azan Dzuhur terdengar berkumandang dari Masjid Nabawi, lokasi Rosandi berada. Wawancara pun kemudian ditutup karena Rosandi hendak menunaikan salat Dzuhur.

Rosandi berharap masyarakat Balikpapan juga mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

“Semoga saudara-saudara kami di Balikpapan juga dipanggil ke Baitullah,” tuturnya.

Baca juga: Prabowo Kumpulkan Menteri Bahas Stok Energi Nasional Dampak Selat Hormuz yang Ditutup Iran

Diliputi Waswas

Ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah pascaserangan militer Amerika Serikat ke Iran sempat membuat sejumlah warga Indonesia di Tanah Suci diliputi rasa waswas.

Hal itu juga dirasakan warga Balikpapan yang tengah menunaikan ibadah umrah di Mekkah.

Di antaranya MUA asal Kota Balikpapan, Adib Satria Negara, yang sudah beberapa hari berada di Mekkah dan Madinah.

“Kalau ditanya ada rasa takut atau tidak, sebagai manusia tentu ada rasa waspada. Apalagi keluarga di rumah juga ikut cemas dan terus bertanya kondisi di sini,” ujar Adib saat diwawancarai melalui pesan Instagram, Senin (2/3).

Namun, Adib menegaskan situasi di Mekkah maupun Madinah tetap kondusif. Aktivitas ibadah berjalan normal dan jemaah tetap memadati Masjidil Haram seperti biasa.

“Alhamdulillah, sejauh ini kondisi tetap tertib. Aktivitas ibadah berjalan seperti biasa, jemaah juga tetap khusyuk menjalankan ibadahnya,” katanya.

Menurut Adib, justru saat berada di Tanah Suci, perasaan tenang lebih terasa meski di tengah isu global yang berkembang.

“Rasa waspada itu ada, tapi tidak sampai mengalahkan keyakinan. Justru ketika berada di Tanah Suci, hati terasa lebih tenang. Kami tetap mengikuti arahan petugas dan menjaga diri dengan baik,” ungkapnya.

Ia memilih tetap fokus pada tujuan utama keberadaannya di Mekkah, yakni memperbanyak ibadah dan doa.

“Insya Allah selama kita ikhtiar dan tawakal, Allah jaga. Fokus kami di sini tetap ibadah, memperbanyak doa, dan menjaga ketenangan,” tutupnya.

Kisah Adib menjadi gambaran bagaimana jemaah asal Balikpapan mencoba menenangkan diri dan keluarga di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil, dengan tetap mengedepankan ikhtiar dan tawakal.

Baca juga: Pengusaha Travel Umrah Balikpapan Pantau Perang AS–Israel vs Iran, Kondisi Nasib Kepulangan Jamaah

Imbauan Penundaan

Beberapa bandara di Timur Tengah sempat menutup penerbangan sehingga sejumlah jemaah asal Indonesia terlantar di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Situasi perang Amerika Serikat–Israel versus Iran juga berdampak pada sejumlah jadwal keberangkatan umrah dari Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian pemerintah, termasuk Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Balikpapan.

Kepala Kantor Kemenhaj Kota Balikpapan, Suharto Baijuri, mengimbau para penyelenggara travel umrah di Kota Beriman untuk menunda keberangkatan jemaah ke Arab Saudi sementara waktu.

Ia menjelaskan, imbauan tersebut mengacu pada edaran Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu) terkait kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.

“Untuk sementara kami mengimbau, sesuai edaran dari Kemenlu, agar para pengusaha travel kalau bisa menunda dulu pemberangkatan jemaah umrah ke Arab Saudi,” ujarnya, Senin (2/3).

Meski begitu, pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut dari Kemenhaj RI.

“Kami belum menerima edaran resmi dari pusat. Jadi ini sifatnya imbauan dulu, sambil menunggu perkembangan situasi dan arahan selanjutnya,” tambahnya.

Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai gangguan penerbangan maupun keterlambatan kepulangan.

Menurut laporan yang diterimanya, terdapat sejumlah jemaah yang dijadwalkan pulang dan akan tiba pada 3 Maret 2026.

“Memang ada yang jadwalnya pulang ke tanah air hari ini dan tiba besok. Tapi sampai sekarang belum ada laporan mereka tertunda. Informasinya dari teman-teman, penerbangan masih berjalan,” jelasnya.

Sebagian jemaah dijadwalkan kembali ke Tanah Air menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Baca juga: Saling Tuding di Teluk Persia, Drone Serang Saudi Aramco, Militer Iran Sebut AS Target Utama

Namun, jumlah pasti jemaah yang tengah dalam proses kepulangan belum dapat dipastikan karena belum ada laporan resmi yang masuk ke kantor Kemenhaj Balikpapan.

“Kami belum bisa menyampaikan detail jumlahnya karena belum ada laporan. Kalau ada kendala, biasanya mereka melapor. Sampai detik ini belum ada laporan penundaan,” ujarnya.

Kemenhaj Balikpapan juga mengimbau jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi dan memiliki kesempatan untuk segera kembali ke Indonesia agar memanfaatkan penerbangan yang tersedia.

Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada kebijakan otoritas Pemerintah Arab Saudi dan maskapai penerbangan. Jika terjadi pembatasan ataupun penutupan akses, jemaah perlu menyesuaikan aturan yang berlaku.

“Kalau memang bisa dipulangkan dan tidak ada hambatan, sebaiknya segera pulang daripada nanti tertahan di sana kalau situasi memburuk,” pungkasnya.

Situasi Arab Saudi

Perang Iran versus AS–Israel yang pecah Sabtu (28/2) memunculkan kekhawatiran akan situasi di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.

Dilaporkan, sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, menyebut penutupan sejumlah penerbangan menjadi penyebab utama.

“58 ribu lebih jemaah kita masih tertahan di Arab Saudi,” ucap Ichsan, Senin.

Sementara itu, Konjen RI Jeddah Yusron B Ambary memastikan situasi masih terpantau aman.

“Kondisi di wilayah kerja KJRI Jeddah, di Provinsi Ashir, Provinsi Makkah, dan Provinsi Tabuk, termasuk Kota Suci Makkah dan Madinah, masih terpantau relatif aman,” kata Yusron.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi Pemerintah Arab Saudi terkait peningkatan status keamanan dalam negeri.

“Aktivitas umum berjalan normal dengan peningkatan kewaspadaan sesuai standar keamanan yang berlaku,” sambungnya.

Bandara Internasional Jeddah juga dilaporkan masih beroperasi dan penerbangan langsung ke Indonesia tetap berjalan melalui Saudia, Garuda Indonesia, dan Lion Group.

Namun, sejumlah penerbangan tujuan atau transit ke Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Manama mengalami pembatalan.

KJRI Jeddah telah menerbitkan dua imbauan kewaspadaan, memantau perkembangan penerbangan, mengaktifkan pemantauan di kantong-kantong WNI, serta menyiapkan langkah kontingensi dan evakuasi bila diperlukan.

Baca juga: Dampak Konflik AS-Israel vs Iran, Kemenhaj Balikpapan Imbau Tunda Umrah

Perang Makin Membara

Satu pesawat Amerika Serikat (AS) ditembak jatuh di Kuwait di tengah kecamuk perang Iran vs Israel dan Washington.

Kabar jatuhnya pesawat AS tersebut dikonfirmasi oleh Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom), sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (2/3). 

Meski demikian, Centcom tidak merinci jenis pesawat apa yang ditembak jatuh di Kuwait.

"Awak pesawat berhasil melontarkan diri dari pesawat dengan selamat," kata pejabat Centcom dilansir dari Wall Street Journal. Selain satu pesawat AS, beberapa pesawat juga ditembak jatuh, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Kuwait. 

"Penyebab insiden tersebut masih dalam penyelidikan," lapor media pemerintah Kuwait. Serangan balasan Iran Iran membalas serangan yang telah dilancarkan AS dan Israel ke sejumlah negara-negara Teluk. Beberapa negara yang menjadi serangan balasan Iran adalah Oman, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, dan Qatar. 

egara-negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan udara yang menampung aset militer AS.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim seluruh target militer Israel dan AS di Timur Tengah dihantam oleh serangan dahsyat rudal Iran. 

"Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai musuh dikalahkan secara telak," bunyi pernyataan IRGC, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).  IRGC juga menegaskan, seluruh aset AS di kawasan kini dianggap sebagai target sah bagi militer Iran.

Ibadah Haji Bisa Terimbas

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran terhadap kelancaran ibadah ke Tanah Suci.

Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kalimantan Timur kini mencermati secara serius potensi dampak situasi tersebut, mengingat waktu keberangkatan yang kian dekat.

Kepala Kanwil Kemenhaj Kaltim, Mohlis Hasan, mengungkapkan bahwa meskipun persiapan terus berjalan, faktor keamanan di kawasan konflik menjadi perhatian utama.

Apalagi, hitung mundur menuju pelaksanaan rukun Islam kelima itu semakin dekat.

“Saat ini proses haji tinggal sekitar 54 hari lagi. Jika konflik ini berkepanjangan, tentu akan menjadi perhatian serius,” ujar Mohlis, Senin (2/3) sore.

Ia menyebutkan, hingga saat ini jadwal resmi belum mengalami perubahan. Jemaah direncanakan mulai masuk asrama embarkasi pada 25 April mendatang, disusul pemberangkatan kloter pertama sehari setelahnya.

Namun demikian, perkembangan situasi di jalur penerbangan dan negara tujuan terus dipantau secara ketat. Mohlis tidak menampik adanya kekhawatiran apabila eskalasi konflik tidak segera mereda. Menurutnya, aspek keamanan jemaah tidak bisa ditawar.

“Namun tentu kami terus memantau perkembangan situasi. Kalau perang terus berlangsung, saya khawatir. Jadi kita berdoa saja,” lanjutnya.

Ia menegaskan, secara prinsip pemerintah akan selalu mengambil langkah antisipatif apabila kondisi dinyatakan tidak kondusif.

Hal ini berkaitan erat dengan syarat istitha’ah (kemampuan), di mana keamanan jalur dan lokasi tujuan merupakan unsur mutlak yang harus terpenuhi.

“Dalam hukum Islam, ibadah haji dan umrah memiliki syarat wajib, yakni aman menuju dan di daerah tujuan, mampu secara finansial, serta sehat. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, maka kewajiban tersebut gugur,” jelasnya.

Di sisi lain, situasi yang memanas di Timur Tengah juga mulai berdampak pada rencana perjalanan umrah warga Kalimantan Timur.

Ancaman keamanan di ruang udara internasional memaksa otoritas terkait mengeluarkan imbauan penundaan demi keselamatan jemaah.

Baca juga: 58.000 Jemaah Umrah Tertahan di Arab Saudi Imbas Perang Iran vs Amerika, Ini Langkah Pemerintah

Mohlis menyebut kebijakan tersebut mengikuti arahan pusat terkait evaluasi jadwal maskapai akibat konflik Iran.

“Kuncinya adalah keselamatan. Seluruh jemaah umrah di Indonesia diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari maskapai penerbangan maupun Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU),” ujarnya.

Sejak 28 Februari lalu, lanjut dia, Kemenhaj telah menyarankan maskapai seperti Saudi Airlines, Garuda Indonesia, hingga Qatar Airways untuk menjadwal ulang, menunda, bahkan membatalkan penerbangan.

Langkah ini diambil karena jalur menuju Tanah Suci melintasi negara-negara yang kini menjadi zona konflik Iran–Israel.

Hingga kini, belum ada pergerakan keberangkatan baru dari Kalimantan Timur. Otoritas setempat masih menyisir data warga Benua Etam yang mungkin telah berada di Arab Saudi atau sedang dalam perjalanan.

Pendataan tersebut tidak mudah karena banyak jemaah Kaltim berangkat melalui pintu keluar Jakarta atau Surabaya, sehingga tidak seluruhnya terdata di daerah.

Mohlis menegaskan pihaknya enggan berspekulasi mengenai jumlah pasti jemaah yang terdampak sebelum data valid diterima.

Meski pendaftaran di PPIU masih berjalan, izin operasional tetap dipantau ketat. Sementara itu, teknis keberangkatan sepenuhnya bergantung pada kondisi global dan koordinasi pusat.

“Yang jelas, imbauan kami untuk sementara adalah menunda dulu keberangkatan umrah sampai situasi benar-benar aman. Kita harus melihat dulu apakah kondisi sudah kondusif atau belum,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah terus memantau situasi karena potensi gangguan keamanan jalur penerbangan menjadi pertimbangan utama, terutama dengan penggunaan teknologi perang jarak jauh dalam konflik saat ini.

Penundaan sangat disarankan bagi masyarakat yang telah merencanakan perjalanan hingga kondisi benar-benar aman.

“Kekhawatiran kami adalah potensi gangguan keamanan jalur penerbangan, apalagi saat ini perang sudah menggunakan teknologi jarak jauh,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.