Kondisi Kejiwaan Raihan Pembacok Farra Mahasiswi UIN Riau, Polisi Beber Fakta Mengejutkan: Introvert
Eri Ariyanto March 03, 2026 03:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Warga Kota Pekanbaru masih digemparkan oleh aksi kekerasan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap rekannya sendiri.

Korban, Faradhila Ayu Pramesti (23), mahasiswi UIN Suska Riau, menjadi sasaran pembacokan yang meninggalkan luka serius dan trauma mendalam.

Pelaku, Raihan Mufazzar (21), kini menjadi sorotan publik lantaran motif dan kondisi kejiwaannya mulai terkuak.

Polisi mengungkap fakta mengejutkan, Raihan Mufazzar dikenal sebagai sosok introvert yang jarang berinteraksi dengan orang lain.

Teman-teman kampus menyebutnya pendiam, tertutup, dan cenderung menyimpan emosi sendiri tanpa pernah menampakkan gejala agresi.

Meski begitu, tindakan kekerasan ini menunjukkan adanya ledakan emosional yang sebelumnya tak terlihat oleh lingkungan sekitarnya.

Pihak kepolisian kini terus mendalami latar belakang psikologis Raihan untuk memahami akar perilaku ekstremnya.

Kasus ini memicu diskusi hangat mengenai pentingnya deteksi dini gangguan mental di kalangan mahasiswa.

Baca juga: Profil Mahmoud Ahmadinejad, Presiden ke-6 Iran Tewas Diserang Israel-AS, Meninggal Bersama Pengawal

Tim Psikologi Biro SDM Polda Riau mulai mendalami kondisi kejiwaan Raihan Mufazzar (21), tersangka yang nekat membacok mahasiswi UIN Suska Riau bernama Faradilla Ayu Pramesti (23).

Pendampingan yang dilakukan pada Senin (2/3/2026) ini bertujuan untuk menelusuri latar belakang perilaku tersangka yang tega menyerang korban menggunakan kapak.

Peristiwa ini terjadi pada Kamis (26/2/2026) pagi di area kampus, saat Fara sedang bersiap mengikuti seminar proposal (sempro) tugas akhir KKN.

Tanpa peringatan, Raihan yang merupakan rekan satu jurusannya di Ilmu Hukum datang membawa kapak serta parang.

Ia menyerang Fara secara membabi buta hingga korban mengalami luka serius di kepala, lengan, dan punggung.

AKBP Dr. Winarko yang memimpin tim psikologi mengungkapkan bahwa Raihan merupakan sosok yang introvert.

Dari penelusuran sementara, tersangka diketahui tumbuh tanpa merasakan kehangatan yang cukup di lingkungan keluarganya.

Meski memiliki latar belakang tersebut, Raihan menunjukkan penyesalan saat menjalani proses pemeriksaan di tahanan.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, menyebutkan bahwa selain untuk kepentingan hukum, pemeriksaan ini penting untuk menjaga stabilitas mental semua pihak yang terlibat.

"Pendampingan ini bertujuan memastikan proses berjalan secara menyeluruh, baik dari sisi hukum maupun pemulihan psikologis," ujar Pandra.

Sementara proses hukum berjalan, Polda Riau juga fokus pada pemulihan Faradilla yang masih dirawat di RSUD Arifin Achmad.

Tim psikologi menerapkan metode Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) untuk membantu korban mengatasi rasa cemas dan bayangan ketakutan akibat kekerasan yang dialaminya.

Pandra mengingatkan pentingnya komunikasi di dalam keluarga agar tekanan pribadi seorang anak tidak berujung pada tindakan kriminal.

"Pengawasan, komunikasi, dan kehangatan keluarga merupakan faktor penting agar persoalan pribadi tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan," pungkasnya.

PEMBACOKAN MAHASISWA - Mahasiswa UIN Suska Riau nekat asah kapak demi habisi nyawa korban, padahal sempat unggah foto mesra dan lagu cinta obsesif sehari sebelum pembacokan.
PEMBACOKAN MAHASISWA - Mahasiswa UIN Suska Riau nekat asah kapak demi habisi nyawa korban, padahal sempat unggah foto mesra dan lagu cinta obsesif sehari sebelum pembacokan. (TribunnewsBogor.com/TikTok)

Dinamika Hubungan Sepihak

Penyelidikan polisi mengungkap bahwa Raihan dan Fara sebenarnya sempat memiliki kedekatan, namun hubungan tersebut mulai merenggang sejak November 2025.

Perubahan sikap Fara membuat Raihan menarik diri dari lingkungan hingga memutuskan berhenti aktif kuliah pada periode tersebut.

Raihan diduga memiliki persepsi bahwa kedekatan mereka di masa lalu berarti ia sudah memiliki Fara sepenuhnya.

Sementara itu, Fara yang dikenal ceria dan mudah bergaul tetap menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.

"Kami tanyakan hubungan seperti apa, tersangka menyatakan dia merasa lebih dari sekadar teman, namun korban sendiri tidak merasakan hal yang sama," kata Kasatreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah.

Saat menjalani interogasi awal, Raihan sempat berkilah dan mengaku tidak berniat menghabisi nyawa Fara. 

Setelah ditekan, Raihan akhirnya memberikan pengakuan yang berbeda.

Saat penyidik bertanya tanpa menyorotkan kamera secara langsung, Raihan spontan menganggukkan kepala ketika ditanya apakah targetnya memang ingin membunuh korban.


(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.