Oleh: Salman Ahmad
SEORANG teman pernah berkata dengan ringan, hampir sambil tertawa: “Kalau saya marah, tidak pernah saya simpan di hati. Habis marah, ya sudahmi".
Ia merasa selesai.
Seperti hujan sebentar yang lalu reda.
Seperti asap yang naik lalu lenyap di udara.
Barangkali ia menyangka kemarahan adalah peristiwa pendek.
Kata-kata kasar yang terlempar itu seperti batu kecil yang jatuh ke sungai deras, ditelan arus, hilang, tak berbekas.
Tapi benarkah begitu? Atau justru batu itu mengendap, pelan-pelan mengubah alur air?
Kata yang digunakan Al-Qur’an untuk dosa, salah satunya, adalah dzanb (ذنب).
Dalam bahasa Arab, dzanb juga berarti “ekor”.
Ekor berada di belakang.
Kita jarang melihatnya.
Namun ia menyusun rekam jejak.
Selalu ikut ke mana tubuh bergerak.
Ia tak pernah benar-benar tertinggal.
Dosa adalah ekor kita.
Ia mungkin tak tampak dari depan, tertutup oleh senyum, jabatan dan juga reputasi.
Tetapi ia mengikuti.
Diam-diam.
Setia.
Ketika seseorang berbohong, ucapannya mungkin selesai dalam satu tarikan napas.
Tapi ekornya tinggal.
Ketika seseorang melukai dengan kata-kata, mungkin ia merasa itu sekadar ledakan sesaat.
Namun pada hati yang disakiti, ada bekas.
Pada dirinya sendiri, ada perubahan yang nyaris tak terasa, seperti retakan kecil di cermin, yang lama-lama membuat bayangan tak lagi jernih.
Para ulama berbicara tentang atsar, bekas pada qalb.
Dalam sebuah hadis disebutkan: setiap dosa menorehkan titik hitam di hati.
Jika bertobat, ia dibersihkan.
Jika diulang, titik itu bertambah, hingga hati tertutup.
Dosa bukan sekadar pelanggaran hukum.
Ia cenderung mengubah batin.
Barangkali inilah yang luput dari kesadaran teman saya.
Bahwa kemarahan yang katanya “tidak disimpan di hati” justru menyimpan sesuatu di dalam dirinya.
Bukan sebagai ingatan yang disadari, melainkan sebagai jejak yang pelan-pelan membentuk watak.
Dalam Surah Al-Isrā’ ayat 13–14, kita membaca: setiap manusia “dikalungkan” amalnya di lehernya, dan pada hari Kiamat ia diminta membaca kitabnya sendiri.
Tidak ada yang tercecer.
Tidak ada yang menguap.
Semua melekat, seperti kalung yang tak bisa dilepas.
Al-Qur’an menyebut amal itu terkalung di leher.
Gambarannya konkret, hampir fisik.
Sesuatu yang tak bisa kita lempar jauh.
Lalu kelak, kitab itu dibuka.
“Bacalah kitabmu.”
Tidak ada jaksa, tak ada pembela.
Hanya kita dan diri kita sendiri.
Membaca diri sendiri, itu barangkali yang paling sulit.
Kesadaran tentang ekor ini bukan untuk menjerumuskan kita ke dalam kecemasan tanpa ujung.
Jika dosa punya ekor, kebaikan pun demikian.
Satu sedekah kecil mungkin melahirkan keberkahan panjang.
Satu kalimat lembut bisa menjadi awal persaudaraan abadi yang tak kita sangka.
Dan satu taubat yang tulus bisa memotong ekor kotor, yang selama ini telah mengikuti langkah kita dalam waktu yang lama.
Di hari ke tigabelas Ramadhan ini, kita perlu berhenti sejenak sebelum melangkah.
Sebab setiap langkah akan selalu menyeret sesuatu di belakangnya.
Setiap kata menumbuhkan bayangan.
Dan mungkin, sebelum tiba hari ketika kita diperintah membaca kitab itu, ada baiknya kita mulai belajar membaca diri pelan-pelan, tanpa alibi.
Sebab dosa, seperti ekor, tak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu kita menyadarinya, lalu menengadahkan tangan memohon agar dipotong, oleh tobat yang sebenarnya.
Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa. (*)