Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Hampir semua konten dalam media sosial memiliki karakternya masing-masing. Kita hidup di zaman yang hemat saya “terang,” tetapi sering tidak “melihat.”
Cahaya layar menyinari wajah manusia hampir setiap saat tetapi pada waktu yang sama juga menutupi kedalaman jiwanya.
Dunia yang kita diami saat ini bergerak dalam “kecepatan notifikasi, dalam irama viralitas yang merdu, dalam godaan untuk selalu tampil seru pula.”
Baca juga: Ramalan Zodiak Besok 4 Maret, 8 Beruntung Capricorn Sulit Temukan Keseimbangan,Gemini Ada Kabar Baik
Dalam koridor digital, media sosial tidak lagi sekadar ruang komunikasi dan tempat berbagi rasa, ia telah menjelma menjadi “ruang eksistensi.”
Di sana, manusia menjadi budak untuk memperoleh pengakuan, membangun citra, dan berlomba-lomba untuk dilihat.
Dalam lingkaran ini, saya melihat bahwa ada suatu budaya baru yang lahir, budaya itu bernama “budaya monetisasi diri.” Hal ini terlihat aneh, namun realitas yang ada dengan jelas telah menunjukan “keanehannya itu.”
Segala hal dapat menjadi konten, segala pengalaman dapat dijual, bahkan yang sering saya lihat di media sosial, yang terksesan absurd, konyol, dan tidak patut ditiru pun diproduksi demi “ FYP”, demi algoritma, dan demi kemungkinan menjadi viral.
Panorama yang kompleks ini bukan sekadar tren yang lewat tanpa permisi, melainkan gejala zaman yang perlahan mengkonstruksi “cara manusia memandang dirinya.”
Nilai hidup kini diukur oleh angka, sebut saja seperti (pengikut, like, share, dan view yang berkilau sesaat).
Privasi yang dulu dijaga seperti ruang sunyi, kini dibuka tanpa ragu dan tak takut sedikit pun.
Penderitaan dipertontonkan, dan kehidupan percintaan berubah menjadi tontonan publik. Semua ini terjadi bukan karena paksaan, tetapi karena janji perhatian, uang, dan popularitas yang terasa manis dan memanjakan.
Dengan demikian, hemat saya, di tengah situasi yang gemerlap ini, tersisa satu pertanyaan yang hening namun tajam, apakah manusia masih menjadi subjek yang merdeka, atau telah berubah wujud menjadi komoditas di tempat yang bernama “pasar digital?”
Media sosial dalam paradigma manusia modern sering dipuji atau yang lebih ekstrim lagi didewakan sebagai “ruang kebebasan.” Setiap orang dapat berbicara, berkreasi, dan menampilkan diri.
Namun kebebasan ini secara implisit menyimpan di dalam arsipnya sebuah hal yang memuat unsur paradoksal. Apa yang terlihat sebagai ruang tanpa batas, sesungguhnya dikendalikan oleh algoritma.
Manusia mengatakan “saya sungguh bebas,” tetapi pada saat yang sama, “pilihan-pilihannya dikemudikan oleh sistem algoritma.”
Apa yang tampil di beranda, apa yang dianggap menarik, bahkan apa yang dianggap normal, semuanya dibentuk oleh sistem yang tidak terlihat.
Hal ini terkesan memiliki benang merah atau satu kesatuan algoritmik, bahwa kebebasan berubah menjadi kebiasaan yang dikondisikan.
Orang mulai menyesuaikan diri dengan “selera enak algoritma,” membuat konten yang sensasional, memperbesar dramatisasi, menormalisasi perilaku ekstrem.
Keotentikan atau keaslian dikorbankan demi visibilitas, etika dikaburkan demi “peluang viral.” Tanpa disadari, manusia tidak lagi bertanya tentang makna, tetapi tentang “jangkauan luas.”
Ia tidak lagi bertanya tentang Verum¸(kebenaran), tetapi tentang engagement. Ini bentuk kekuasaan baru, kekuasaan yang tidak memaksa, tetapi menggoda.
Mekanismenya berjalan secara halus, ia tidak menindas tubuh, tetapi membentuk keinginan, ia tidak membungkam suara, tetapi mengarahkan suara.
Ia membuat manusia merasa otonom, padahal ia bergerak dalam samudra yang telah ditentukan “ombak algoritma.”
Kultur yang tentu saja dikenal oleh semua pengguna media sosial yakni “kultur FYP” telah melahirkan ekonomi perhatian.
Dalam kerangka ekonomi yang saya maksud ialah hal yang paling ekstrim sering menjadi pemenang.
Contoh konkret yang dapat kita jumpai, hal-hal konyol, berbahaya, bahkan ada yang tidak memuat unsur-unsur etis untuk dikonsumsi publik, diproduksi dan disebarkan karena terbukti menghasilkan uang.
Tubuh, emosi, dan kehidupan pribadi menjadi sumber kapital. Orang dengan “tahu, mau, dan sadar” rela mempermalukan diri sendiri, membuka luka, bahkan mempertontonkan “kebodohan,” selama algoritma memberi imbalan.
Dalam lanskap inilah martabat manusia berada dalam “degradasi makna yang otentik.”
Kalau kita belajar atau pernah membaca dalam perbudakan zaman dahulu, baik dalam mitologi Yunani sampai ke masa kekaisaran Romawi, perbudakan itu merampas kebebasan fisik.
Namun berbeda cerita dengan “perbudakan zaman digital ini,” yang secara lembut “meninabobokan manusia dengan imbalan, secara implisit menelanjangi “rasionalitas yang utuh.”
Manusia tidak lagi dipaksa, ia justru menikmati kenikmatan itu, yang secara lembut “sedang memenjarakan manusia itu sendiri.” Ia merasa berdaulat, padahal ia menyesuaikan diri dengan sistem.
Ia merasa kreatif, padahal ia mengikuti pola, ia merasa mendapatkan uang, padahal yang sebenarnya terjadi adalah “eksploitasi diri.”
Secara psiko-sosial, fenomena ini pelan-pelan mengubah cara kita berelasi, orang tidak lagi datang sebagai pribadi, tetapi hadir sebagai audiens dalam wujud “followers dan haters” yang terus menilai.
Empati bergeser menjadi konten, tragedi berubah menjadi hiburan, dan sensasi menggantikan hangatnya solidaritas.
Hemat saya, dunia terasa seperti panggung tanpa jeda, sementara manusia “saling menonton satu sama lain,” seolah-olah hidup ibarat live streaming yang tak pernah dimatikan.
Di momen ini, lahir kecemasan baru yakni, kita makin sulit hidup tanpa “sorotan,” takut tenggelam dalam sunyi yang berkepanjangan, karena eksistensi terasa nyata hanya ketika dilihat dan diberi “bingkai validasi yang mengenakan algoritma semata.”
Berabad-abad lalu, dalam lingkaran pemikiran Yunani Kuno, Plato seorang Filsuf besar Yunani kuno, dalam pandangan epistemologinya menggambarkan manusia sebagai tahanan dalam sebuah gua.
Plato lebih lanjut menjelaskan bahwa mereka yang terbelenggu atau terkurung dalam gua, menghadap dinding, dan hanya melihat bayangan mereka sendiri yang sedang diproyeksikan.
Karena tidak pernah melihat dan mengalami dunia luar, mereka mengira bahwa bayangan itu adalah realitas atau kenyataan yang utuh.
Hemat saya, di momen ini muncul suatu ironi, tragedi terbesar bukan rantai di kaki, tetapi “ketidaktahuan bahwa mereka hidup dalam ilusi.”
Kita kembali sedikit dalam topik mendasar kita yakni, “media sosial.” Dalam era media sosial saat ini, metafora gua yang dijelaskan Plato berabad-abad lalu itu berubah bentuk. Ia bukan lagi ruang gelap, melainkan layar bercahaya.
Manusia saat ini duduk berjam-jam, menatap citra, sensasi, dan drama. “FYP” menjadi dinding baru tempat bayangan diproyeksikan sesuai selera dan kebutuhan personal.
Algoritma menentukan apa yang dilihat, apa yang dianggap penting, dan apa yang dianggap nyata.
Banyak orang tidak lagi mengalami hidup secara langsung, tetapi melalui “representasi” yang dipilihkan bagi mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak, marah, dan bersedih terhadap dunia yang telah “dikurasi.”
Kultur monetisasi sekali lagi hemat saya memperdalam penjara ini. Manusia tidak hanya melihat bayangan, tetapi juga memproduksi bayangan. Ia menciptakan versi diri yang lebih menarik, lebih dramatis, lebih viral.
Ia hidup bukan demi kebaikan, melainkan demi popularitas. Dalam kondisi ini, manusia bukan hanya tahanan, tetapi juga “penjaga penjara.” Ia memperkuat sistem yang mengikat atau membelenggunya karena sistem itu memberinya “finansialitas yang cukup.”
Plato percaya bahwa kebebasan dimulai ketika seseorang berani “keluar dari gua,” menggapai “cahaya kehidupan yang utuh, tidak terkontaminasi dengan bayang visual digital yang memenjarakan.”
Namun dunia digital sering membuat manusia takut pada realitas. Dunia nyata terasa lambat dan sunyi, sementara dunia virtual menawarkan sensasi instan dan pengakuan cepat.
Dalam konteks inilah wajah baru “perbudakan” muncul, manusia memilih bayangan, karena bayangan terasa lebih menyenangkan daripada kebenaran.
Pada akhirnya, di penghujung tulisan ini, tugas etis manusia zaman ini bukan hanya menggunakan teknologi, tetapi “menguji dirinya sendiri.”
Apakah kita hidup dalam terang, atau masih terperangkap dalam gua ilusi yang diperbudak oleh ketidaktahuan kita akan martabat yang utuh?
Apakah kita bebas, atau hanya merasa bebas? Seperti pertanyaan Plato berabad-abad lalu, kebijaksanaan bukan terletak pada banyaknya bayangan yang kita lihat, tetapi pada keberanian meninggalkan ilusi.
Karena martabat manusia tidak lahir dari “sorotan layar,” melainkan dari “kesadaran untuk hidup otentik di dunia nyata, di mana bebas dari gua ilusi yang memenjarakan.” (*)