BANJARMASINPOST.CO.ID - Pedangdut Inul Daratista resah nasib bisnisnya imbas perang AS-Israel kontra Iran sejak Sabtu (28/2/2026).
Istri Adam Suseno itu juga mengaku khawatir memikirkan nasib bisnisnya.
Memang, militer Iran mengalami guncangan hebat setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan udara terkoordinasi pada Sabtu (28/2/2026).
Penyebabnya, serangan itu sampai menewaskan beberapa tokoh penting termasuk pemimpin tertinggi mereka yakni Ayatollah Ali Khamenei.
Tak tinggal diam, Iran lantas membalas serangan Israel pada Minggu (01/03/2026).
Militer Iran diketahui menembakkan ribuan rudal dan drone ke berbagai arah. Mereka menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Baca juga: Komentari Perang AS-Israel Vs Iran, Rhoma Irama Kutip Ayat Al Quran: Permainan dan Senda Gurau
Inul bahkan langsung overthingking (memikirkan sesuatu secara berlebihan) terutama terkait nasib bisnis yang dijalaninya. Imbasnya, Inul sampai merasa meriang dan khawatir.
Di akhir kalimatnya, Inul Daratista juga mengucapkan turut berduka cita dengan kematian Ayatollah Ali Khamenei.
"Gak ikut perang ikut tegang, awak capek kerja seharian di + nonton lapak beranda isine perang."
"Aku sih saking mikirnya kemana mana jadi nyemil krupuk sama semangkuk bumbu pecel habis seplastik. Semoga semua kembali baik, turut berduka, Alfatihah buat yg wafat syahid," tulisnya.
Di sisi lain, Inul Daratista mengaku menunda rencananya untuk umrah di bulan suci Ramadan lantaran konflik Israel-Iran.
Meski sudah menyiapkan hotel, tiket pesawat dan pengurusan visa, Inul memilih menundanya demi keselamatan.
"Inshaa Allah plan Umroh aku sekeluarga tertunda / sementara tdk jadi alias cancel. Padahal kurang 2 minggu lagi, baik hotel, ticket pesawat dan pengurusan Visa smua beres tinggal berangkat."
"Saking sayangnya Allah sama aku dan keluarga, utk tdk jd berangkat. Uang bisa dicari tapi keselamatan lebih penting daripada astagfirullah hal adziim Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun
La illaa ha illallah. Allah masih sayang sama aku dan keluarga. Semoga semua kembali baik, inshaa Allah."
"Allahu Akbar Semoga jamaah yang tertinggal di makkah madinah ataupun yang dalam perjalanan pulang diberi keselamatan dan kelancaran," tambahnya.
"Alhamdulillah bunda dan keluarga masih dalam lindungan Allah," tulis akun @daf***.
"Yang terjadi yang terbaik sekalipun kehilangan. Semoga seht sllu bunda Inul," tambah akun @ria***.
"Semoga segera membaik aamiin," tambah akun @ida***.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rimawan Pradiptyo, menilai dampak konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi berlangsung lama dan meluas.
Ia mengingatkan pemerintah agar berhati-hati melihat berbagai kemungkinan dampak dari konflik tersebut.
Rimawan mengatakan, retaliasi dari Iran seiring dengan tewasnya Ali Khamenei membuat eskalasi konflik semakin memanas. Retaliasi itu juga disebut telah merambah sejumlah negara Teluk dengan menyasar instalasi-instalasi Amerika Serikat.
"Dan saya melihat sepertinya ini akan lama. Dampaknya akan lama, dampaknya juga akan luas. Ini yang jadi masalah," ujar Rimawan saat ditemui di Balairung UGM, Senin (2/3/2026).
Dari sisi ekonomi, Rimawan menilai konflik tersebut berpotensi mengganggu suplai minyak dunia.
Selain itu, berbagai sektor bisnis juga bisa terdampak, termasuk jasa pemberangkatan umrah.
Ia menegaskan pemerintah perlu berhati-hati dalam membaca berbagai kemungkinan dampak yang muncul akibat perang tersebut.
"Nah ini yang kita belum tahu sampai sedalam apa kemudian dampaknya ini. Tapi bagi pemerintah ini perlu hati-hati untuk melihat berbagai kemungkinan dampak dari perang itu sendiri," tuturnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi global saat ini masih berada dalam fase kontraksi dan ke depan berpotensi semakin sulit.
"Saat ini kan sebenarnya ekonomi itu masih dalam kontraksi juga. Bahwa itu perekonomian jadi sulit secara global lebih sulit dari yang kemarin, iya. Pasti ya. Apakah sampai ke resesi saya belum tahu," urainya.
Rimawan menyarankan pemerintah untuk mengevaluasi berbagai kebijakan yang selama ini membutuhkan anggaran besar guna meminimalkan dampak konflik.
"Ya sebenarnya pemerintah perlu mengevaluasi berbagai kebijakan yang selama ini mungkin terlalu costly. Ya mohon maaf, kan kita itu dari sudut penerimaan negara itu sudah sub optimum. Penerimaan negaranya kan nggak tinggi," ucapnya.
"Terus sekarang masih ada kemungkinannya kontraksi ekonomi akibat perang dan lain sebagainya. Ini kan kita harus memikirkan untuk mengencangkan ikat pinggang," imbuhnya.
Ia menekankan kebijakan yang diambil ke depan seharusnya benar-benar berdasarkan kebutuhan riil, bukan sekadar agenda politik.
"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah kebijakan yang diperlukan itu apa sih sebenarnya. Bukan yang menjadi agenda politik. Kita sudah lupakan itu agenda janji politik di masa lalu seharusnya harus diganti karena situasinya sudah berbeda sekarang. Dengan perang sekarang itu sudah berbeda," ucapnya.
Menurut Rimawan, pemerintah perlu melihat kembali situasi terkini dan melakukan realokasi anggaran agar lebih tepat sasaran.
"Semua orang akan paham ya kalau misalkan pemerintah menghentikan beberapa kebijakan yang selama ini mungkin membutuhkan dana yang demikian besar, mungkin perlu dievaluasi lagi untuk melihat apakah kita akan ngerem untuk kemudian mengalokasikan dengan cara yang lebih baik," pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com/Grid.id)