BPS Catat Inflasi NTT 0,45 Persen pada Februari 2026, Kupang Tertinggi
Eflin Rote March 03, 2026 10:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan

POS-KUPANG.COM, KUPANG – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk Februari 2026. Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), NTT mengalami inflasi sebesar 0,45 persen dibandingkan Januari 2026.

Selain inflasi bulanan, secara tahunan atau year-on-year (yoy) Februari 2026, inflasi NTT tercatat sebesar 3,42 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 1,1 persen secara bulanan dan masih tergolong relatif terkendali jika dibandingkan angka nasional.

Berdasarkan wilayah cakupan pendataan harga, inflasi terjadi di seluruh daerah sampel di NTT. Kota Kupang tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi sebesar 0,71 persen. Sementara Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengalami inflasi terendah yakni 0,03 persen.

Matamira mengatakan, perbedaan tingkat inflasi antarwilayah menunjukkan adanya variasi tekanan harga yang dipengaruhi faktor distribusi, pasokan, serta kondisi pasar lokal di masing-masing daerah.

Kenaikan inflasi Februari 2026 juga dipengaruhi faktor pembanding pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada awal tahun lalu terdapat kebijakan diskon tarif listrik yang menekan harga. Ketika kebijakan tersebut tidak lagi berlaku, terjadi penyesuaian harga yang turut mendorong inflasi secara tahunan.

Baca juga: TPID NTT Perkuat Koordinasi Pengendalian Inflasi untuk NTT yang Lebih Sejahtera

Secara umum, inflasi Februari dipicu kenaikan harga pada 11 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama.

Komoditas pangan yang fluktuatif dipengaruhi permintaan konsumen, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, hingga faktor cuaca.

Beberapa komoditas yang memberi andil terhadap inflasi antara lain emas perhiasan dengan kontribusi 0,22 persen, cabai rawit 0,11 persen, ikan kembung 0,09 persen, kangkung 0,07 persen, serta sawi hijau 0,06 persen.

Menurut Matamira, kenaikan harga cabai dan sayuran hijau menunjukkan adanya tekanan pada sektor pangan segar, sedangkan kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi pergerakan harga emas di pasar global.

Ia menegaskan, BPS akan terus melakukan pemantauan harga secara berkala guna memastikan perkembangan inflasi tetap terkendali serta menyediakan data akurat bagi pemerintah dan masyarakat dalam pengambilan kebijakan. (uan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.