Harga Emas di Banjarmasin Stabil Saat Konflik Timur Tengah, Sempat Turun Karena Isu Tambang Ilegal
Irfani Rahman March 03, 2026 08:45 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat belum berdampak terhadap perekonomian di Kalimantan Selatan. Harga emas yang biasa reaktif belum memperlihatkan kenaikan di Banjarmasin.

Muhammad Qurtubi, pedagang di Toko Al-Mubarak Pasar Sentra Antasari, yang berjualan sejak 2013, mengatakan harga emas kadar 99 saat ini Rp 2,6 juta per gram. “Harganya turun sekitar satu minggu lalu dan stabil hingga kini,” ujarnya, Senin (2/3).

Menurut Qurtubi, penurunan tersebut terjadi dipengaruhi faktor di dalam negeri. “Terutama saat ramai isu tambang ilegal di Pulau Jawa,” ujarnya.

Aktivitas jual beli juga dirasakan Qurtubi masih normal. Ia malah memperkirakan harga emas cenderung stabil hingga sepekan ke depan. Perubahan signifikan kemungkinan baru terjadi mendekati atau setelah Idulfitri 1447 Hijriah

Meski ada pembatasan penerbangan di Timur Tengah, jemaah umrah asal Indonesia tidak terhambat untuk pulang ke Tanah Air.

Baca juga: Sabar sebagai Ibadah

Direktur Utama PT Albis Indonesia, Banjarbaru, Utami Dewi, mengatakan belum ada info penundaan dari maskapai. “Jemaah kami yang masih di Makkah berjumlah 28 orang, dengan jadwal kembali tanggal 8 Maret,” katanya, Senin. Dia pun berharap jemaahnya tetap bisa beribadah dengan tenang dan pulang dengan selamat.

Hj Gusti Barlian, yang merupakan pemimpin jemaah Haramain Thoyyibah Wisata, mengatakan mereka sedang di Makkah dan dalam kondisi aman.

“Saya bawa 40 orang. Kemarin keliling Makkah. Aman dan lancar saja,” ujarnya seraya mengatakan akan kembali ke Kalsel pada 25 Maret.

Ketua Penyelenggara Travel Umrah dan Haji (Patuh) Kalsel, Saridi, mengaku belum mendapat informasi adanya jemaah kalsel yang terdampak konflik.

“Sejauh ini travel dari Kalsel menggunakan maskapai yang tidak melewati atau transit di negara terdampak seperti Uni Emirat Arab (UEA),” jelasnya. Dia menerangkan jemaah Kalsel biasanya menggunakan maskapai Garuda, Saudi Airlines, Lion, Batik dan Air asia.

Berbeda dengan anggota jemaah asal Samarinda, Kaltim, yang tertunda kepulangannya akibat jadwal penerbangan mengalami gangguan.

Fahriah, saat dihubungi, mengatakan semula mereka dijadwalkan terbang pulang pada Minggu (1/3) melalui Bandara King Abdulaziz, Jeddah. “Tapi karena situasi yang terjadi, jadwalnya ditunda. Kami hanya bisa bersabar. Terpenting penginapan dan makanan tetap dijamin,” ujarnya. Ia pun kerap membagikan kondisinya di Tanah Suci, termasuk kepada keluarga di Banjarmasin.

Penerbangan di Turki juga terganggu. Verawati, warga asal Banjarmasin, yang menikah dengan warga Turki, mengatakan ada pembatasan bahkan pelarangan bepergian di negara ini.

“Sebenarnya saya dan anak-anak diizinkan suami pulang ke Tanah Air demi keamanan. Soalnya kami tinggal di Kota Mardin, yang berbatasan langsung dengan Suriah,” kata ibu delapan anak ini, Senin.

Mardin berada di tenggara Turki dan hanya berjarak 35 kilometer dengan Suriah, yang kerap berperang dengan Israel. Sampai sekarang hubungan kedua negara tersebut tidak baik.

“Dikhawatirkan, jika konflik melebar, Suriah bisa berperang kembali dengan Israel,” ujar perempuan yang populer di medsos dengan konten anak bule Turki berbahasa Banjar.

Sedang Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalsel menyatakan belum mendapat informasi perang di Timur Tengah berdampak terhadap pekerja asal provinsi ini. Kepala BP3MI Kalsel, Ady Eldiwan, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan serta berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri. “Alhamdulillah sampai saat ini untuk PMI asal Kalsel yang terdampak belum ada laporan,” ujarnya, Minggu.

Eskalasi konflik antara Iran dan Israel-AS berpotensi memicu dampak tidak langsung hingga ke Indonesia, termasuk Kalsel. Konflik  diperkirakan memunculkan sentimen solidaritas keagamaan di masyarakat.

Pengamat Timur Tengah dari UIN Antasari Banjarmasin, Ahmad Muhajir, menilai konflik tersebut berpotensi memunculkan peningkatan solidaritas masyarakat muslim di Kalsel terhadap negara-negara yang dianggap menjadi korban konflik di Timur Tengah.

“Jangan lupa saat ini adalah bulan Ramadan, di mana masyarakat muslim banyak berkumpul di masjid dan langgar. Pastilah pembicaraan mengenai konflik Timur Tengah muncul di tengah acara kumpul-kumpul,” kata Dosen Ilmu Politik Fakultas Syariah ini, Senin (2/3/2026).

Ia memperkirakan bentuk solidaritas yang paling terlihat adalah melalui doa bersama, termasuk pembacaan Qunut Nazilah dalam salat berjemaah. “Minimal sekali akan banyak jamaah yang mendoakan kehancuran musuh-musuh Islam, baik secara khusus melalui Qunut Nazilah atau doa-doa setelah salat dari atas mimbar,” katanya.

Selain doa bersama, Muhajir juga memperkirakan seruan boikot terhadap produk yang dianggap terkait AS dan Israel kembali muncul di tengah masyarakat. “Artinya tidak beli KFC, McD atau produk yang dianggap terkait AS dan Israel,” ujarnya. (sul/dea/msr)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.