AS Minta Bantuan NATO Serang Iran, Spanyol, Turki, Prancis, Jerman, Inggris Menolak, Trump Kecewa
Ansari Hasyim March 03, 2026 09:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM - Menteri Perang  AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa sejumlah sekutu tradisional Amerika Serikat “ragu-ragu dalam penggunaan kekuatan” ketika Washington terus melanjutkan kampanyenya terhadap Iran. 

Hal ini memunculkan pertanyaan baru tentang soliditas NATO di tengah eskalasi yang terjadi.

Spanyol menolak memberikan izin kepada AS untuk menggunakan sejumlah pangkalan militernya guna melancarkan serangan ke Iran. 

Madrid menyerukan deeskalasi dan kepatuhan terhadap hukum internasional. 

Baca juga: Enam Tentara AS Tewas dalam Operasi Militer Melawan Iran, Trump Siapkan Serangan Lebih Besar

Turki juga mengkritik operasi tersebut dan memperingatkan potensi destabilisasi kawasan yang lebih luas. 

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, mengatakan dirinya “bersedih” atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dan membantah bahwa wilayah Turki digunakan dalam serangan tersebut.

Dalam pernyataan yang dirilis Sabtu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa “pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membawa konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.” 

Ia menambahkan, “Eskalasi yang sedang berlangsung berbahaya bagi semua pihak. Ini harus dihentikan.”

Hegseth Tegaskan Misi Tiga Bagian yang “Jelas”

Dalam konferensi pers hari Senin, Hegseth membandingkan Israel dengan sekutu-sekutu yang ia nilai ragu-ragu. 

“Israel memiliki misi yang jelas, dan untuk itu kami berterima kasih. Mitra yang mampu adalah mitra yang baik, tidak seperti banyak sekutu tradisional kita yang gelisah dan terus ragu dalam penggunaan kekuatan,” ujarnya.

Presiden AS Donald Trump juga menyuarakan kekecewaannya terhadap keraguan para sekutu. 

Dalam wawancara dengan The Daily Telegraph, Trump mengatakan dirinya “sangat kecewa” terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer karena sempat memblokir penggunaan pangkalan Inggris oleh AS, dan menilai Starmer membutuhkan “waktu terlalu lama” untuk mengubah sikap.

Inggris kemudian mengizinkan penggunaan fasilitas penting, termasuk Diego Garcia, setelah sebelumnya menyampaikan keberatan hukum dan menyusul serangan drone terhadap RAF Akrotiri di Siprus.

NATO Disebut Hadapi Titik Balik Kritis

Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization, Mark Rutte, berupaya meredam kesan adanya perpecahan.

“Saya berbicara dengan semua pemimpin utama Eropa selama akhir pekan,” kata Rutte kepada Fox News. “Ada dukungan luas terhadap apa yang dilakukan presiden.”

Ia menambahkan bahwa Eropa “meningkatkan langkah dan melakukan apa yang diperlukan agar operasi ini dapat berjalan serta memberikan dukungan yang dibutuhkan.”

Namun, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengambil nada lebih berhati-hati. 

Ia memperingatkan bahwa serangan tersebut berisiko berubah menjadi kebuntuan seperti di Irak atau Afghanistan, dengan Eropa harus menanggung konsekuensinya. 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Berlin tidak akan “menguliahi” AS dan mengakui dilema yang dihadapi Washington.

Desakan untuk Dukungan Nyata

Justin Fulcher, mantan penasihat senior Hegseth, menyebut situasi ini sebagai “titik belok yang sangat kritis di mana NATO seharusnya bertindak secara bersatu mendukung apa yang dilakukan Amerika Serikat.”

Menurutnya, persatuan yang terlihat jelas akan mengirim pesan kuat bukan hanya kepada Teheran, tetapi juga kepada rival geopolitik lain yang mengamati respons aliansi di bawah tekanan.

Fulcher juga menilai Eropa memiliki kepentingan strategis besar dalam melemahkan kemampuan Iran, mengingat ancaman rudal balistik dan terorisme yang disponsori negara lebih sering berdampak langsung ke kawasan tersebut.

“Beberapa sekutu Eropa kita bisa melakukan lebih banyak, bukan hanya mendukung dengan kata-kata yang seharusnya menjadi standar minimum tetapi juga dengan tindakan nyata,” pungkas Fulcher.

Tentang NATO

NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara adalah aliansi militer yang dibentuk pada 4 April 1949. 

Tujuan utamanya adalah pertahanan bersama antarnegara anggotanya.

Tujuan Utama NATO

Inti dari NATO adalah prinsip pertahanan kolektif, yang tertuang dalam Pasal 5 perjanjian NATO:

Jika satu negara anggota diserang, maka itu dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Artinya, semua negara anggota wajib membantu negara yang diserang.

Siapa Saja Anggotanya?

Saat ini NATO memiliki 30 lebih negara anggota, terutama dari:

Amerika Utara (Amerika Serikat & Kanada)

Eropa (Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Turki, dan lainnya)

Beberapa negara besar anggota NATO antara lain:

Amerika Serikat

Inggris

Prancis

Jerman

Turki

Markas besarnya berada di Brussels, Belgia.

Mengapa NATO Dibentuk?

NATO dibentuk setelah Perang Dunia II untuk:

Mencegah ekspansi Uni Soviet (era Perang Dingin)

Menjaga stabilitas dan keamanan Eropa

Memperkuat kerja sama militer antarnegara Barat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.