TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Golkar, Aprozi Alam, meminta ribuan jemaah umrah Indonesia di Arab Saudi tetap tenang dan bersabar menghadapi potensi keterlambatan jadwal kepulangan ke Tanah Air, menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Diketahui, ketegangan meningkat pascaserangan Israel yang didukung Amerika Serikat ke Iran.
Situasi tersebut memicu serangan balasan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa titik, termasuk di Riyadh, Arab Saudi.
“Kami mengimbau kepada jemaah umrah yang masih berada di Arab Saudi, baik itu di Madinah maupun Mekkah, agar kiranya dapat bersabar, seandainya ada keterlambatan kepulangan para calon jemaah disebabkan oleh eskalasi perang di Timur Tengah," kata Aprozi kepada wartawan, Senin (2/3/2026).
Aprozi mengingatkan para jemaah untuk terus berkoordinasi secara intensif dengan biro perjalanan atau travel penyelenggara.
Selain itu, jemaah diminta mematuhi segala arahan resmi dari Duta Besar RI serta perwakilan kementerian terkait yang berada di Arab Saudi.
"Kita yakini bahwa pemerintah Republik Indonesia tentu akan melakukan yang terbaik. Melakukan koordinasi tentang bagaimana teknis pemulangan warga Indonesia yang ada di Arab Saudi atau yang sedang melaksanakan ibadah umrah,” tuturnya.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Tewas, Komnas Haji Desak Pemerintah RI Jamin Nyawa 58 Ribu Jemaah Umrah
Di sisi lain, Aprozi juga mengimbau masyarakat yang belum berangkat umrah agar menunda keberangkatan hingga situasi keamanan di Timur Tengah kembali kondusif.
Ia menilai jalur penerbangan menuju Arab Saudi berpotensi terdampak konflik, terutama jika harus melintasi wilayah udara negara yang sedang bersitegang.
Aprozi juga menekankan kepada biro travel penyelenggara umrah untuk memberikan pelayanan maksimal bagi jemaah yang tertahan.
Ia meminta pihak travel menjamin fasilitas penginapan dan konsumsi agar jemaah tidak merasa telantar.
Kepada keluarga jemaah di Tanah Air, Aprozi meminta agar tidak panik dan mempercayakan penanganan situasi kepada pemerintah.
"Yakin saja bersabar pemerintah Indonesia pasti akan mengambil langkah-langkah yang lebih bijak melalui Kementerian Haji dan Umrah, TNI, Polri, untuk mengambilkan langkah-langkah strategis, jalur mana yang tidak membahayakan untuk melakukan pemulangan jemaah ke Tanah Air," imbuhnya.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, mengungkapkan proses kepulangan jemaah terus berjalan secara bertahap.
Sejak 28 Februari hingga 1 Maret 2026, sebanyak 6.047 jemaah telah kembali ke Tanah Air dengan aman.
"Pemerintah terus mengawal proses ini agar seluruh jemaah dapat pulang secara bertahap dan tertib," ujar Ichsan melalui keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Pulang Umrah dengan Selamat, Febby Rastanty Bersyukur Tak Terkena Imbas Perang Iran VS AS-Israel
Ichsan mengungkapkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, terdapat 4.200 jemaah umrah yang kembali ke Tanah Air menggunakan 12 penerbangan.
Sementara pada Minggu, 1 Maret 2026, terdapat 2.047 jemaah umrah yang pulang ke Tanah Air menggunakan 5 penerbangan.
Adapun calon jemaah umrah yang direncanakan berangkat hingga sebelum musim haji pada 18 April 2026 berjumlah 43.363 orang yang berasal dari 439 PPIU.
"Kami memastikan setiap PPIU menjalankan kewajibannya secara penuh, mulai dari pemberangkatan, pelayanan selama di Arab Saudi, hingga kepulangan jemaah. Tanggung jawab itu tidak boleh diabaikan," kata Ichsan.
Pemerintah, kata Ichsan, saat ini berfokus pada keselamatan, keamanan dan perlindungan bagi jemaah umrah.
Pemerintah juga meminta agar komunikasi antara PPIU dan jemaah terus dijalin dengan baik.
Baca juga: Iran Kibarkan Bendera Merah Tanda Perang Suci! Teheran Siap Balas Dendam atas Kematian Khamenei
Diketahui, Israel melancarkan serangan ke Teheran, Iran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Pemerintah Israel menutup wilayah udaranya dan menetapkan status darurat nasional.
Mengutip laporan The Guardian, langkah penutupan wilayah udara diambil sebagai antisipasi jika Iran membalas dengan mengirimkan drone maupun rudal.
Juru bicara militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai langkah pendahuluan untuk menyingkirkan ancaman terhadap negaranya.
Sementara itu, media Iran mengonfirmasi Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal.