Tanggal 3 Maret 2026 Memperingati Hari Apa? Ada Cap Go Meh dan 2 Lainnya
Bobby Wiratama March 03, 2026 09:32 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tanggal 3 Maret 2026 menjadi hari yang sarat makna karena bertepatan dengan tiga peringatan penting.

Pada hari ini, masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian Tahun Baru Imlek yang penuh sukacita dan harapan baru. 

Kemudian dunia internasional memperingati Hari Margasatwa Sedunia sebagai momentum menjaga kelestarian flora dan fauna, serta Hari Pendengaran Sedunia yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan telinga dan pencegahan gangguan pendengaran.

Cap Go Meh, yang dalam tradisi Tiongkok dikenal sebagai Festival Lampion, merupakan perayaan malam ke-15 setelah Imlek. 

Momen ini identik dengan cahaya lampion, kebersamaan keluarga, doa, serta harapan akan keberuntungan di tahun yang baru. 

Di Indonesia, perayaan ini berkembang menjadi atraksi budaya yang meriah dan menjadi simbol akulturasi serta toleransi antarumat beragama.

Sementara itu, 3 Maret juga ditetapkan sebagai World Wildlife Day atau Hari Margasatwa Sedunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melindungi satwa dan tumbuhan liar dari ancaman kepunahan, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat. 

Selain itu, dunia kesehatan juga memperingati World Hearing Day atau Hari Pendengaran Sedunia yang diprakarsai oleh World Health Organization (WHO). 

Kampanye tahunan ini mengajak masyarakat global untuk memahami pentingnya deteksi dini gangguan pendengaran, akses layanan kesehatan telinga, serta pencegahan paparan suara bising yang berisiko merusak pendengaran.

3 Peringatan Penting pada Tanggal 3 Maret 2026

Baca juga: Kapan Cap Go Meh 2026? Ini Tanggal, Makna, dan Tradisi Perayaannya

1. Cap Go Meh

Cap Go Meh merupakan perayaan hari ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek dalam tradisi masyarakat Tionghoa. 

Istilah “Cap Go Meh” berasal dari dialek Hokkien yang berarti malam kelima belas, merujuk pada malam bulan purnama pertama setelah Imlek. 

Dalam tradisi Tiongkok, perayaan ini dikenal sebagai Festival Lampion atau Yuan Xiao Jie.

Secara historis, tradisi ini telah ada sejak masa Dinasti Han (206 SM–220 M). 

Pada masa tersebut, masyarakat menyalakan lampion sebagai simbol harapan, keberuntungan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun baru. 

Cahaya lampion dipercaya membawa pesan dan harapan menuju langit.

Seiring waktu, Cap Go Meh berkembang menjadi ajang kebersamaan keluarga dengan menyantap hidangan khas seperti tangyuan, menyaksikan pertunjukan barongsai, tarian naga, serta berbagai atraksi budaya lainnya.

Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh memiliki warna lokal yang kuat. 

Di Singkawang, misalnya, Cap Go Meh identik dengan atraksi tatung yang menjadi daya tarik wisata nasional. 

Sementara di Pontianak dan Jakarta, perayaan ini dimeriahkan dengan pawai budaya dan pertunjukan seni tradisional. 

Cap Go Meh pun menjadi simbol akulturasi budaya dan keberagaman di Indonesia.

2. World Wildlife Day (Hari Margasatwa Sedunia)

Selain perayaan budaya, 3 Maret juga diperingati sebagai World Wildlife Day atau Hari Margasatwa Sedunia. 

Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 20 Desember 2013, dikutip dari laman resmi United Nations.

Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati diadopsinya Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES) pada 3 Maret 1973.

Konvensi ini berperan penting dalam mengatur perdagangan internasional agar tidak mengancam kelangsungan hidup spesies liar.

Dengan lebih dari 180 negara anggota, CITES menjadi instrumen global yang kuat dalam perlindungan keanekaragaman hayati. 

Setiap tahunnya, World Wildlife Day mengusung tema berbeda untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga satwa dan tumbuhan liar dari ancaman kepunahan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat.

Momentum ini mengingatkan dunia bahwa kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat.

3. World Hearing Day (Hari Pendengaran Sedunia)

Tanggal 3 Maret juga diperingati sebagai World Hearing Day atau Hari Pendengaran Sedunia. 

Kampanye tahunan ini diprakarsai oleh World Health Organization (WHO) untuk meningkatkan kesadaran global tentang pencegahan gangguan pendengaran dan pentingnya perawatan kesehatan telinga.

Peringatan ini pertama kali dirayakan pada 2007 dan sebelumnya dikenal sebagai Hari Perawatan Telinga Internasional sebelum berganti nama pada 2016, dikutip dari National Today.

Setiap tahun, WHO menetapkan tema khusus serta menyediakan materi edukasi dalam berbagai bahasa guna mendorong langkah preventif dan akses layanan kesehatan pendengaran yang lebih luas.

Isu gangguan pendengaran menjadi perhatian global karena dapat berdampak pada kualitas hidup, pendidikan, hingga produktivitas seseorang. 

Melalui World Hearing Day, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap kesehatan telinga, melakukan deteksi dini, serta mengurangi risiko paparan suara bising berlebihan.

(Tribunnews.com/Farra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.