Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Akibat ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah pasca serangan Amerika dan Israel ke Iran, Danang Purnomo (43), jemaah umrah asal Bandar Lampung harus dipercepat kepulangannya dari Tanah Suci.
Danang yang melakukan perjalanan ibadah bersama istrinya menceritakan pengalaman sesampainya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (2/3/2026).
Menurut penuturan Danang, ia dan rombongannya berangkat dari Lampung menuju Arab Saudi, pada 22 Februari 2026.
Rombongan tersebut terdiri dari kurang lebih 39 orang dalam satu grup travel umrah.
"Kami berangkat tanggal 22 Februari, kalau dijadwal harusnya pulang tanggal 2 berangkat dari Arab Saudi, tapi maju tanggal 1 Maret. Ini baru saja sampai di Jakarta," ujar Danang melalui sambungan telepon, Senin (2/3/2025).
Baca Juga Jemaah Umrah Tertahan, DPRD Lampung Harapkan Kebutuhan Hidup Tak Dibebankan ke Peserta
Danang menceritakan, awal perjalanan ibadah umrah berjalan sesuai rencana tanpa hambatan.
Mereka sempat melaksanakan ibadah di Madinah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan rukun umrah.
Namun, situasi yang awalnya khusyuk berubah jadi rasa khawatir ketika kabar eskalasi konflik mulai menyebar luas di antara para jemaah.
Bahkan Danang mengaku merasa takut dan cemas ketika mendengar kabar bahwa situasi keamanan semakin tidak menentu di sekitar wilayah mereka berada.
Rasa takut makin diperparah dengan ketidakpastian informasi mengenai jadwal kepulangan mereka ke Indonesia.
"Sebenarnya takut juga, keluarga di Lampung sudah sibuk telepon, tapi kita bisa apa. Akhirnya saya sama istri pasrah saja, karena kita juga nggak bisa berbuat apa-apa," ujar Danang.
Ia menuturkan, para jemaah berusaha tetap tenang, namun kekhawatiran tertahan di negeri orang sangat terasa.
"Takutnya tertahan di sana, apalagi kalau maskapai dari luar seperti Emirates dan maskapai lain yang transit. Karena kalau yang direct (langsung) sampai tadi masih aman," lanjutnya.
Namun, Danang menggambarkan suasana di Bandara Jeddah sempat sepi dari maskapai besar yang membatalkan penerbangan.
Maskapai seperti Emirates, Qatar Airways, dan beberapa maskapai Timur Tengah lainnya dilaporkan menunda atau membatalkan penerbangan mereka akibat penutupan ruang udara.
"Kemarin waktu mau berangkat dari Jeddah memang masih beroperasi, tapi sepi bandaranya. Apalagi maskapai yang transit," kata dia.
Danang bersyukur rombongan travelnya bisa melakukan penerbangan langsung, meskipun harus dipulangkan lebih cepat dari jadwal semula.
"Bersyukur bisa sudah sampai Jakarta ini, alhamdulillah karena kita nggak tahu kalau misalnya hari ini berangkat kan atau nanti ditunda-tunda lagi jadi lebih lama, karena kita nggak tahu perangnya tambah parah atau gimana," imbuh Danang.
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Lampung mencatat sebanyak 438 jemaah umrah asal Lampung masih berada di Tanah Suci, pasca meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, Senin (2/3/2026).
Kepala Kanwil Kemenhaj Lampung, M. Ansori F. Citra mengungkapkan, jumlah tersebut merupakan data yang masuk hingga akhir Februari 2026 dari belasan travel umrah.
"Hingga akhir Februari tercatat ada 438 jemaah. Ini data dari 14 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau travel umrah yang sudah melapor ke kami," ujar Ansori saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan bahwa kondisi ratusan jemaah dalam keadaan aman dan tetap menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, tanpa ada laporan kendala yang berarti.
Ia juga membantah isu adanya jemaah yang tertahan, mengingat proses kepulangan sebagian jemaah masih berlangsung hingga hari ini.
"Kalau dibilang tertahan, enggak ada laporan. Karena mereka memang masih umrah. Kalau tertahan itu artinya ketika sudah selesai mau pulang tapi enggak bisa, sejauh ini insyaAllah belum ada," tegasnya.
Meski demikian, pihaknya terus memantau pergerakan data dari travel umrah lainnya, terutama bagi jemaah yang baru akan berangkat maupun yang sedang berada di Arab Saudi.
"Kami masih menunggu data dari travel lainnya, termasuk yang sudah ada di sana atau yang akan memberangkatkan dalam waktu dekat," lanjut Ansori.
Sedangkan Kepala Kemenhaj Pringsewu, Muhammad Haikal Ahra,memastikan ada sebanyak 15 jemaah umrah dan satu pembimbing asal Kabupaten Pringsewu masih berada di Tanah Suci.
Mereka tergabung dalam Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Assa Tour dan dijadwalkan kembali ke Lampung pada 5 Maret 2026.
“Berdasarkan pendataan kami, ada 15 jemaah plus satu pembimbing atas nama Ummu asal Pringsewu yang tergabung dengan PPIU Assa Tour.
InsyaAllah mereka pulang tanggal 4 Maret dan tiba di Lampung pada 5 Maret,” ujar Haikal.
Haikal memastikan, hingga saat ini seluruh jemaah asal Pringsewu dalam kondisi aman dan terus berkoordinasi dengan pihak travel serta maskapai penerbangan terkait jadwal kepulangan.
"Kami terus memantau dan berkoordinasi untuk memastikan proses kepulangan berjalan lancar. Semoga seluruh jemaah dapat kembali dengan selamat,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Salamah Travel Sejahtera, Siti Aisyah, menegaskan pihaknya bertanggung jawab penuh terhadap seluruh jemaah, mulai dari proses keberangkatan hingga kepulangan ke Tanah Air.
“Kami memastikan seluruh jemaah yang kami berangkatkan dalam keadaan aman. Tanggung jawab kami tidak hanya saat pemberangkatan, tetapi juga selama mereka menjalankan ibadah hingga kembali,” ujar Siti Aisyah dalam keterangan, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini pihaknya telah memberangkatkan 32 jemaah umrah ke Tanah Suci. Seluruh jemaah dilaporkan dalam kondisi baik dan tetap menjalankan rangkaian ibadah tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah seluruh jemaah masih bisa beribadah khusyuk. Kami terus memantau kondisi mereka dan berkoordinasi dengan tim pendamping di sana,” jelasnya.
Menurutnya, komunikasi yang intens antara pihak travel, jemaah, dan keluarga di Bandar Lampung menjadi kunci utama dalam menjaga kenyamanan selama menjalankan ibadah.
Ia pun mengimbau keluarga jemaah agar tetap tenang dan tidak panik menyikapi dinamika situasi di Timur Tengah.
“Kami meminta keluarga untuk tetap tenang dan menjaga komunikasi dengan jamaah. Hal ini penting agar jamaah juga merasa nyaman dan fokus dalam beribadah,” katanya.
Siti Aisyah juga menambahkan, pihak travel berkomitmen memberikan informasi terbaru kepada keluarga jamaah apabila terjadi perkembangan situasi di lapangan.
Muhammad Miftah Falah, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Bunda Lestari Lampung mengakui, saat ini seluruh jemaah umrahnya sudah kembali ke Tanah Air.
Akan ia cemas untuk jadwal keberangkatan mendatang. "Jemaah kami yang di sana alhamdulillah sudah pulang semua. Untuk jadwal keberangkatan berikutnya pada 30 Maret nanti," ujar Falah, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, eskalasi berdampak langsung pada maskapai yang transit di negara asal seperti Qatar (Doha), Etihad di Abu Dhabi, dan Emirates di Dubai.
Meski demikian, Falah menjelaskan, untuk penerbangan langsung (direct flight) seperti Garuda Indonesia menuju Jeddah, hingga saat ini terpantau masih beroperasi normal.
"Kalau kami menggunakan Garuda, dan per hari ini informasinya masih ada jemaah yang berangkat, semoga saja tetap aman," kata dia.
Jika konflik bwrkepanjangan dan meluas, Falah menyoroti kerugian finansial yang membayangi PPIU dan jemaah.
"Dana jemaah untuk keberangkatan 30 Maret sudah kami salurkan semua ke hotel dan visa. Masalahnya, pihak hotel di sana tidak mau tahu dengan kondisi ini, mereka menyatakan dana tidak bisa kembali (non-refundable)," tegas Falah.
Ia berharap pemerintah pusat melakukan penekanan diplomatis agar otoritas Arab Saudi mengeluarkan instruksi kepada penyedia layanan hotel supaya biaya jemaah bisa dikembalikan atau dijadwalkan ulang (reschedule) jika terjadi pembatalan akibat situasi darurat.
"Harus ada langkah antisipasi. Jika ada instruksi langsung dari pemerintah Arab Saudi ke hotel-hotel di sana, tentu dampaknya akan berbeda bagi jemaah kita," tuturnya.
Kepala Kanwil Kemenhaj Lampung, M. Ansori F. Citra menyebutkan, hingga kini belum ada surat resmi mengenai larangan keberangkatan, namun imbauan kewaspadaan terus ditekankan.
Pihak Kanwil mengimbau para travel umrah mempertimbangkan opsi penjadwalan ulang (reschedule) bagi jemaah yang berencana berangkat di pertengahan hingga akhir Ramadan.
"Kami mengimbau travel umrah, kalaupun masih bisa ditunda atau di-reschedule, sebaiknya ditunda saja untuk jaga-jaga antisipasi keamanan sekaligus kenyamanan," jelasnya.
Ansori menjelaskan, meski Arab Saudi bukan daerah konflik, namun eskalasi yang memanas dapat berdampak pada jalur penerbangan internasional dan memicu rasa was-was keluarga.
"Khawatirnya ada penundaan karena terkait keamanan penerbangan. Lagi memanas begini takutnya perjalanan ditunda saat menuju Jeddah atau Madinah, maupun saat hendak pulang," tambahnya.
Ia pun meminta penyelenggara umrah untuk melakukan mitigasi risiko dan terus menjalin koordinasi intensif dengan petugas pemerintah Indonesia yang berada di Arab Saudi.
"Bagi jemaah dan keluarga jangan panik. Penyelenggara tetap berkoordinasi dengan petugas di Arab Saudi, konsulat, maupun dengan kami di kementerian," tambahnya.
Hal senada juga dikemukakan Kepala Kemenhaj Pringsewu Muhammad Haikal Ahra. Ia mengatakan, pihaknya mengimbau jemaah yang akan berangkat dalam waktu dekat, khususnya pada momentum Ramadan, untuk menunda keberangkatan hingga situasi dinyatakan kondusif.
Terkait penyelenggaraan ibadah haji, Haikal memastikan hingga saat ini belum ada kendala dan pelaksanaan tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Untuk pelaksanaan haji, sampai saat ini tidak ada kendala dan insyaallah tetap berjalan sesuai jadwal,” pungkasnya.
PULUHAN ribu jemaah umrah asal Indonesia termasuk dari Lampung dilaporkan tertahan di luar negeri akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa Sepulau Raya, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut.
“Kami prihatin dengan kejadian ini. Konflik perang memang tidak kita duga sebelumnya, dan ini menimbulkan kerugian serta kepanikan bagi para jemaah yang sedang menjalankan ibadah,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (2/3/2026).
Menurut Andika, pemerintah pusat harus segera turun tangan untuk memberikan perlindungan kepada warga negara Indonesia yang saat ini tertahan dan tidak bisa pulang.
Ia meminta pemerintah, termasuk perwakilan Indonesia di luar negeri seperti konsulat jenderal, segera melakukan pendataan terhadap seluruh jemaah yang terdampak.
“Minimal didata mana saja warga negara kita yang belum bisa pulang dan sampai kapan. Selama masa itu, pemerintah harus hadir memberikan perlindungan, baik dari sisi keamanan, tempat tinggal, hingga kebutuhan makanan,” tegasnya.
Andika menilai, kebutuhan hidup jemaah selama tertahan tidak boleh dibebankan kepada para peserta umrah. Sebab, tidak semua jemaah memiliki kemampuan finansial untuk bertahan dalam waktu yang belum pasti.
Ia juga mendorong pemerintah untuk tidak menunggu situasi normal sepenuhnya, melainkan melakukan langkah proaktif atau jemput bola untuk mengevakuasi warga.
“Kalau memang sudah ada celah aman, pemerintah harus jemput bola. Tidak perlu menunggu maskapai reguler, bahkan jika perlu melalui jalur militer karena ini menyangkut keselamatan warga negara kita,” jelasnya.
Selain itu, Andika menegaskan biro travel yang memberangkatkan jemaah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan peserta dan tetap berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Meski hingga saat ini belum ada aduan langsung dari keluarga jemaah kepada DPRD Lampung, Andika memastikan pihaknya terus menyoroti perkembangan situasi dan siap menindaklanjuti jika ada laporan dari masyarakat.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut mendoakan agar para jemaah yang saat ini tertahan bisa segera kembali ke tanah air dengan selamat. “Kita semua berdoa semoga saudara-saudara kita yang terjebak konflik bisa segera pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka,” pungkasnya. (ryo)
(Tribunlampung.co.id/Hurri/Riyo/Oky)