Sikap Bupati Nganjuk Setelah Warga Kesal Tebar Lele di Jalan Rusak Tak Digubris 10 Tahun: Sabar
Ignatia Andra March 03, 2026 12:33 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Kondisi jalan rusak berat dan sudah 10 tahun bahkan tak pernah digubris atau diperbaiki, warga beramai-ramai meluapkan kekecewaan.

Warga menebarkan ikan lele di kubangan jalan rusak dan menanamkan pohon pisang.

Warga Dusun Bandung, Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, meluapkan kekecewaannya terhadap kondisi jalan desa yang rusak selama sekitar 10 tahun dan belum juga diperbaiki.

Jalan tersebut merupakan jalur menuju sentra pengrajin batu bata, yang menjadi penopang ekonomi warga setempat.

Pengajuan berulang kali tak didengar

Menurut warga setempat, usulan perbaikan telah berulang kali diajukan, namun belum mendapat tanggapan.

Sebagai bentuk protes, warga lantas menanam puluhan pohon pisang di tengah kubangan jalan yang dipenuhi genangan air, Senin (2/3/2026).

Tidak hanya itu, mereka juga menebarkan ikan lele ke dalam genangan tersebut.

Tak berselang lama setelah ditebar, ikan lele itu menjadi rebutan warga.

Ikan-ikan tersebut kemudian dimasak untuk dijadikan lauk berbuka puasa.

PERLIHATKAN HASIL PANEN - Warga bersama perwakilan perusahaan Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Dumai memperlihatkan hasil panen ikan lele dari kolam budi daya di kawasan pesisir di Kelurahan Tanjung Palas, Dumai Timur, Selasa (23/9/2025). KPI Unit Dumai menghadirkan program terintegrasi Bedelau Minapolitan sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
PERLIHATKAN HASIL PANEN - Warga bersama perwakilan perusahaan Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Dumai memperlihatkan hasil panen ikan lele dari kolam budi daya di kawasan pesisir di Kelurahan Tanjung Palas, Dumai Timur, Selasa (23/9/2025). KPI Unit Dumai menghadirkan program terintegrasi Bedelau Minapolitan sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. (Istimewa)

Setiap warga yang ikut berebut rata-rata memperoleh lima hingga sepuluh ekor lele.

Rina, warga Dusun Bandung, Desa Betet, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan warga.

“Ini bentuk protes dari warga kami, karena saking kesalnya jalan tidak juga diperbaiki. Terus kita apresiasinya berupa penanaman pohon pisang sama menebar lele,” ujar Rina kepada wartawan di Kabupaten Nganjuk, Senin (2/3/2026).

Menurut Rina, warga juga menyayangkan sikap pemerintah desa setempat yang dinilai lamban, dan berdalih baru mengetahui status jalan tersebut merupakan jalan desa, bukan jalan kabupaten.

“Ini sudah 10 tahun rusak jalannya,” terangnya.

Kades buka suara

Kepala Desa (Kades) Betet, Suhartini, mengaku baru mengetahui beberapa hari terakhir bahwa jalan yang rusak tersebut merupakan jalan desa.

“Itu hari Kamis kemarin jam 10.00 WIB tahunya saya bahwa jalan ini ternyata jalan desa. Kita tahunya bukan saya saja selaku kepala desa, tapi perangkat desa yang lain itu mengklaim ini jalan kabupaten,” tutur Suhartini.

“Karena ini kan perempatan, poros penghubung antara (Desa) Batet dan Kaloran, jadi kita tahunya itu jalan kabupaten,” lanjutnya.

Baca juga: Hasil Panen Ubi Rp 100 Juta Milik Sofiah Habis Ditilap Kades Dermawan, Padahal Perjanjian Dibagi Dua

Suhartini menyatakan, setelah ini pihaknya akan segera membenahi jalan tersebut menggunakan anggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun 2025.

Selain itu, pihaknya juga telah mengajukan perbaikan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk.

“Kalau memang ini dari pihak PUPR belum bisa menganggarkan di akhir tahun ini, nanti bisa dieksekusi pemerintah desa dengan anggaran yang sisa akhir tahun kemarin (SiLPA tahun 2025),” pungkas Suhartini.

Bupati buka suara minta masyarakat sabar

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, memastikan jalan rusak di Dusun Bandung, Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, segera ditangani melalui skema penanganan kedaruratan.

Kepastian itu disampaikan setelah warga setempat melakukan aksi protes dengan menanam pohon pisang dan menebar ikan lele di kubangan jalan rusak.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga atas kondisi jalan yang rusak hampir 10 tahun ini, namun tak kunjung diperbaiki.

Kang Marhaen, sapaan karib Marhaen Djumadi, mengakui bahwa kondisi jalan di Dusun Bandung, Desa Betet, memang mengalami kerusakan yang cukup parah.

“Saya (sudah) keliling dari Tanjunganom hingga melewati Desa Kampung Baru, jalannya halus-halus semua. Di sini ini memang yang paling jelek,” ujar Kang Marhaen, Senin (2/3/2026), dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Selasa (3/3/2026).

“Wajar kalau warga menyampaikan aspirasi, bahkan dengan cara simbolik seperti menanam pohon pisang sebagai pengingat bagi pemerintah,” lanjutnya.

Menurut Kang Marhaen, terdapat dua faktor utama penyebab kerusakan jalan.

Pertama, tingginya intensitas kendaraan berat, terutama truk pengangkut batu bata, mengingat wilayah tersebut merupakan sentra pengrajin batu bata.

Kedua, lanjut Kang Marhaen, dikarenakan sistem drainase yang tidak berfungsi optimal, sehingga air menggenang di badan jalan.

“Aspal itu kalau sering tergenang air, seminggu, dua minggu, tiga minggu pasti habis lagi,” jelasnya.

Baca juga: Lapak Penukaran Uang Baru Mulai Ramai di Kediri Jelang Lebaran, Tarif Rp 15 Ribu per Rp 100 Ribu

Merespon jalan rusak ini, Kang Marhaen menyebut bahwa pihaknya telah menetapkan penanganan melalui skema Unit Reaksi Cepat Pemeliharaan Jalan (URCPJ).

Skema tersebut difokuskan untuk memastikan jalan kembali dapat dilalui secara aman dalam waktu dekat, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Kami minta masyarakat bersabar. Ini kita tangani darurat dulu, supaya warga bisa berlebaran dengan nyaman. Selanjutnya akan kita perbaiki lebih permanen dan terencana,” tuturnya.

Politikus PDI Perjuangan ini memastikan Pemkab Nganjuk akan menyiapkan perbaikan permanen secara bertahap, termasuk opsi overlay serta pembenahan sistem drainase agar kerusakan tidak terulang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.