Lapak Penukaran Uang Baru Mulai Ramai di Kediri Jelang Lebaran, Tarif Rp 15 Ribu per Rp 100 Ribu
Samsul Arifin March 03, 2026 12:33 PM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - jasa penukaran uang baru mulai bermunculan di wilayah Kediri. Di sepanjang Jalan PB Sudirman, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, sejumlah warga membuka lapak penukaran uang pecahan kecil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran.

Lapak-lapak tersebut berjejer di tepi jalan dengan menawarkan berbagai pecahan uang baru, mulai dari Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Kehadiran mereka menjadi alternatif bagi warga yang ingin menukar uang tanpa harus melalui prosedur perbankan.

Salah satu penyedia jasa penukaran uang di Jalan PB Sudirman Pare, Selvina Novaris mengatakan tarif penukaran dipatok Rp 15.000 untuk setiap Rp 100.000. Namun harga tersebut masih bisa dinegosiasikan.

Baca juga: Cara Gampang War Penukaran Uang Baru untuk Lebaran, Warga Ponorogo Tak Kapok

Tarif Penukaran Rp 15 Ribu per Rp 100 Ribu

"Per seratus ribu biasanya Rp 15 ribu, kadang kalau ada yang nawar Rp 14 ribu saya kasih. Tidak ada minimal penukaran selama persediaan masih ada," katanya, Selasa (3/3/2026).

Selvina mengaku setiap tahun rutin membuka lapak menjelang Lebaran. Menurutnya, puncak keramaian biasanya terjadi sekitar satu minggu sebelum Hari Raya.

Pedagang lain Elvriani mengungkapkan dirinya memilih berjualan di kawasan tersebut karena faktor keamanan dan lokasi yang strategis. Selain berada di jalan ramai, lokasinya juga dekat dengan kantor kepolisian.

Baca juga: Cara Gampang War Penukaran Uang Baru untuk Lebaran, Warga Ponorogo Tak Kapok

"Di sini lebih aman karena dekat Polres Kediri. Sudah tujuh tahun saya buka lapak penukaran seperti ini," ucapnya.

Namun, ia mengakui jumlah penukar tahun ini cenderung menurun dibandingkan tahun lalu. Dalam sehari, rata-rata hanya lima hingga enam orang yang menukar uang, dengan nominal berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Tahun lalu bisa sampai rp 1 juta lebih per hari. Sekarang mungkin karena yang jual makin banyak, jadi pembagiannya lebih sedikit," jelasnya.

Jumlah Pelapak Meningkat, Penukar Menurun

Elvri menyebut jumlah pelapak meningkat dari tahun ke tahun. Jika sebelumnya hanya sekitar 10 orang, kini mencapai lebih dari 30 orang di kawasan Pare.

Para pelapak umumnya menggunakan sistem bagi hasil. Setiap Rp 100.000 yang ditukarkan, pedagang bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000, tergantung hasil negosiasi dengan pelanggan.

Meski persaingan semakin ketat, keberadaan jasa penukaran uang musiman ini tetap menjadi bagian dari terobosan ekonomi Ramadan di Pare. Selain itu sekaligus mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan tradisi berbagi saat Lebaran.

Di sisi lain, Binti Istikomah warga Kecamatan Kepung mengaku lebih memilih jasa penukaran uang di pinggir jalan karena dinilai lebih praktis dibandingkan melalui bank resmi.

"Kalau di bank harus daftar online dulu dan antre. Lebih ribet. Di sini lebih cepat dan langsung dapat pecahan yang diinginkan," katanya.

Menurut Binti tradisi memberikan uang saku kepada keponakan dan saudara saat Lebaran membuat kebutuhan uang pecahan kecil meningkat setiap tahunnya. Dia pun sengaja menukar lebih awal agar tidak kehabisan stok saat mendekati hari raya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.