Menghadapi Perang & Dunia Global: Umat Islam Butuh Pendidikan Yang Berkualitas
Amirullah March 03, 2026 12:38 PM

Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag.

Tantangan masa kini dan masa depan berpusat pada adaptasi cepat terhadap digitalisasi (AI), krisis mental/moral, ketimpangan ekonomi, perang,  serta keberlanjutan lingkungan.

Generasi sekarang harus siap menghadapi risiko mental seperti FOMO dan ketergantungan teknologi, sementara masa depan menuntut keahlian tinggi, kreativitas, dan ketahanan sosial menghadapi perubahan iklim. 

Pendidikan yang harus disiapkan oleh Perguruan Tinggi dan pemerintah, tidak cukup hanya unggul diatas kertas  tapi harus berkualitas. Tidak cukup hanya mengejar target lulusan, lalu menambah pengangguran, karena tidak punya skiil dan kemampuan

Tantangan Masa Kini

Tantangan utama masa kini dan masa depan adalah Pertama, Kesehatan Mental dan Digital. Adanya tekanan sosial media, FOMO (fear of missing out), kecanduan gawai, dan pornografi/judi online yang mengancam kesehatan mental.

Kedua; Krisis akhlak, seperti LGBT, Narkoba, pergaulan bebas, HIV/AIDS karena Zina dan LGBT, merokok pada anak-anak dan remaja, budaya nongkrong di kafe siang dan malam, malas belajar, malas membaca dan lainnya.

Ketiga, Krisis Karakter yaitu Penurunan karakter seperti kurangnya daya juang, tidak disiplin, malas dan tidak bertanggung jawab, akibat pola pikir instan. Keempat, tergerusnya budaya lokal, bahasa daerah, dan identitas kebangsaan karena pengaruh budaya global yang tidak difilter. Kelima, Kesenjangan Pendidikan. Ketimpangan akses teknologi/internet serta perlunya penyesuaian kurikulum dengan keahlian praktis. 

Tantangan Masa Depan (Teknologi & Lingkungan)

Tantangan Masa Depan (Teknologi & Lingkungan) lainnya adalah Pertama, Otomatisasi dan AI. Kecerdasan Buatan (AI) mengancam lapangan kerja konvensional, menuntut manusia meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Kedua; Perubahan Iklim dan Sumber Daya. Krisis lingkungan, berkurangnya sumber daya alam, dan kebutuhan akan inovasi ramah lingkungan. Ketiga, Ketidakpastian Global (VUCA). Dunia yang semakin Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (rumit), dan Ambiguous (tidak jelas), membutuhkan kemampuan adaptasi tinggi.

Keempat, Keamanan Data. Ancaman privasi dan keamanan data dalam ekosistem digital yang semakin luas. 

Untuk menghadapi kondisi ini, diperlukan pendidikan yang berkualitas untuk mencetak SDM unggul dengan penguatan soft skill (komunikasi, berpikir kritis), penguasaan teknologi, penguatan nilai moral/agama, serta kepedulian terhadap lingkungan

Ciri-Ciri Pendidikan Berkualitas

Ciri-Ciri Pendidikan berkualitas adalah, Pertama; proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, menggabungkan pengembangan akademik, karakter, dan keterampilan hidup (literasi/numerasi) untuk menciptakan individu cerdas dan adaptif. Ini didukung kurikulum relevan, guru profesional, lingkungan aman, serta inklusif bagi semua anak untuk mencapai potensi maksimal. 

Pembelajaran tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga pengembangan akhlak, keterampilan sosial, emosional, fisik, dan moral teruma nilai-nilai Agama yang  terintegrasi dengan pengetahuan modern.

Misal, seorang muslim ingin jadi ahli Fisika, ia wajib mempelajari Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Hadits yang terkait dengan fisika, lalu ia belajar teori-teori fisika modern, dan belajar bagaimana penerapannya ilmu yang dipelajarinya dalam kehidupan, sehingga bermanfaat buat diri, keluarga, sekaligus untuk menjaga umat Islam dan syari'at. 

Seseorang ingin jadi ahli kedokteran, ia wajib belajar Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Hadits tentang ilmu kedokteran, lalu belajar ilmu kedokteran modern baik teori dan prakteknya, sehingga ia menjadi ahli dalam bidang pengobatan penyakit dalam bidang yang ia tekuni.

Seorang calon guru Pendidikan Agama Islam. Ia wajib menguasai Al-Qur'an (mampu membaca, menghafal, menterjemahkannya), dan menguasai ilmu-ilmu yang terkait dengan Al-Qur'an (Ulumul Qur'an).

Seorang calon guru Pendidikan Agama juga wajib, menguasai Hadits (membaca, menterjemahkan dan menghafal Hadits) dan menguasai ilmu yang terkait dengan Hadits (Ulumul Hadits).

Selain itu seorang calon guru PAI harus banyak membaca buku Sirah Nabawiyah, sirab orang-orang shaleh, sirah para sahabat untuk standar akhlak dan teladan sebagai seorang guru. Selain itu, seorang calon guru PAI harus, menguasai ilmu fikih dan bagaimana melaksanakan praktek ibadah sehari-sehari dengan baik dan benar.

Seorang guru PAI wajib belajar Ushul fikih dan Bahasa Arab untuk mendukung kualitas ilmu Agama ketika ia mengajar. 

Terakhir seorang guru PAI harus belajar strategi pembelajaran dan ilmu jiwa, agar pembelajaran menjadi menarik, terencana, terukur hasilnya, efektif dan efisien pembelajarannya. Inilah ukuran kualitas guru PAI yang mesti di pastikan sebelum ia dinyatakan lulus, karena ia akan menyampaikan  Agama kepada murid-muridnya. 

Seorang lulusan fakultas dakwah, ia wajib mempelajari Ayat-Ayat dan Hadits tentang Perintah Dakwah, lalu ia belajar segala ilmu Agama, seperti Fikih, Sirah Nabawiyah, Bahasa, menghafal Al-Qur'an Dan Hadits, untuk materi dakwah.

Agar Dakwahnya sesuai dengan perkembangan zaman, mahasiswa wajib diajarkan tentang IT, atau dakwah digital, sehingga ia bisa membuat konten-konten dakwah lewat media digital.

Kepada Mahasiswa diajarkan teori dan praktek dakwah dengan lisan, dakwah bil hal (teladan) atau dakwah lewat media digital. Lulusan fakultas dakwah wajib menjadi seorang pendakwah, boleh pendakwah lisan (ceramah dari panggung ke panggung), atsu dakwah bil hal (teladan), atau dakwah lewat digital. Ini baru disebut berkualitas.

Ciri kedua, Guru Profesional dan Berdedikasi: Pengajar yang mampu memfasilitasi kebutuhan siswa, peduli terhadap perkembangan psikologis, serta terus belajar.

Ciri ketiga; Kurikulum yang Relevan: Kurikulum yang kontekstual dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja, mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global.

Ciri keempat; Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Aman: Menyediakan akses yang sama bagi semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, serta menciptakan suasana aman dan mendukung.

Ciri kelima; Fasilitas dan Sumber Daya yang Memadai: Akses terhadap buku, teknologi, dan infrastruktur fisik yang layak untuk mendukung efektivitas pembelajaran. 

Dengan demikian, kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan dapat kita lihat dari sikap keberagamaan peserta didik (agamis, ta'at). Lalu kemampuan menguasai teori, data, fakta dari ilmu yang is tekuni, ditambah kemampuan praktek, pengembangan ilmunya dan sikap simpati, empati terhadap orang lain. 

Murid atau mahasiswa menguasai dengan benar dan tuntas berbagai teori di bidang yang ia menjadi ahli di dalamnya. Penguasaan teori itu penting sebagai acuan, dasar dan bentuk dalam melakukan pengembangan.

Sehingga dengan ilmunya lahir pribadi yang shalih lagi bertaqwa (takut dan cinta ia kepada Allah).

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Pendidikan yang unggul dalam pandangan Islam adalah pendidikan yang mampu mendidik pribadi-pribadi yang bertaqwa. Dengan Taqwa ia bisa membedakan yang baik dan salah, yang halal dan yang haram, sebagai pembeda.

Wahai orang-orang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan Furqaan (membedakan yang hak dan batil) bagimu dan menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar (QS. Al-Anfal [8]: 29).  

Kepada orang bertakwa Allah mudahkan rezeki dan penyelesaian setiap masalah dalam kehifupan seorang muslim.

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“. [Ath-Thalaq/65 )

Dan kepada orang yang bertaqwa Allsh bukakan pintu penyelesaian bagi setiap masalah.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar“. [Ath-Thalaq/65 )

Oleh karena itu ukuran keberhasikan pendidikan dalam Islam yang pertama dan utama harus diperjuangkan adalah mendidik pribadi-pribadi yang betaqwa dan berilmu. Adapun ciri-ciri orang yang bertakwa kepada Allah SWT yang disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah; 

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
QD. Thaha; 132)

Dalam ayat selanjutnya disebutkan;

"yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan", (QS. Ali Imran: 134).

Dalam ayat selanjutnya disebutkan; 

"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,1 (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Dengan demikian dapat kita simpulkan ciri-ciri orang ysng bertakwa itu adalah,
Pertama, Beriman kepada hal yang gaib. Meyakini keberadaan Allah SWT, malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan wahyu-wahyu Allah. Kedua, Mendirikan Shalat. Melaksanakan shalat lima waktu dengan konsisten, khusyuk, dan sesuai syariat. Ketiga, Rajin Berinfak dan Bersedekah. Ringan tangan dalam membantu sesama dengan sebagian harta yang dimiliki, tidak kikir, baik dalam keadaan lapang (kaya) maupun sempit (miskin).

Keempat, Mampu menahan amarah. mampu mengendalikan diri dan emosi ketika diperlakukan tidak baik atau saat situasi memancing amarah.

Kelima; Mudah memaafkan  Memiliki jiwa besar untuk memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menyimpan dendam.

Keenam; Gemar Berbuat Baik (Ihsan): Selalu berusaha berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk lainnya.

Ketujuh; Segera Bertobat (Istighfar): Apabila terlanjur melakukan perbuatan dosa atau maksiat, mereka segera mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya.

Kedelapan;Yakin adanya Akhirat: Menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang amal untuk bekal di akhirat, sehingga berhati-hati dalam bertindak.

Mendidik generasi muda berkualitas itu sangat penting, karena mereka adalah pewaris negeri ini dimasa depan. Merekalah penerus syari'at Islam. Pendidikan hari ini menentukan baik buruk dan Indonesia dan syari'at Islam dimasa depan, karena mereka pewaris dan  peberus negeri ini dan penerus syari'at Islam.

Wallahu'alam
Moga bermanfaat, untuk menjaga Umat Dan Syari'at

 

Penulis adalah Dosen Pendidikan Agama

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.