POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di bawah terik matahari yang mulai menyengat di halaman Kantor Camat Manggar, seorang pria tua nampak berjalan tertatih. Tubuhnya sedikit membungkuk, menahan beban usia yang tak lagi muda, Selasa (3/3/2026).
Langkah kakinya yang sedikit tertatih tidak menyurutkan semangatnya pagi itu. Dengan perlahan namun pasti, ia setia menggandeng tangan istrinya, menembus antrean warga yang membludak di bawah tenda besar yang telah disiapkan petugas.
Pria itu adalah Ramlan (69). Sosoknya mewakili ratusan warga lainnya yang rela berpeluh keringat demi mendapatkan komoditas pangan dengan harga miring.
Penampilan Ramlan sangat sederhana, Ia mengenakan peci hitam yang warnanya sudah mulai memudar.
Badan Ramlan dibalut kaos berwarna ungu yang juga sudah tampak kusam. Celana bahan berwarna cokelat yang ia kenakan nampak serasi dengan sandal jepit yang menemaninya melangkah pincang.
Ada yang unik dari wajahnya pagi itu. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya, lensa kacamata itu berubah menjadi gelap secara otomatis saat terpapar sinar matahari Manggar yang mulai terik.
Tumpukan karung beras SPHP dan gunung kardus berisi Minyakita seolah menjadi umpan penyejuk bagi Ramlan untuk mengunjungi tempat ini.
"Alhamdulillah, tadi dapat beras dua karung sama minyak dua botol. Lumayan untuk stok, soalnya kalau di pasar harganya sudah tinggi sekali," ujarnya.
Saat bersalaman, tangan tuanya terasa sangat keriput saat bersentuhan dengan kulit. Tekstur kulit yang kasar dan berkerut itu seolah bicara banyak tentang kerasnya perjalanan hidup yang telah ia lalui selama puluhan tahun.
Ramlan bercerita bahwa kenaikan harga pangan belakangan ini benar-benar menghimpit ekonominya. Ia mengaku harus sering memutar otak agar dapur di rumahnya tetap bisa mengepul setiap hari.
"Makan sekarang harus diatur-atur, Pak. Kalau harga beras naik terus, kami yang tua ini mau makan apa? Makanya dengar ada pasar murah di sini, langsung ajak istri ke sini," ucapnya.
Suasana di lokasi pasar murah memang nampak begitu sibuk dan hiruk-pikuk. Tenda besar dipenuhi warga yang saling berdesakan, sesekali terdengar riuh suara ibu-ibu yang berdiskusi soal harga.
Di sisi lain, para petugas nampak tak kalah sibuk. Mereka terlihat berpeluh keringat, tangan mereka dengan cekatan menyiapkan stok di setiap tenant agar antrean warga tidak semakin mengular panjang.
Di tengah situasi yang melelahkan itu, Ramlan dan istrinya tetap nampak sabar. Mereka berdiri menunggu giliran dengan penuh ketenangan, meski kondisi fisik mereka berdua sebenarnya tak lagi bugar untuk berdiri lama.
Bagi Ramlan, harga beras SPHP yang dibanderol Rp54.000 per lima kilogram adalah sebuah berkah. Harga tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga beras di toko atau pasar umum saat ini.
Selisih harga beberapa ribu rupiah itu ia rasakan sangat berarti. Baginya, uang sisa belanja itu bisa digunakan untuk menambah kebutuhan dapur lainnya.
"Uang seribu dua ribu itu besar artinya bagi kami. Bisa buat beli sayur atau bumbu yang lain. Di sini berasnya bagus, harganya juga masuk di kantong orang tua seperti saya," ungkapnya.
"Tadi antrenya juga lumayan panjang, tapi syukur alhamdulillah pelayanannya cepat dan tertib. Petugasnya juga baik, mereka bantu kami yang sudah tua ini untuk ambil barang," tambahnya.
Tak sedikit pembeli lain di sekitarnya yang juga memborong barang dalam jumlah banyak, seolah tak ingin melewatkan kesempatan emas mendapatkan harga murah di bulan suci.
Namun bagi Ramlan, bisa mendapatkan kebutuhan pokok tanpa harus menguras banyak isi dompet adalah kemewahan tersendiri. Apalagi di bulan Ramadan ini, kebutuhan konsumsi keluarga biasanya meningkat dibanding bulan biasa.
"Namanya juga bulan puasa, pengeluaran pasti nambah. Tapi kalau harganya murah begini, hati jadi tenang sedikit. Tidak pusing lagi mikir stok nasi di meja," ujarnya.
Ramlan berharap kegiatan seperti ini bisa lebih sering dilakukan, terutama saat harga-harga kebutuhan pokok mulai tidak terkendali. Menurutnya, keberadaan pasar murah adalah napas segar bagi rakyat kecil yang memiliki penghasilan terbatas.
"Harapannya ya kalau bisa rutin dilakukan, jangan cuma sekali-sekali saja. Sangat membantu warga seperti kami ini," tutupnya.
Meski langkah kakinya kini tak lagi tegak, Ramlan telah membuktikan satu hal. Bahwa demi mencukupi kebutuhan keluarga, jarak, panas, dan rasa lelah bukan menjadi penghalang yang berarti.
Ramlan adalah bukti nyata bagaimana kebijakan pemerintah yang tepat sasaran bisa menyentuh langsung ke sendi-sendi kehidupan rakyat yang paling membutuhkan bantuan.
Setelah seluruh belanjaan aman di tangan, Ramlan kembali menggandeng tangan istrinya. Mereka berdua berjalan perlahan, meninggalkan kantor camat yang masih dipenuhi warga. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)