IHSG: Perang AS-Israel vs Iran dan Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasar
Cak Sur March 03, 2026 03:04 PM

 

SURYA.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,44 persen atau 36,28 poin ke level 8.235 dalam sepekan terakhir pada periode 23-27 Februari 2026.

Perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global kembali menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar serta risiko domestik Indonesia.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menegaskan bahwa konflik ketegangan di Timur Tengah kini tengah memuncak.

Di saat yang sama, kebijakan perdagangan Amerika Serikat terus berubah, dan lembaga pemeringkat kredit memperingatkan tekanan fiskal yang meningkat di Indonesia.

"Kombinasi isu ini menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global hingga pasar domestik," kata Imam, Selasa (3/3/2026).

Dampak Konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz

Pada tingkat global, ketegangan militer di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran.

Operasi yang diberi kode Operation Epic Fury ini, menyasar kompleks militer dan fasilitas yang diperkirakan terkait program rudal dan nuklir Teheran.

Imam menambahkan, serangan itu menurut laporan menewaskan lebih dari 200 warga Iran, termasuk puluhan anak sekolah.

Serangan tersebut juga menyebabkan ratusan lainnya luka-luka di berbagai provinsi, termasuk serangan yang menghantam sekolah dasar di Minab yang menewaskan puluhan anak sekolah perempuan.

Otoritas Israel bahkan menyatakan terdapat indikasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meskipun belum dikonfirmasi secara independen.

Sejumlah pejabat militer tinggi Iran juga dilaporkan turut menjadi korban serangan tersebut.

Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal balistik terhadap negara-negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk.

Wilayah tersebut mencakup Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania dan Irak, yang menyebabkan sembilan korban tewas sipil di beberapa wilayah.

Konflik ini memicu sirine serangan udara di wilayah Israel, pengerahan besar-besaran reservis, serta penetapan zona peringatan maritim untuk kapal sipil.

Kondisi ini memperluas ketidakpastian geopolitik yang telah berlangsung sejak konflik Iran–Israel besar sebelumnya pada pertengahan 2025.

Beberapa fakta kunci terkait eskalasi ini meliputi:

  • Pasokan Energi: Selat Hormuz merupakan rute transit penting bagi 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap harinya.
  • Penutupan Jalur: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penutupan atau pembatasan akses terhadap Selat Hormuz.
  • Status Keamanan: Jalur tersebut dinyatakan tidak aman untuk dilintasi dan kegiatan pelayaran telah dihentikan.
  • Peringatan Maritim: Tanker besar menerima peringatan dari IRGC untuk tidak melintas, sementara otoritas AS meminta kapal sipil menjauhi kawasan Teluk.

"Beberapa laporan menyatakan bahwa kapal dagang, termasuk tanker besar, telah menerima peringatan dari IRGC bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz, sementara otoritas maritim AS memperingatkan kapal sipil untuk menjauhi kawasan Teluk karena risiko konflik yang tinggi," beber Imam.

Gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi global karena jalur ini memfasilitasi perdagangan minyak dan gas mencapai puluhan juta barel per hari.

Hal ini berdampak langsung pada harga minyak, rantai pasok energi, serta biaya asuransi pengiriman yang bisa melonjak tajam.

Kebijakan Ekonomi AS dan Tekanan Fiskal Domestik

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga mengalami perubahan signifikan pekan ini.

Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum.

"Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum, memaksa administrasi AS untuk mencari dasar hukum baru guna mempertahankan beberapa kebijakan tarif tersebut," papar Imam.

Trump kemudian mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen sebagai respons terhadap pembatalan tersebut.

Sementara itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia.

Tarif yang ditetapkan berkisar antara 86 persen hingga 143,3 persen karena dianggap mendapatkan subsidi yang merugikan industri domestik AS.

"Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait," ujar Imam.

Di dalam negeri, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperingatkan bahwa tekanan fiskal Indonesia terus meningkat.

Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan berpotensi bertahan di atas level 15 persen.

Angka ini menjadi ambang batas penting dalam penilaian kesehatan fiskal suatu negara. Jika rasio tetap tinggi dalam jangka menengah, potensi penurunan peringkat kredit (downgrade) bisa terjadi.

"Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," lanjut Imam.

Sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan jika risiko gangguan pasokan berlanjut.

Kenaikan harga minyak mentah dapat menguntungkan emiten batu bara dan migas dari sisi harga jual rata-rata (ASP).

Namun, kondisi ini akan menekan sektor aviasi dan industri manufaktur yang berbasis impor bahan bakar.

Selain itu, kenaikan premi risiko biasanya mendorong penguatan harga emas, sehingga sektor tambang emas dan logam mulia berpotensi diuntungkan.

Pekan ini, pasar juga menanti rilis data penting seperti PMI Manufaktur Indonesia, Neraca Perdagangan, Inflasi, PMI ISM AS, Cadangan Devisa, hingga Non-farm Payrolls AS.

Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham

IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi pada level support 8.031 dan resistance 8.437.

Pergerakan ini dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global dan sentimen fiskal domestik.

"Ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia," jelas Imam.

Bagi IHSG, kenaikan harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan.

Indonesia sebagai eksportir komoditas energi berpotensi diuntungkan dari peningkatan harga jual rata-rata (ASP) dan perbaikan margin emiten.

Namun, jika lonjakan harga energi terlalu tajam, risiko inflasi global dan tekanan nilai tukar Rupiah dapat meningkat.

"Jika Rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko," imbuh Imam.

Merespons dinamika ini, IPOT merekomendasikan strategi trading saham-saham breakout melalui aplikasi yang dilengkapi fitur xRDN.

Berikut adalah rekomendasi saham untuk pekan ini:

  • Buy on Breakout ENRG (Entry 1.820, Target 2.000, Stop Loss <1>

  • Buy on Breakout ARCI (Entry 1.900, Target 2.030, Stop Loss <1>

  • Buy on Breakout HMSP (Entry 910, Target 980, Stop Loss <875>

  • Buy Reksa Dana Saham Premier ETF Syariah JII (XIJI) (Entry 682, Target 700, Stop Loss <671>

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.