Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Disebut Gugur Akibat Serangan Amerika-Israel
Moh. Habib Asyhad March 03, 2026 04:36 PM

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan gugur dalam serangan gabungan Israel-Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026, kemarin.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Pemimpin kharismatik sekaligus pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan telah gugur dalam serangan gabungan Israel-Amerika Serikat, Sabtu, 28 Februari 2026. Kabar itu dilaporkan oleh stasiun televisi dan kantor berita resmi Iran, IRNA.

Tak lama setelah serangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam siaran televisi pada Sabtu waktu setempat, mengatakan, ada tanda-tanda yang semakin kuat yang menunjukkan bahwa Khamenei telah terbunuh ketika Israel menyerang kompleks bangunan yang diyakini di mana dia berada. Pernyataan itu lalu dikonfirmasi oleh dua pejabat Israel, sebagaimana dikutip dari Kompas.ID.

Tak hanya Netanyahu, Presiden AS Donald Trump juga membenarkan kabar tersebut. Lewat media sosial Truth Social dia mengonfirmasi kematian Khamenei.

Teheran sendiri bergerak cepat untuk menepis narasi kematian sang pemimpin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa baik Ayatollah Ali Khamenei maupun Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi aman dan sehat.

Di sisi lain, kantor Hubungan Masyarakat Khamenei melalui Seyyed Mehrdad Seyyed Mahdi menyebut klaim Trump sebagai "perang psikologis". Langkah Iran ini bertujuan untuk:

- Menjaga Solidaritas Militer: Memastikan moral pasukan IRGC tetap tinggi di tengah desakan pembelotan oleh pihak Barat.

- Meredam Kepanikan Publik: Menjaga stabilitas dalam negeri dari potensi pemberontakan atau kekosongan kekuasaan.

- Kontra-Narasi: Menegaskan bahwa struktur komando Iran tetap utuh dan agresi AS-Israel akan tetap dihadapi dengan tindakan defensif yang terencana.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin tertinggi kedua Iran sejak Revolusi Iran yang terjadi pada 1979. Khamenei lahir di Mashhad, Iran, pada 1939 dan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara dalam keluarga religius, di mana ayahnya adalah seorang ulama.

Khamenei mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang ulama dan bahkan memenuhi syarat sebagai ulama pada usia 11 tahun. Sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi Iran dia pernah menjabat sebagai Presiden Iran selama beberapa tahun.

Khamenei memainkan peran kunci dalam Revolusi Iran 1979, ketika dinasti Pahlevi di bawah Mohammad Reza Shah Pahlavi digulingkan. Sebagai seorang orator yang efektif, Khamenei bergabung dengan para pengritik Shah Iran, raja yang akhirnya digulingkan oleh revolusi.

Sebagai seorang pejuang revolusi, Khamenei pernah hidup di bawah tanah. Juga masuk penjara selama bertahun-tahun. Dia ditangkap enam kali oleh polisi rahasia Shah, disiksa, dan diasingkan di dalam negeri.

Setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini mendirikan Partai Republik Islam, Ali Khamenei mencapai kekuatan politik yang cukup besar sebagai orang kepercayaannya. Dia lalu terpilih sebagai presiden Iran pada 1981 dan menjadi ulama pertama yang menjabat di posisi tersebut.

Delapan tahun kemudian, Khamenei dipilih oleh para pemuka agama sebagai penerus Ayatollah Khomeini yang meninggal dunia pada usia 86 tahun. Sejak saat itu, Khamenei menempati posisi paling berkuasa di tengah-tengah jaringan kekuasaan yang saling bersaing.

Khamenei mampu memveto setiap kebijakan publik dan punya hak untuk memilih kandidat pejabat publik. Sebagai kepala negara dan panglima tertinggi militer, yang mencakup Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), posisi tersebut membuatnya sangat berkuasa.

Di Iran, ucapan Ali Khamenei adalah mutlak. Forbes pernah menobatkannya sebagai orang ke-21 dalam daftar “Orang Paling Berpengaruh di Dunia” karena dianggap sebagai otoritas politik paling kuat di Iran, bahkan lebih kuat daripada Presiden negaranya.

“Saya memiliki jiwa yang miskin, tubuh yang tidak lengkap, dan sedikit martabat yang telah Anda berikan kepada saya - saya akan mengorbankan semuanya untuk Revolusi dan untuk Islam," kata Ayatollah Ali Khamenei pada 2009 lalu.

Sebagai anak kedua dari delapan bersaudara dari pasangan Seyyed Javad Khamenei dan Khadijeh Mirdamadi di Mashhad, kota paling suci Iran, Ali Khamenei mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang ulama. Tapi tentu saja itu bukan pilihan yang mudah baginya.

Ketika itu Iran berada di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Raja sekuler yang memandang agama sebagai sesuatu yang kuno dan mencurigakan.

"Khamenei menjadi ulama ketika dia masih sangat muda, pada usia 11 tahun," menurut kata Mehdi Khalaji, yang menulis biografi Ayatullah melansir BBC.

Status itu membuatnya menjalani masa pertumbuhan yang tidak mudah. Banyak anak sepantarannya mengejek seragam ulamanya yang sering membuatnya kesulitan untuk bermain dengan anak-anak lain di jalanan. Menurut salah satu anggota keluarga terdekatnya, Khamenei adalah pria pendiam yang menyukai puisi. Meski begitu, dia juga sangat baik dan mudah bergaul.

Di tahun-tahun awalnya, Ali Khamenei juga suka merokok dan bahkan menghisap cerutu, kebiasaan yang sangat tidak biasa bagi seorang pria religius. Khamenei kemudian menjadi pendukung dari musuh utama Raja Shah, ulama yang diasingkan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Ayatollah ingin membawa ajaran Islam ke Iran. Ali Khamenei yang pada akhirnya mencoba menyebarkan pesan ayatullah di Iran. Alhasil, polisi Raja Shah menangkapnya enam kali.

Dalam tahanan, ulama Ali Khamenei berbagi sel penjara dengan Houshang Asadi, seorang komunis muda. Ulama dan komunis saat itu bergaul dengan cukup baik. Salah satunya karena selama 1970-an, kelompok-kelompok Marxis juga berusaha menyingkirkan Shah.

Teman-teman satu selnya, mengenal Khamenei sebagai ulama yang sangat baik, dan memiliki selera humor bahkan untuk hal terkecil sekalipun. Tapi, ketika itu tidak ada yang pernah menyangka bahwa Khamenei akhirnya akan menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Baru pada 1979, kondisi berubah setelah Raja Shah jatuh. Ayatollah Khomeini pulang dari Paris, dan mendirikan Partai Republik Islam. Ulama yang ketika itu berusia 40 tahun semenjak itu menjadi anggota dalam lingkaran penguasa baru.

Dia sempat menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan dan sebagai pengawas Pengawal Revolusi Islam pada 1980. Pada Juni 1981, sebuah kelompok oposisi bersenjata, Organisasi Mujahidin Khalq, mencoba membunuhnya dengan bom yang disembunyikan di dalam tape recorder ketika dia sedang menyampaikan pidato.

Percobaan pembunuhan itu membuat Khamenei terluka parah. Dia akhirnya selamat meski harus kehilangan fungsi lengan kanannya. Tak lama setelah itu, Presiden Mohammad Rajai dibunuh. Khamenei pun terpilih sebagai Presiden Iran dengan suara telak dalam pemilihan presiden Iran pada Oktober 1981. Dia menjadi ulama pertama yang menjabat sebagai Presiden di negara itu.

Era 1980-an adalah era-era paling bergejolak di Iran. Khamenei membantu membimbing bangsanya selama Perang Irak-Iran, dan menjalin hubungan dengan Pengawal Revolusi.

Dia terpilih kembali sebagai presiden pada 1985, ketika masih dalam pemulihan. Saat menjabat sebagai presiden, dia juga menjadi ketua Dewan Pertahanan Tertinggi dan Dewan Revolusi Kebudayaan Tertinggi.

Lalu pada Juni 1989 Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Khomeini, meninggal. Para ulama bertemu untuk memilih pemimpin baru. Ali Khamenei yang saat itu berusia 49 tahun, muncul sebagai kandidat konsensus yang tidak ofensif.

Adapun sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei ternyata memiliki kekuasaan yang lebih besar dari Presiden Iran. Presiden Iran sendiri meski dipilih secara demokratis, bahkan harus mendapat persetujuannya untuk mengambil jabatan itu.

Program nuklir Iran telah menjadi bahan perdebatan internasional selama beberapa dekade. Tapi selama masa jabatan Khamenei, dia lalu menyalakan kembali kontroversi dengan mengeluarkan fatwa yang mengatakan produksi, penimbunan dan penggunaan senjata nuklir dilarang di bawah Islam.

Meskipun seorang Muslim konservatif, Khamenei mendukung penelitian sel induk dan kloning terapeutik, karena dia selalu mendukung kemajuan ilmiah di Iran. Menurutnya, negara harus melakukan lebih banyak investasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan memberikan status yang lebih tinggi kepada para sarjana.

Namun ketika Presiden Mohammad Khatami menjabat pada 1997, kedua orang itu tidak menikmati hubungan yang mulus karena ideologi mereka sering bertentangan. Khatami menyerukan reformasi politik dan sosial dan negara Islam yang lebih demokratis, sementara Khamenei lebih konservatif dalam pandangannya.

Walaupun dia telah menyebut hak asasi manusia sebagai prinsip dasar dalam ajaran Islam, dia sering dikritik oleh media barat atas keadaan hak asasi manusia yang menyedihkan di Iran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.