Pekanbaru, (ANTARA) - Kepolisian Daerah Riau mengungkap sindikat perburuan satwa liar yang telah menyebabkan kematian sembilan ekor gajah sejak tahun 2024 hingga 2026, dengan korban gajah terakhir ditemukan dalam kondisi kepala terpotong di Kabupaten Pelalawan.
Kepala Polda Riau Inspektur Jenderal Polisi Herry Heryawan dalam konferensi pers di Pekanbaru, Selasa, mengatakan pihaknya semula melakukan penyelidikan kematian gajah yang ditemukan pada 2 Februari 2026, namun kemudian terungkap praktik ini terjadi tidak hanya satu atau dua kali.
"Kita mengungkap kasus yang 2 Februari, tapi ternyata dari sindikat ini sudah ada delapan kasus kematian gajah sejak 2024. Tahun 2024 dan 2025 masing-masing dengan kasus ditembak semua. Di tempat kejadian perkaranya masih ditemukan tulang belulang," katanya.
Kapolda mengungkapkan bahwa sindikat ini melakukan pola kejahatan yang sifatnya sama, dimulai dari menembak, kemudian mengambil gadingnya untuk dijual melalui sejumlah perantara.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Komisaris Besar Polisi Ade Kuncoro merinci kasus sembilan gajah mati tersebut. Pertama, ada dua kematian gajah di dua tempat kejadian perkara pada Februari 2024 di Desa Bagan Limau Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Selanjutnya satu gajah pada Desember 2024 di Barak Kundur Kawasan Hutan Tanaman Industri, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui. Kemudian masing-masing satu di Barak Kundur Desa Lubuk Kembang Bunga dan Kawasan Arara Abadi Desa Kesuma pada Juni 2025.
Kemudian pada Juli 2025 dieksekusi satu ekor gajah di Sungai Bambu Kawasan PT RAPP juga Desa Lubuk Kembang Bunga. Lalu pada Agustus 2025, satu gajah di Sungai Bambu Kawasan PT RAPP Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui.
Setelah itu, pada September 2025, satu ekor gajah di Barak Kundur, Desa Lubuk Kembang Bunga, dan terakhir pada Februari 2026 di areal konsesi PT RAPP juga masih di Desa Lubuk Kembang Bunga.
Untuk kasus tersebut, Polda Riau telah menetapkan 15 orang tersangka yang berperan mulai dari eksekutor hingga perantara barang. Perburuan dilakukan dari Riau, Padang, Jakarta, Surabaya, Solo dan Kudus dengan tiga orang masih buron.







