TRIBUNJOGJA.COM - Kawasan Teluk benar-benar menjadi palagan mengerikan setelah Israel dibantu sekutu terbaiknya, Amerika Serikat (AS) menyerang Iran dengan kekuatan penuh pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Serangan kilat itu ternyata membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Meski belum dijelaskan detailnya, sejumlah media mengonfirmasi jika cucu dan menantu Khamenei dikabarkan tewas dalam momentum tersebut.
Serangan ini berujung pada pembalasan Iran. Israel dan pangkalan militer AS di sejumlah negara kawasan Teluk dirudal. Kekacauan menyeruak.
Api peperangan berkobar besar dan diyakini belum akan segera padam.
Ditambah dengan kematian Khamenei, perang penghabisan oleh Garda Revolusi Iran dipastikan akan dijalankan. Dengan lebih brutal dan kejam.
Dampak secara global sudah terlihat di depan mata.
Iran sudah menutup Selat Hormuz, di mana selat sempit itu adalah jalur vital pengiriman minyak dan gas ke pasar dunia.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia akan terhambat. Akibatnya, harga minyak mentah akan naik siginifikan.
Perut-perut rakyat negara dunia ketiga, seperti Indonesia, jelas lebih akan terdampak dibandingkan efek dari perang panjang Ukraina-Rusia.
Jika harga minyak dunia naik, sudah dipastikan akan berpengaruh dengan harga bahan bakar minyak (BBM) kita.
Subsidi jebol. Pilihan terburuk tapi rasional adalah menaikkan harga BBM bersubsidi.
Akibatnya, harga-harga kebutuhan hidup akan terkerek pula, karena BBM yang menjadi satu variabel penentu harga produksi mengalami kenaikan.
Padahal ekonomi negeri ini sekarang sedang tiarap. Atau kalau tidak ingin terdengar radikal, sebut saja rebahan.
Bisnis bukan tidak mungkin mengalami penuruan omzet di mana-mana, yang berujung pada pemutusan hubungan kerja.
Membuka usaha sendiri pun tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ada unsur modal, tempat, dan keberuntungan di sana.
Belum dengan pemeo saat ini, “jika semua orang berjualan, lalu siapa yang mau beli?” Inilah dampak melemahnya ekonomi yang nyata-nyata dirasakan akhir-akhir ini.
Posisi Indonesia benar-benar terimpit. Persoalan makan bergizi gratis yang menyedot ratusan triliun rupiah anggaran saja belum selesai.
Ditambah dengan sorotan pendirian koperasi desa merah putih yang terus menyita perhatian publik.
Apakah rencana besar pemerintah itu akan berhasil? Mampu menggerakkan ekonomi di setiap desa? Lebih banyak yang menyangsikan daripada berdiri dengan sudut pandang optimisme.
Jangankan menakar apa yang terjadi di kemudian hari, saat serangan pertama dilancarkan Israel-AS ke Iran, belum terdengar kecaman resmi yang muncul dari lembaga negara. Baik itu kementerian maupun Istana.
Padahal apa yang dilakukan dua sekutu kental itu terhadap Iran melanggar piagam PBB dan hukum internasional.
Aksi para agresor tersebut pun sudah pasti berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan ekonomi yang serius di kawasan.
Eskalasi di sekitar Iran juga dinilai mengancam keamanan nuklir pun radiologis.
Jika untuk mengecam tindakan agresif yang melanggar kedaulatan negara lain saja kita tak mampu, lalu bagaimana kita berperan untuk mengupayakan perdamaian dunia?
Padahal negara ini mengamanatkannya dalam pembukaan dasar hukum tertinggi kita, UUD ‘45: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
(*/hendy kurniawan)