Oleh: H. Rajudin Sagala, S.Pd.I, Wakil Ketua DPRD Kota Medan F-PKS
Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah tawarkan kepada hamba-Nya sebagai momentum meraih balasan amal yang berlipat ganda, balasan yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya.
Karena itu, jadikanlah Ramadhan sebagai bulan ibadah, dengan harapan Allah memberikan ganjaran yang melebihi sebelas bulan di luar Ramadhan.
Boleh jadi di antara kita memiliki keterbatasan dalam beribadah. Namun, jangan sampai keterbatasan tersebut membuat amal kita minim balasan.
Kita berharap, di tengah segala keterbatasan yang ada, Allah tetap melipatgandakan pahala amal kita, terlebih di bulan Ramadhan ini, sehingga kita menjadi bagian dari hamba-hamba yang bertakwa dan dicintai Allah, serta layak digolongkan sebagai hamba yang saleh.
Adapun cara untuk melejitkan balasan amal di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
1. Al-Ikhlashu Fii ‘Amali (Ikhlas dalam Beramal)
Setiap amal yang kita kerjakan harus diniatkan semata-mata untuk mencari ridha Allah. Amalan yang tidak ditujukan kepada Allah akan tertolak dan tidak bernilai di sisi-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”
Rawatlah setiap amal agar benar-benar ikhlas dalam menjalankannya, sehingga Allah membalasnya dengan pahala berlipat ganda, terlebih di bulan Ramadhan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) di bulan ini (Ramadhan) dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti orang yang melakukan amalan wajib di bulan lain. Dan barangsiapa yang melakukan satu amalan wajib di bulan ini, maka pahalanya seperti orang yang melakukan 70 amalan wajib di bulan lain.”
2. Al-Khusyu’ Fii Ibadah (Fokus dalam Beribadah)
Setelah ikhlas, kita harus menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah. Amal yang dilakukan dengan fokus dan penuh konsentrasi hanya kepada Allah akan semakin bernilai.
Allah berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.”
Khusyuk adalah menghadirkan hati sepenuhnya kepada Allah saat beribadah, tidak lalai dan tidak terpecah oleh urusan dunia.
3. Istiqamah Fii Amali (Rutin dalam Beramal)
Allah lebih mencintai amalan yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, walaupun sedikit, dibandingkan amalan besar yang hanya sesekali dilakukan.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu (rutin/istiqamah), walaupun itu sedikit.”
(HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783)
Jika amalan yang sedikit saja dicintai Allah karena konsistensinya, apalagi amalan yang banyak dan dilakukan secara rutin, tentu balasannya akan jauh lebih besar.
4. Ash-Shabru fil Imtihan (Sabar Saat Diuji)
Dalam beramal, kita pasti menghadapi ujian dan cobaan. Hal itu merupakan bagian dari cara Allah menguji kesungguhan dan kesabaran hamba-Nya. Apakah ia tetap menjaga amalnya di tengah ujian, atau justru menyerah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Dan dalam Surah Az-Zumar ayat 10:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
Kesabaran dalam menjaga amal akan semakin mendekatkan kita kepada Allah dan menjadi sebab dilipatgandakannya pahala.
Mari kita pastikan, setiap kali beramal, empat kiat di atas dapat kita wujudkan: ikhlas, khusyuk, istiqamah, dan sabar.
Semoga Allah memberikan balasan amal kita dengan pahala yang berlipat ganda, terlebih di bulan Ramadhan ini, bulan di mana Allah melimpahkan rahmat dan pahala-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
(*/tribun-medan.com)