Pemerintah Pusat Bantu Penataan 500 Hektare Hutan Sagu di SBT, Bupati Dorong Kolaborasi Pengusaha
Ode Alfin Risanto March 03, 2026 07:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Pemerintah pusat memberikan dukungan penataan hutan sagu seluas 500 hektare di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku.

Bupati Fachri Husni Alkatiri, mengatakan bantuan tersebut menjadi langkah awal penguatan komoditas sagu di daerah sekaligus mendorong kolaborasi dengan pelaku usaha.

“Untuk penataan hutan sagu tahun ini ada bantuan dari pemerintah pusat sekitar 500 hektare,” ungkap Fachri, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: Maluku jadi Provinsi Nilai Tukar Petani Terendah di Indonesia, Februari 2026 NTP Sebesar 93,42

Baca juga: UPDATE! Jadwal KM Binaiya 4 Maret - 4 April 2026: Rute Bima, Labuan Bajo, Makassar

Menurutnya, program tersebut akan dilakukan secara bertahap sambil pemerintah daerah menyiapkan kebijakan lanjutan agar potensi sagu benar-benar memberi dampak ekonomi.

“Jadi pelan-pelanlah, mudah-mudahan suatu saat yang dianggap mustahil bisa membanggakan kita,” ujarnya.

Selain penataan hutan, Fachri menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pengusaha untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan baku sagu.

Ia menyebut daerah memiliki sumber daya, sementara pelaku usaha memiliki pengalaman dan akses pasar.

“Memang poin penting dari ide baru kayak begini itu kolaborasi. Kita punya bahan, ibu punya pengalaman, punya pasar juga ibu sudah punya,” kata Fachri.

Ia menegaskan, kemitraan tersebut dibutuhkan agar potensi sagu yang melimpah tidak terbuang percuma.

“Nah, kita butuh kolaborasi supaya bahan baku kita ini akhirnya bisa termanfaatkan secara baik,” tambahnya.

Fachri juga mengaku prihatin masih banyak pohon sagu di SBT yang mati tanpa dimanfaatkan secara ekonomi.

“Banyak pohon sagu yang sudah mati. Dan itu banyak sekali sepanjang jalan, berapa banyak uang yang hilang,” katanya.

Ia bahkan mengaku memiliki perasaan campur aduk setiap mendengar para pegiat sagu memperjuangkan komoditas tersebut.

“Saya hanya punya dua rasa selalu, rasa malu dan rasa sedih,” tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.