TRIBUNSUMSEL.COM - Malam Lailatul Qadar menjadi momen yang paling dinantikan umat Muslim pada bulan Ramadan, karena pada malam ini diturunkannya Al-Quran yang menjadi petunjuk bagi umat manusia.
Melansir laman Baznas, dalam Al-Quran surat Al-Qadr ayat 3, Allah SWT menetapkan keutamaan malam Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam ini akan diampuni dosa yang telah lampau bagi orang yang beribadah di malam lailatul qadar atas dasar iman kepada Allah SWT.
Lailatul Qadar jatuh pada malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Meskipun tidak disebutkan tanggal yang pasti, namun terdapat petunjuk dalam Al-Quran dan hadits yang memberikan informasi tentang tanda-tanda dan keistimewaan malam Lailatul Qadar ini.
Dari petunjuk yang diberikan Rasulullah SAW, menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada tanggal ganjil 10 hari terakhir Ramadhan.
Berdasarkan sidang isbat oleh Kementerian Agama (Kemenag), malam Lailatul Qadar 2026 kemungkinan terjadi pada tanggal berikut ini:
Namun untuk lebih lengkapnya, berikut petunjuk lain dari Rasulullah terkait waktu datangnya malam Lailatul Qadar:
Dikutip dari laman Kementerian Agama (Kemenag), berikut sejumlah petunjuk Rasulullah SAW terkait kapan terjadinya malam Lailatul Qadar:
“Carilah lailatul qodar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan” (HR. Bukhari)
“Carilah lailatul qodar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain
“Carilah lailatul qodar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa” (HR. Bukhari).
“Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh” (HR. Muslim dari Ubay Bin Ka’ab).
Demikian juga hadis dari Mu’awiyah beliau menukil perkataan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam,
“Lailatul qodar pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Abu Daud).
Akan tetapi, para ulama menjelaskan bahwa malam ke-27 ini tidak menunjukkan kepastian tapi diharapkan besar datangnya lailatul qodar karena bisa jadi lailatul qodar turunnya di tanggal berbeda setiap tahun.
Di Malam Lailatul Qadar disebutkan keaadaan alam tenang, udara juga menjadi tidak terasa panas maupun dingin.
Sehingga penduduk bumi yang merasakan akan merasa tentram dan nyaman.
Hal itu seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra yang menyatakan Rasulullah SAW SAW bersabda
"Lailatul Qadar adalah malam tentram dan tenang tidak terlalu panas, dan tidak pula terlalu dingin, besok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah (H.r Ath Thayalisi di Musnadnya hala.349 no 2680)
Biasanya, ciri-ciri lailatul qadar dapat dirasakan atau dilihat bukan pada saat atau akan terjadinya lailatul qadar.
Akan tetapi, malam Lailatul Qadar biasanya baru akan terasa atau terlihat setelah malam lailatul qadar itu tiba.
Satu di antara cirinya yakni bagaimana suasana keesokan pagi harinya saat matahari terbit.
Ubay bin Ka’ab ra. mengatakan bahwa Rasulullah SAW saw. bersabda,
"Keesokan hari lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan,” (H.R. Muslim).
Menurut pendapat sejumlah ulama di antara ciri-ciri tanda Laialatul Qadar ialah adanya perasaan beribadah terasa lebih khusyuk.
Di malam itu mereka yang mendapatkan Lailatul Qadar di hatinya akan sangat khidmat ketika beribadah.
Tanda ini memang tidak bisa dirasakan oleh semua orang.
Bisa saja hanya dapat dirasakan oleh mereka yang selalu menghidupkan, malamnya dengan ibadah selalau merasakan ketanagan dan kenikmatan hati.
Lailatul Qadar disebut malam yang istimewa.
Pasalnya, malaikat Jibril beserta seluruh malaikat turuk ke bumi untuk mendoakan orang-orang mukmin yang berdoa dan berzikir memohon kepada Allah semesta alam.
Oleh karena itu bumi menjadi padat dan sesak karena penuh dengan malaikat.
Hal tersebut yang menyebabkan sejumlah ulama mengibaratkan keistimewaan malam Lailatul Qadar.
Saking padatnya bumi karena dipenuhi oleh malaikat, alam menjadi lebih tenang dan tidak banyak bergerak.
Ciri-ciri datangnya lailatul qadar juga pernah diceritakan dalam sebuah riwayat hadir melalui mimpi.
Sahabat Ibnu Umar ra. bercerita bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi saw. diperlihatkan lailatul qadar dalam mimpi (oleh Allah Swt.) pada tujuh malam terakhir (Ramadan).
Kemudian, Rasulullah SAW saw. berkata,
"Aku melihat bahwa mimpi kalian (tentang lailatul qadar) terjadi pada tujuh malam terakhir. Maka barang siapa yang mau mencarinya maka carilah pada tujuh malam terakhir,(H.R. Muslim)
Sebagian ulama berpendapat salah satu ciri-ciri Lailatul Qadar bisa ditandai dengan hujan atau gerimis.
Pendapat ini berdasarkan pada peristiwa ketika Rasulullah SAW SAW diberikan mimpi untuk ditampakkan kapan Lailatul Qadar itu datang.
Pada zaman Nabi, masjid masih beralaskan tanah, tiang-tiangnya dari pelepah kurma, dan atapnya dari daun-daun kurma.
Sehingga, jika hujan atau gerimis maka di dalam masjid akan terlihat basah.
Saat Rasulullah SAW saw dihadirkan mimpi tentang kapan hadirnya lailatul qadar, lalu terbangun dari mimpinya, Allah sengaja buat Rasulullah SAW saw lupa dari mimpi tersebut.
Namun, yang teringat adalah ada bekas lumpur pada dahi Rasulullah SAW saw.
Hingga pada suatu saat ketika Rasulullah SAW selesai salat, beliau menengokkan kepalanya untuk salam, terlihat lumpur di dahinya.
Para sahabat melihat itu dan menganggap bahwa semalamnya adalah Lailatul Qadar.
Berdasarkan kisah inilah para ulama berpendapat, di antara tanda-tanda Lailatul Qadar ialah datangnya hujan atau gerimis di malam harinya.
Namun, para ulama juga berpendapat bahwa ciri-ciri tersebut tidak bisa dijadikan acuan.
Sebab, bisa jadi di malam lailatul qadar langit terlihat cerah atas kehendak Allah SWT.
Baca juga: Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar, Sama-sama Peristiwa Penting di Bulan Ramadhan
Baca juga: Man Qama Lailatul Qadri Imanan Wahtisaban Ghufrolahu Artinya, Hadits Keutamaan Malam Lailatul Qadar