TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai mencatat penumpang terdampak pembatalan penerbangan ke wilayah Timur Tengah kini mencapai 4 ribu lebih.
"Total penumpang yang cancel flight dari Bandara Internasional Murah Raya per hari ini adalah 4.426 orang penumpang," ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, Selasa 3 Maret 2026.
Jumlah tersebut terhitung sejak Sabtu (28/2/2026) sebanyak 1.802 penumpang, Minggu (1/3/2026) 1.316 penumpang dan Senin (2/3/2026) kemarin sebanyak 1.308 penumpang.
Baca juga: PUSING Bule Mau Pulang ke Brasil dari Bali, Usai Penerbangan ke Timur Tengah Masih Dibatalkan!
Sementara data hari ini dari maskapai belum masuk dan baru akan diterima esok hari karena pengumuman pembatalan diputuskan siang hari.
"Maskapai akan mengumumkan apakah mereka terbang atau cancel di pukul 14.30 WITA. Setelah itu status penumpang yang bersangkutan bisa dinyatakan bisa terbang atau tidak," imbuh Bugie.
Pada Sabtu (28/2/2026) lalu Imigrasi Ngurah Rai berhasil menggagalkan upaya 3 WNA masuk Indonesia melalui Bandara Ngurah Rai secara ilegal.
Di mana mereka yang merupakan satu keluarga asal Irak kedapatan menggunakan paspor Belgia palsu karena paspor Irak sulit untuk bepergian ke negara-negara Eropa.
Baca juga: 3.197 Penumpang Bandara Ngurah Rai Terdampak Perang Timur Tengah, 15 Penerbangan Dibatalkan
Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, mengapresiasi kepada jajarannya sekaligus memberikan peringatan terkait potensi dinamika perlintasan global.
“Hal ini bisa sangat mungkin terjadi kedepannya sebagai bentuk eksodus besar-besaran WN dari konflik Timur Tengah untuk memasuki negara lain yang dianggap aman dengan berbagai cara,” imbuhnya.
Saat ini pihaknya di Imigrasi Ngurah Rai secara khusus belum memiliki langkah mitigasi fenomena eksodus dari Timur Tengah ke Bali seperti konflik Palestina dan Ukraina di mana banyak warga negara dari dua negara itu eksodus ke Bali.
Baca juga: DAMPAK Perang Timur Tengah ke Ribuan Penumpang, 5 Penerbangan Bandara Ngurah Rai Ditunda dan Cancel!
"Belum ada (langkah mitigasi eksodus). Jadi kebijakan penerbitan visa dan kemudian perlintasan itu tetap sesuai dengan SOP yang berlaku sebelum terjadinya perang di Timur Tengah. Namun kami menunggu arahan lebih lanjut dari pusat," kata Bugie.
Ia menambahkan apabila Direktur Jenderal Imigrasi menerbitkan kebijakan yang baru mengenai mitigasi eksodus daripada warga negara Timur Tengah yang terdampak perang kami akan melaksanakan kebijakan tersebut.
Namun kebijakan itu belum ada dan pihaknya masih fokus terhadap penerbitan izin tinggal kepada penumpang-penumpang yang terdampak.
Dan data perlintasan imigrasi pun belum ada masuk karena penerbangan dari negara-negara di Timur Tengah ke luar negeri masih dibatalkan termasuk ke Indonesia khususnya Bali.
"Untuk sementara ini tidak ada penerbangan dari Timur Tengah yang masuk ke Bandara Ngurah Rai."
"Tentunya kalau misalnya sudah situasi kembali normal, penerbangan kembali diaktifkan, tentu data-data penumpang yang dari Timur Tengah itu akan masuk. Maka kami akan bisa monitor kembali terkait perlintasan tersebut," paparnya.
Disinggung apakah pihaknya akan melakukan pengawasan khusus terhadap WNA asal Timur Tengah yang berada di wilayah kerja Imigrasi Ngurah Rai, dampak memanasnya konflik antara Israel bersama sekutunya Amerika Serikat dengan Iran?
Dan sempat ramai di media sosial adanya aktivitas sekelompok WNA asal Iran di Bali yang menggelar pertemuan serta menyuarakan "Javid" Shah Iran.
Di mana kata "Javid" dalam bahasa Persia (Iran) memiliki arti abadi atau kekal.
Bugie Kurniawan menyampaikan pihaknya tetap menjalankan fungsi dan tugas dalam bidang pengawasan.
"Untuk saat ini kami menjalankan tugas pengawasan dan menegakkan hukum itu berlaku sama kepada semua warga negara. Karena wilayah kerja kami ini kan cukup padat dengan orang asing. Kalau kami memfokuskan hanya kepada beberapa warga negara tertentu saja, ini dikhawatirkan justru malah menciptakan ketidakseimbangan, keamanan dan ketertiban di wilayah kerja atau di Imigrasi Ngurah Rai," jelasnya.
Ia menambahkan dimana fungsi pengawasan terhadap WNA tetap rutin dilaksanakan mulai dari patroli keimigrasian, pengawasan rutin secara gabungan serta pengawasan rutin mandiri.
Selain itu melaksanakan koordinasi dengan tim pengawasan orang asing atau TimPORA yang terdiri dari aparat penegak hukum dan instansibterkait lainnya untuk terus mengawasi terkait isu-isu gangguan keamanan dan ketertiban di wilayah kerja Imigrasi Ngurah Rai.
"Jadi tetap semua informasi, semua isu gangguan keamanan ini kami akan tindaklanjuti secara cepat dari bidang intelijen dan penindakan keimigrasian di Kantor Imigrasi Ngurah Rai," kata Kakanim Ngurah Rai, Bugie Kurniawan. (*)