PSMTI Sulteng Gelar Cap Go Meh dan Buka Puasa Bersama, Ratusan Warga Lintas Agama Hadir
Regina Goldie March 03, 2026 09:26 PM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli

TRIBUNPALU.COM, PALU – Perayaan Cap Go Meh di Kota Palu, Sulawesi Tengah, tahun ini berlangsung berbeda. 

Tak hanya menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek, momen tersebut juga dirangkai dengan buka puasa bersama, menghadirkan suasana kebersamaan lintas agama yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Kegiatan yang digelar di Milenium Waterpark Palu, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Selatan, Selasa (3/3/2026), dihadiri ratusan warga dari berbagai latar belakang. 

Unsur organisasi keagamaan, tokoh kerukunan, hingga komunitas difabel Rumah Merah Putih turut ambil bagian dalam perayaan tersebut.

Acara ini diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah.

Pantauan TribunPalu.com, Sejak sore hari, suasana kebersamaan sudah terasa. 

Baca juga: Pemkot Palu Dukung Penuh Haul Guru Tua ke-58, Raudah Diusulkan Jadi Agenda Tahunan

Rangkaian acara diawali penampilan rebana oleh kaum difabel, dilanjutkan ceramah singkat dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof Zaenal Abidin.

Saat azan Magrib berkumandang, seluruh peserta bersama-sama berbuka puasa dan menunaikan salat. 

Kemeriahan Cap Go Meh kemudian ditutup dengan pertunjukan barongsai yang disambut antusias warga.

Ketua PSMTI Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, mengatakan Cap Go Meh memiliki makna khusus bagi etnis Tionghoa. 

Ia menjelaskan, Cap Go Meh merupakan malam ke-15 setelah Imlek atau malam purnama pertama dalam penanggalan tersebut, saat bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus.

“Momentum ini adalah pengulangan kebajikan yang luar biasa bagi kami etnis Tionghoa,” ujarnya dalam sambutan.

Baca juga: Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Polres Donggala Gelar Tes Urine Internal

Menurutnya, keselarasan alam pada malam Cap Go Meh menjadi simbol harmoni yang juga dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Perbedaan suku, ras dan agama, kata dia, bukan menjadi penghalang untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan.

“Alam saja bisa seimbang, apalagi manusia. Meski berbeda suku, ras dan agama, kita bisa berkumpul di sini, buka bersama sekaligus merayakan penutupan Imlek dalam Cap Go Meh,” katanya.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga diisi penyaluran tali asih berupa angpao kepada kaum difabel. 

Wijaya yang akrab disapa Ko Awi menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara.

Ia juga menyoroti semangat para difabel dari Rumah Merah Putih yang tampil kompak dalam kegiatan tersebut. 

Baca juga: Pemkab Donggala Batasi Aktivitas Penangkapan Ikan di Zona Wisata Pesisir

Menurutnya, keterbatasan fisik tidak mengurangi semangat dan kekuatan hati mereka.

“Semangat adik-adik kita dari Rumah Merah Putih bisa menjadi motivasi. Mungkin mereka memiliki kekurangan secara fisik, tetapi tidak dari hati. Mereka bisa kompak berlatih bersama,” tuturnya.

Wijaya menambahkan, kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa harmoni dapat tumbuh dari ruang-ruang perjumpaan yang sederhana namun bermakna.

Perpaduan perayaan Cap Go Meh dan buka puasa bersama itu pun menjadi gambaran nyata kerukunan di Kota Palu, ketika tradisi Tionghoa dan suasana Ramadan bertemu dalam satu panggung kebersamaan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.