Iran Bantah Hantam Kilang Minyak di Arab Saudi Pakai Drone, Tuding Israel Ciptakan Kekacauan
Muhammad Ridho March 03, 2026 09:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Sebuah drone yang dituding milik Iran menghantam fasilitas minyak Saudi Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi, hingga menyebabkan kebakaran pada Senin pagi (2/3/2026). 

Kebakaran yang sempat muncul berhasil dikendalikan dengan cepat oleh tim tanggap darurat, tanpa menimbulkan korban luka maupun korban jiwa.

Namun di tengah tudingan bahwa Iran berada di balik serangan tersebut, Teheran justru membantah keras.

Pernyataan ini memperkuat dugaan adanya kemungkinan operasi bendera palsu.

Iran bahkan menuduh Israel melakukan provokasi untuk memperluas perang.

“Kami tidak memiliki kepentingan menyerang fasilitas energi negara tetangga. Itu justru menguntungkan pihak yang ingin memicu konflik regional,” kata sumber tersebut.

Baca juga: Drone Iran Hantam Kilang Minyak Terbesar di Arab Saudi, Aramco Ditutup Sementara

Bantahan ini menjadi elemen penting dalam analisis bahwa sabotase terhadap Aramco bisa dimaksudkan untuk memancing respons keras Arab Saudi terhadap Iran.

Dampak ekonomi dari eskalasi ini langsung terasa. Harga gas Eropa melonjak hampir 50 persen setelah Arab Saudi menutup kilang terbesarnya dan Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG).

Perusahaan asuransi juga membatalkan perlindungan risiko perang bagi kapal-kapal di Teluk Persia, sementara lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz dilaporkan menurun drastis.

Situasi ini menempatkan Arab Saudi dan Qatar dalam posisi genting. Di satu sisi, mereka merupakan sekutu strategis Washington.

Di sisi lain, keterlibatan langsung dalam perang melawan Iran berisiko memicu ketidakstabilan besar di kawasan.

Jika benar terdapat upaya intelijen untuk menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik, maka dinamika perang Israel-AS melawan Iran bisa memasuki babak yang jauh lebih luas dan berbahaya.

Isu Operasi Sabotase 

Isu dugaan operasi rahasia intelijen Israel kembali memanaskan tensi kawasan Teluk. Komentator politik Amerika Serikat, Tucker Carlson, mengklaim Arab Saudi dan Qatar telah menangkap serta “menahan agen Mossad Israel yang merencanakan pengeboman di negara-negara tersebut”. 

Klaim ini memunculkan spekulasi serius mengenai kemungkinan adanya upaya menyeret Arab Saudi ke dalam perang terbuka antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.

Tucker Carlson adalah seorang komentator politik konservatif Amerika Serikat. Pandangan politiknya sering dikaitkan dengan Trumpism, dengan fokus pada kritik terhadap kebijakan luar negeri AS, isu imigrasi, serta dinamika sosial domestik.

Meski populer di kalangan konservatif, Carlson kerap menuai kontroversi karena pernyataannya yang tajam, terutama terkait Israel, Iran, dan kebijakan luar negeri Amerika, sehingga tetap menjadi figur sentral sekaligus kontroversial dalam lanskap politik dan media AS.

Dalam analisanya, Carlson mempertanyakan motif di balik dugaan operasi tersebut.

“Mengapa Israel melakukan pengeboman di negara-negara Teluk yang juga sedang diserang Iran? Bukankah mereka berada di pihak yang sama?” ujarnya dalam programnya.

Ia bahkan menuding Israel berupaya menciptakan kekacauan di antara sekutu-sekutu Arab Washington, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, demi memperluas konflik kawasan.

Kabar mengenai penangkapan agen Mossad di Arab Saudi dan Qatar hingga kini belum diverifikasi secara independen. Namun isu tersebut menyebar cepat di tengah meningkatnya ketegangan militer.

Sejumlah analis keamanan regional menilai, bila benar terjadi, langkah itu bisa mengindikasikan adanya operasi “false flag” untuk memicu konfrontasi langsung antara Iran dan negara-negara Teluk.

“Jika ada operasi sabotase yang diarahkan untuk menyalahkan Iran, itu jelas berpotensi menyeret Riyadh ke medan perang,” kata seorang pengamat Timur Tengah yang enggan disebutkan namanya.

Operasi False Flag

Operasi bendera palsu atau False flag adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu operasi atau tindakan yang dilakukan oleh pihak tertentu, tetapi sengaja dibuat seolah-olah dilakukan oleh pihak lain.

Tujuannya biasanya untuk menyesatkan publik, menciptakan alasan politik atau militer, serta membenarkan tindakan balasan.

Konsep ini banyak digunakan dalam konteks militer, intelijen, maupun politik, di mana sebuah serangan atau insiden dipalsukan identitas pelakunya agar menimbulkan persepsi yang menguntungkan pihak yang sebenarnya berada di balik operasi tersebut.

Saling serang

Pernyataan Carlson muncul di tengah operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Serangan terbaru disebut menewaskan ratusan warga sipil dan sejumlah pejabat tinggi Iran.

Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah membalas dengan menyerang lebih dari 500 target milik AS dan Israel menggunakan ratusan drone serta rudal.

Salah satu insiden paling krusial terjadi di fasilitas pengolahan minyak Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi.

Serangan drone memicu kebakaran terbatas dan memaksa penghentian sementara operasional di salah satu pelabuhan minyak terbesar dunia itu. 

Citra satelit resolusi tinggi memperlihatkan dua unit pemrosesan mengalami kerusakan serius, sementara aktivitas pemadaman berlangsung intensif.

( Tribunpekanbaru.com / Tribunnews )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.