TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hidup di balik jeruji besi kerap kali menjadi titik balik kehidupan seseorang.
Hal ini dialami langsung oleh Anggoro (45), seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jakarta.
Menjalani vonis 15 tahun penjara akibat kasus narkotika, Anggoro justru menemukan 'cahaya' di tempat yang paling gelap.
Ia yang dahulu awam soal agama, kini tergabung dalam program santri Lapas.
"Di luar (sebelum dipenjara), saya tidak mengenal bentuk huruf alif, ba, ta. Tapi di sini, alhamdulillah saya bisa tiap hari sujud berjamaah, salat berjamaah, dan baca Quran. Biarpun tidak selancar mereka yang sudah mahir, sekarang saya punya hafalan surat dan banyak ilmu agama yang saya dapatkan," ungkap Anggoro dengan nada haru.
Kondisi Lapas Narkotika Jakarta yang overcapacity (kelebihan kapasitas) memang tak bisa ditutupi.
Anggoro pun menceritakan, ia harus berbagi ruang sel dengan 17 warga binaan lainnya. Total ada 18 orang dalam satu sel yang tidak terlalu besar.
Belum lagi antrean makanan yang bisa memakan waktu karena banyaknya jumlah penghuni.
Namun, Anggoro melihat kondisi ini dari kacamata positif. Bagi para penghuni yang tergabung dalam program santri Lapas, kamar sel yang sempit justru mempererat tali persaudaraan mereka.
"Nilai positifnya, kita lebih berinteraksi dengan bermacam-macam manusia, suku, dan karakter. Di lapas ini, terutama di program santri, kamarnya penuh kekeluargaan. Kita itu satu atap, satu rumah, satu tempat tidur, satu penderitaan. Jadi dapat saudara beneran di sini," ungkapnya.
Dia pun menceritakan kegiatan selama bulan suci Ramadan, yang diisi dengan ibadah. Bangun jam 3 pagi untuk sahur bersama di kamar, dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah dan tadarus.
Menjelang siang, para warga binaan menuju masjid Lapas untuk mengikuti taklim dan belajar agama. Bahkan, para santri napi ini diajarkan untuk berdakwah melalui program kultum sesama warga binaan menjelang berbuka puasa.
Di luar bulan puasa, kata dia, Lapas juga membekali Anggoro dan kawan-kawan dengan berbagai keterampilan kemandirian. Mulai dari olahraga rutin setiap pagi, hingga pelatihan kerja seperti bakery (pembuatan roti), perkayuan, las, hingga konveksi.
Setelah bertahun-tahun merenungi kesalahannya, Anggoro tengah menanti Surat Keputusan (SK) Pembebasan Bersyarat.
Ia sangat berharap dapat kembali ke pelukan keluarganya pada tahun ini.
Anggoro pun menitipkan pesan bagi masyarakat luas agar tidak pernah mendekati barang haram narkotika. Ia menegaskan bahwa kenikmatan semu narkoba akan selalu berujung pada penderitaan yang panjang.
Baca juga: Akui Sempat Dapat Ancaman, Ammar Zoni Kini Lebih Merasa Aman Ditempatkan di Lapas Narkotika Jakarta
"Untuk semua masyarakat yang belum kenal narkoba, jangan coba-coba kenal. Yang sudah kenal, buruan lari atau terlepas dari itu. Karena seenak-enaknya orang yang hidup dengan lingkungan gelap, ujung-ujungnya akan pahit juga. Jangan sampai banyak orang yang merasakan apa yang saya rasakan di sini," pungkasnya.