Amalan-amalan yang Dicontohkan Rasulullah SAW di Malam Lailatul Qadar
Ayu Miftakhul Husna March 03, 2026 09:37 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia dalam bulan Ramadan, di mana pahala ibadah dilipatgandakan dan doa-doa mustajab.

Rasulullah SAW bersabda bahwa malam ini "lebih baik dari seribu bulan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Malam tersebut disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Qadr ayat 3-5 :

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 3-5)

Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah pada malam ini.

Amalan pada malam Lailatul Qadar

Berikut beberapa amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika Lailatul Qadar.

1. Ibadah pada 10 Hari Terakhir Ramadan

Semangat ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW menghidupkan malam-malam tersebut dengan beribadah, membangunkan keluarganya, dan memperbanyak membaca Al-Qur’an serta berdzikir.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah." (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).

Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun 2026? Ini Keutamaan, Makna, dan Tanda-tanda Kemunculannya

2. Menghadiri Shalat Isya dan Subuh Berjamaah

Menghidupkan malam Lailatul Qadar bisa dilakukan dengan menghadiri shalat berjamaah, khususnya shalat Isya dan Shubuh.

Imam Syafi’i dan ulama Madinah menjelaskan bahwa menghadiri kedua shalat tersebut termasuk bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar.

Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan:

"Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut."

Dalam perkataan Imam Syafi’i yang qadim (yang lama):

"Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut." (Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 329).

Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dan ulama lainnya di atas sejalan dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh." (HR. Muslim, no. 656 dan Tirmidzi, no. 221).

3. Melakukan Shalat Malam pada Malam Lailatul Qadar

Shalat malam pada Lailatul Qadar sangat utama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari, no. 1901)

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut).

Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Fath Al-Baari, 4:251)

4. Mengamalkan Doa pada Malam Lailatul Qadar

Doa pada malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan tersendiri. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

"Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–)." (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850, Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Ibnu Rajab rahimahullah memberi penjelasan:

"Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif (bijak) adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan, atau ucapan yang baik (saleh). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa."

Yahya bin Mu’adz pernah berkata:

"Bukanlah orang yang arif (bijak) jika ia tidak pernah mengharap pemaafan (penghapusan dosa) dari Allah." (Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 362-363).

(Tribunnews.com/Latifah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.