Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kebutuhan pangan masyarakat Lampung menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026 cenderung meningkat. Peningkatan konsumsi pangan berbanding lurus dengan kenaikan harganya.
Hal ini mencakup sejumlah komoditas strategis seperti beras, gula, minyak goreng, daging, dan cabai. Komoditas tersebut kerap dicari selama Ramadan dan Idul Fitri.
Sebagai salah satu daerah produsen pangan di Sumatera, Provinsi Lampung memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan, baik untuk kebutuhan daerah maupun wilayah sekitarnya.
Ketersediaan bahan pangan yang mencukupi menjadi modal utama untuk memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya tanpa kekhawatiran akan kelangkaan atau lonjakan harga yang berlebihan.
Namun demikian, upaya menjaga stabilitas pangan tidak terlepas dari sejumlah tantangan.
Baca juga: Pemkot Bandar Lampung Perketat Pengawasan Peredaran Bahan Pangan selama Ramadan
Faktor distribusi yang belum merata, kondisi cuaca yang dapat memengaruhi hasil panen, serta dinamika harga di tingkat nasional menjadi variabel yang turut memengaruhi kondisi pasokan dan harga di daerah.
Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan stabilitas pangan tetap terjaga.
Pemerintah Provinsi Lampung melalui Plt Kepala Biro Perekonomian Setprov Lampung Agust Riko Suryhana menjelaskan strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga jelang Lebaran 2026. Berikut selengkapnya.
Pertanyaan: Kita sudah memasuki 2–3 Ramadan 2026. Bagaimana kondisi stok pangan strategis di Provinsi Lampung pada awal Ramadan ini dan menjelang Idul Fitri nanti?
Jawab: Alhamdulillah sejauh ini sibuk memantau harga-harga pangan dan ada beberapa launching yang harus disaksikan, jadi cukup padat. Secara umum stok pangan strategis dalam kondisi aman dan terkendali. Beberapa komoditas bahkan memiliki surplus yang cukup untuk Ramadan dan Idul Fitri.
Pertanyaan: Komoditas surplus itu seperti apa saja?
Jawab: Beberapa komoditas seperti gula, minyak, dan beras dalam kondisi cukup. Namun ada beberapa komoditas yang perlu diwaspadai karena biasanya mengalami lonjakan permintaan musiman.
Pertanyaan: Komoditas apa saja yang berpotensi mengalami lonjakan tinggi?
Jawab: Ada beberapa komoditas yang masih tergantung pasokan dari luar daerah seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan bawang putih. Karena di beberapa daerah masa panen sudah selesai dan saat ini musim hujan, distribusi bisa terhambat sehingga harga berpotensi naik.
Pertanyaan: Kalau harga berpotensi naik, bagaimana dengan ketersediaan stoknya? Apakah aman atau justru sedikit?
Jawab: Alhamdulillah stok relatif aman. Kita sudah memprediksi melalui neraca pangan dan stok masih cukup hingga Maret–April, bahkan masih surplus.
Pertanyaan: Strategi apa yang diterapkan Pemprov Lampung untuk menjaga stabilitas harga, misalnya melalui pasar murah atau operasi pasar selama Ramadan?
Jawab: Kami menerapkan prinsip 4K, yaitu ketersediaan bahan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Untuk komoditas yang diperkirakan melonjak, kami sudah menyiapkan intervensi seperti gerakan pasar murah dan operasi pasar di titik-titik yang mengalami tekanan harga, sehingga tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran.
Pertanyaan: Untuk Provinsi Lampung ada berapa titik rencana pelaksanaan pasar murah atau operasi pasar?
Jawab: Setiap kabupaten/kota ada beberapa titik. Pelaksanaannya berkoordinasi dengan TPID kabupaten/kota karena mereka lebih mengetahui lokasi yang mengalami tekanan harga sehingga bisa langsung diintervensi.
Pertanyaan: Di wilayah mana saja?
Jawab: Sudah dilaksanakan di beberapa daerah seperti Lampung Selatan, Mesuji, Lampung Timur, dan Kota Bandar Lampung.
Pertanyaan: Bagaimana respons masyarakat terhadap pasar murah atau operasi pasar?
Jawab: Itu sangat ditunggu masyarakat. Begitu ada pasar murah atau operasi pasar, masyarakat sangat senang.
Pertanyaan: Bagaimana sosialisasi pasar murah atau operasi pasar kepada masyarakat?
Jawab: Biasanya dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Mereka membuat flyer dan menyebarkannya melalui media sosial, serta berkoordinasi dengan TPID kabupaten/kota, kecamatan, dan kelurahan setempat.
Pertanyaan: Bagaimana koordinasi Pemprov dengan Bulog, pemerintah kabupaten/kota, dan distributor dalam menjaga pasokan selama Ramadan?
Jawab: Koordinasi sangat intens. Dengan Bulog khususnya sangat aktif. Setiap Senin kami mengadakan rapat koordinasi antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yang dihadiri Forkopimda, Bulog, dan OPD terkait untuk merespons kebutuhan yang ada.
Pertanyaan: Apakah rapat ini akan terus dilakukan sampai pasca Lebaran?
Jawab: Ya, setiap Senin tetap dilakukan, meskipun tidak ada hari besar keagamaan. Karena fungsi pemerintah adalah menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Pertanyaan: Bagaimana strategi pengawasan jika ditemukan penyimpangan seperti penimbunan atau harga di atas HET
Jawab: Pemprov tergabung dalam Satgas Pangan yang melibatkan kepolisian, kejaksaan, dan instansi terkait. Jika ada kenaikan harga tidak wajar atau indikasi penimbunan, kami langsung turun ke lapangan.
Pertanyaan: Apakah sudah ada temuan seperti itu di Lampung?
Jawab: Belum ada. Lonjakan harga yang terjadi masih karena tingginya permintaan masyarakat, bukan karena penimbunan atau pelanggaran HET.
Pertanyaan: Seberapa besar peran TPID Lampung dalam menghadapi Ramadan dan Lebaran 2026?
Jawab: TPID merupakan orkestrator kebijakan pengendalian inflasi. Kami menyamakan kebijakan pusat dan daerah serta memastikan tidak ada lonjakan harga yang jauh di atas HET melalui komunikasi dengan distributor, Bulog, dan pelaku pasar.
Pertanyaan: Berdasarkan data BPS, inflasi Lampung turun dari 3,47 persen pada Desember 2023 menjadi 1,25 persen pada Desember 2025. Bagaimana upaya menjaga inflasi di 2026?
Jawab: Penurunan ini menunjukkan perbaikan tata kelola. Kami terus meningkatkan produksi lokal karena beberapa komoditas masih bergantung dari luar daerah. Kami juga melakukan koordinasi dengan BPS dan dinas terkait untuk intensifikasi dan ekstensifikasi komoditas yang masih kurang.
Pertanyaan: Apa langkah lain yang dilakukan?
Jawab: Kami memperkuat data dan neraca pangan serta menyiapkan BUMD sebagai buffer stock yang berfungsi sebagai agregator dan off-taker jika ada komoditas yang perlu segera ditangani.
Pertanyaan: Apa upaya ke depan untuk meningkatkan perekonomian Lampung pada 2026?
Jawab: Pertama menjaga stabilitas harga, kemudian memperkuat produksi lokal, melakukan hilirisasi dengan mendorong UMKM, serta mendorong peran aktif kabupaten/kota agar sejalan dengan kebijakan gubernur.
Pertanyaan: Bagaimana target pertumbuhan ekonomi 2026?
Jawab: Berdasarkan RPJMD, targetnya sekitar 5,5 hingga 5,6 persen dan kami optimistis bisa tercapai.
Pertanyaan: Berapa pertumbuhan ekonomi tahun 2025?
Jawab: Tahun 2025 sekitar 5,28 persen, tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berada di bawah 5 persen. Salah satu kuncinya adalah menjaga stabilitas harga.
Pertanyaan: Apa harapan ke depan untuk perekonomian Lampung?
Jawab: Yang paling penting adalah memastikan masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan tenang tanpa terbebani lonjakan harga. Pemerintah terus memperkuat pasokan dan distribusi agar harga stabil, pasokan cukup, dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)