Inflasi Pangkalpinang Februari 2026 Turun Jadi 3 Persen
suhendri March 03, 2026 10:50 PM

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, mencatat, inflasi tahunan (year on year/yoy) di Pangkalpinang pada Februari 2026 sebesar 3 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,06 pada Februari 2025 menjadi 107,18 pada Februari 2026.

Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi secara yoy pada Januari 2026 yang sebesar 3,69 persen.

Kepala BPS Kota Pangkalpinang Dewi Savitri mengatakan, inflasi yoy terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan tertinggi sebesar 16,64 persen. Disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,12 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 2,12 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 2,29 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,18 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,08 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,29 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki 0,02 persen.

Sementara itu, tiga kelompok tercatat mengalami deflasi yoy, yakni kelompok pendidikan sebesar 10,53 persen, kelompok transportasi 0,81 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,27 persen.

Badan Pusat Statistik Kota Pangkalpinang mencatat kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi terbesar secara yoy, yakni 2,26 persen. Disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,01 persen. 

Kelompok lainnya yang turut menyumbang inflasi, antara lain, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,14 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,09 persen, kesehatan 0,05 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, serta rekreasi masing-masing 0,02 persen.

Sebaliknya, kelompok pendidikan memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,47 persen, diikuti transportasi sebesar 0,11 persen dan perlengkapan rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Sejumlah komoditas tercatat dominan mendorong inflasi tahunan. Di antaranya, tarif listrik, daging ayam ras, emas perhiasan, beras, cabai rawit, bawang merah, sewa rumah, serta susu bubuk untuk balita.

Komoditas perikanan seperti ikan selar, ikan tenggiri, ikan dencis, ikan manyung, ikan singkur, dan cumi-cumi juga memberikan kontribusi terhadap inflasi. Selain itu, sigaret putih mesin (SPM), sigaret kretek mesin (SKM), sate, jus buah siap saji, hingga mobil turut menyumbang kenaikan harga.

"Adapun komoditas yang menahan inflasi atau menyumbang deflasi y-on-y antara lain tarif sekolah menengah atas, angkutan udara, bensin, cabai merah, udang basah, popok bayi sekali pakai, serta sejumlah komoditas hortikultura seperti bayam, wortel, kangkung, kentang dan bawang putih," tutur Dewi.

Ia menyebut, inflasi tahunan berada di angka 3,00 persen tersebut masih mencerminkan tekanan harga yang relatif terkendali.

"Namun, lonjakan pada kelompok perumahan dan energi menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya langsung terhadap daya beli masyarakat," ujar Dewi. 

Deflasi 0,44 persen

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Pangkalpinang mengalami deflasi sebesar 0,44 persen pada Februari 2026.

Adapun secara tahun kalender (year to date/y-to-d), terjadi deflasi sebesar 0,33 persen dibandingkan Desember 2025.

Deflasi bulanan tersebut menunjukkan adanya penurunan harga sejumlah komoditas pada Februari dibandingkan Januari 2026, terutama komoditas pangan segar dan energi.

Secara bulanan, komoditas yang dominan menyumbang deflasi m-to-m antara lain ikan tenggiri, bayam, ikan singkur, kangkung, cumi-cumi, bensin dan udang basah.

Sementara komoditas yang mendorong inflasi bulanan di antaranya daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, angkutan udara, sepeda motor, serta susu bubuk untuk balita. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.