Konflik Geopolitik Timur Tengah, BEI Babel Imbau Investor Tetap Tenang
suhendri March 03, 2026 10:50 PM

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Bangka Belitung, Fahmi Al Kahfi, mengatakan, pasar keuangan global hingga domestik saat ini masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang makin memanas.

Menurut Fahmi, gejolak tersebut sempat memberi tekanan signifikan terhadap pasar saham global, termasuk Indonesia.

Namun, dinamika yang terjadi menunjukkan bahwa pasar cenderung bersikap rasional dan menunggu perkembangan lebih lanjut.

"Secara global, indeks-indeks Wall Street sempat tertekan di awal perdagangan, tetapi berhasil bangkit seiring aksi beli investor yang memanfaatkan penurunan harga," kata Fahmi kepada Bangka Pos, Selasa (3/3/2026).

Fahmi menyebut pemulihan bursa saham Amerika Serikat didorong oleh beberapa faktor.

Pertama, harga minyak AS yang sempat melonjak tajam berbalik turun dari level tertingginya sehingga meredakan kekhawatiran terhadap dampak perang bagi ekonomi Negeri Paman Sam.

Kedua, investor kembali memborong saham-saham teknologi unggulan yang selama ini menjadi motor penggerak pasar, seperti Nvidia dan Microsoft.

Ketiga, pelaku pasar cenderung menerapkan strategi wait and see, mengingat pengalaman konflik geopolitik sebelumnya yang umumnya hanya menekan pasar dalam jangka pendek sebelum kembali stabil.

Fahmi menyebutkan, perhatian investor global kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 13-15 juta barel minyak per hari atau setara 20 persen pasokan global.

Eskalasi konflik dan laporan serangan terhadap tanker membuat perusahaan pelayaran bersikap lebih berhati-hati.

Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia pada perdagangan Senin (2/3/2026).

"Jika gangguan di jalur tersebut berlangsung lama, potensi tekanan terhadap pasar energi global cukup besar dan bisa memicu tekanan inflasi baru," ujar Fahmi.

Di pasar saham AS, sektor pertahanan dan energi sempat terdorong naik, sedangkan sektor pariwisata serta saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga mengalami tekanan.

Di dalam negeri, Fahmi mengungkapkan bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Senin (2/3/2026) ditutup melemah 2,65 persen ke level 8.016,83 dari posisi sebelumnya 8.235,49.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp29,77 triliun dengan rata-rata transaksi harian Rp30,49 triliun.

Sementara itu, investor asing membukukan net sell sebesar Rp631,18 miliar pada perdagangan kemarin.

Secara akumulatif, sejak awal tahun, investor asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp10,14 triliun.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah berdasarkan kurs Bloomberg turut terdepresiasi ke level Rp16.861 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.771 per dolar AS.

Meski tekanan terjadi, Fahmi menilai pergerakan pasar saat ini lebih dipengaruhi sentimen global ketimbang faktor fundamental domestik.

Fundamental ekonomi Indonesia sejauh ini masih relatif terjaga.

“Yang terjadi lebih pada respons jangka pendek akibat sentimen eksternal," ucapnya.

Fahmi mengimbau investor tetap tenang dan tidak panik dalam mengambil keputusan investasi.

Menurutnya, volatilitas akibat konflik geopolitik bukanlah hal baru di pasar modal.

"Sejarah menunjukkan, pasar biasanya hanya terkoreksi sementara sebelum kembali menyesuaikan diri. Investor sebaiknya tetap fokus pada fundamental dan tujuan investasi jangka panjang," tutur Fahmi. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.