TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kabupaten Sleman kehilangan sedikitnya 2.222 hektar lahan pertanian dalam kurun waktu 7 tahun terakhir.
Data Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman disebutkan tahun 2025 luas lahan pertanian di Bumi Sembada hanya tersisa 15.915 hektare.
Jumlah ini menyusut drastis dibandingkan tahun 2018 sebesar 18.137 hektare. Penyusutan lahan pertanian ini akibat tingginya alih fungsi.
Plt. Kepala DP3 Sleman Rofiq Andriyanto mengamini bahwa laju alih fungsi lahan pertanian di Sleman harus direm.
Menurut dia, lahan pertanian di Sleman banyak yang hilang karena dimanfaatkan untuk fasilitas publik. Misalnya untuk membangun jalan tol kemudian dibutuhkan untuk investasi yang masuk seperti perumahan, termasuk lahan sawah yang dimanfaatkan pemiliknya buat membangun rumah tinggal. Persolaan alih fungsi ini sebenarnya sudah ada regulasinya.
"Mohon maaf kita memang sudah ada payung hukumnya. Tapi kita belum bisa menerapkan dengan ketat untuk di Sleman kepemilikan lahan untuk dialihkan sebagai fungsi rumah tinggal," kata Rofiq, Selasa (3/3/2026).
Ia menyebutkan, berdasarkan data dari Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Sleman, lahan pertanian yang berganti fungsi menjadi area tempat tinggal, rata-rata sekira 200 hektare per tahun di Sleman.
Jumlah itu angka yang terdata melalui perizinan. Ibarat gunung es, Rofiq menyakini jumlah alih fungsi lahan pertanian berdasarkan realitas di lapangan jauh lebih besar.
Pemkab Sleman pun telah berupaya agar alih fungsi lahan ini bisa direm. Satu di antaranya dengan mengunci, melalui regulasi Peraturan Daerah sejak 2020 terkait Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Rofiq menegaskan bahwa meski alih fungsi cukup masif namun produksi pangan di Sleman, dengan jumlah lahan yang tersedia masih cukup aman.
Ia mencontohkan, dengan jumlah penduduk Sleman 1,2-1,3 juta penduduk, kebutuhan pangan beras sekitar 74.900 - 75.000 ton per tahun. Produksi beras di Sleman saat ini dikisaran 135 ton. Artinya masih ada 60 ribu tonton yang bisa didistribusikan ke daerah lain.
"Bahkan kemarin kita membuat estimasi kalau sampai sawah kita hanya tinggal 10.000 hektare, kita akan impas nanti di 30 tahun ke depan dengan sawah yang tidak diperkurangkan. Artinya, kalau dari sisi pangan pokok dan beras insyaallah kita aman," ujar dia.(*)