TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Di tengah gempuran promo belanja online Ramadan sale yang marak di berbagai marketplace, toko konvensional pun terus mengikuti tren untuk tetap bisa menjaring konsumen, khususnya produk fesyen.
Hal itu seperti diungkapkan seorang karyawan toko baju di Salatiga, Vita. Menurut dia, tren model pakaian di toko fisik banyak dipengaruhi media sosial (medsos), terutama TikTok.
Ia berujar, model yang sedang viral lebih cepat laku dan diburu pembeli. "Yang sesuai lagu-lagu TikTok itu biasanya ramai. Ada juga yang disebut gamis 'bini orang', itu banyak dicari," katanya, kepada Tribun Jateng, Senin (2/3).
Senada diungkapkan Doddy, owner ABoutique, di Ruko Tlogosari Raya 1 No. 18, Semarang. Ia menyebut, satu model yang tengah tren adalah gamis model 'bini orang' yang permintaannya tinggi hingga stok di tokonya kerap cepat habis.
“Model itu lagi banyak dicari. Kami sudah restok, tapi biasanya dipasang setelah buka puasa supaya jadi daya tarik,” ujarnya.
Kondisi serupa terjadi Pasar Johar Semarang, bersamaan dengan peningkatan pengunjung yang mulai berburu kebutuhan Lebaran, khususnya fesyen.
Satu di antara yang paling banyak dicari tahun ini adalah gamis dengan model yang sedang tren di media sosial, yang dikenal dengan 'bini orang'.
Mutmainah (23), pengunjung Pasar Johar mengaku sengaja datang ke pasar untuk mencari baju Lebaran. Meski bekerja dan hanya memiliki waktu luang di akhir pekan, ia tetap menyempatkan diri berburu gamis incaran.
"Kebetulan sudah cari-cari refererensi baju Lebaran di media sosial. Ini cari bajunya (gamis) 'bini orang'," katanya, ditemui Tribun Jateng di Pasar Johar Tengah, Minggu (1/3).
Ia biasa mencari baju lebaran berdasarkan tren yang sedang populer. Selain gamis, ia juga berencana mencari sandal untuk melengkapi penampilan Hari Raya.
Meski baru tiba di pasar saat diwawancarai, ia optimistis bisa menemukan model yang cocok. "Ikut tren saja. Biasanya (berburu baju Lebaran) juga saat-saat ini," kata perempuan asal Kebumen itu.
Sementara, tren 'bini orang' juga diakui para pedagang di pasar Johar sebagai satu model paling laris sejak awal Ramadan.
Dewi (48), satu penjual gamis di Pasar Johar, menyebut, permintaan meningkat tajam bahkan sejak pekan pertama puasa. "Yang paling laris ya ‘bini orang’. Dari awal puasa sudah banyak yang cari," tuturnya.
Selain itu, menurut dia, ada pula model lain seperti 'menantu idaman'. Namun, pamor 'ini orang' jauh lebih kuat di pasaran tahun ini.
Tren tersebut ramai diperbincangkan di TikTok dan cepat menyebar lewat konten fesyen. "(Ramainya) di TikTok. Terinsipirasi dari Inara (Rusli) kali," kiranya.
Ciri khas
Dewi mengungkapkan, model gamis 'bini orang' memiliki ciri khas potongan simpel dengan detail renda di bagian bawah rok.
Motif dan coraknya beragam, namun siluetnya cenderung sama, yaitu longgar, anggun, dan memberi kesan dewasa. "Modelnya kayak gini, cuma bawahnya ada renda-rendanya," jelas Dewi sambil menunjukkan satu koleksinya.
Dari sisi bahan, ia menyebut, dari Seruti dengan beberapa tingkatan kualitas, mulai dari standar hingga premium. Ada pula pilihan katun jaguar.
Untuk model bermotif, umumnya menggunakan bahan Seruti dengan tambahan detail renda menyerupai brokat di bagian bawah.
Soal harga, Dewi mematok kisaran Rp 225 ribu hingga Rp300 ribu per potong, tergantung jenis bahan. "Bedanya di bahan. Seruti itu ada yang biasa, ada yang premium," terangnya.
Dia menambahkan, segmen pasar gamis 'bini orang' lebih banyak diminati perempuan usia 30 tahun ke atas. "Lebih ke orang dewasa sampai orang tua," ujarnya.
Meski begitu, Dewi menyampaikan, tidak sedikit keluarga yang membeli seragam atau couple untuk dikenakan saat Hari Raya.
Memasuki hari ke-11 Ramadan, ia menyebut toko sudah mulai ramai. Untuk model 'bini orang' dalam sehari bisa terjual lima hingga 10 potong, bergantung keramaian pasar.
"Sehari itu bisa sampai lima atau 10 ya, tergantung pasar ramai atau tidaknya," tukasnya.
Pedagang lain, Ratnasari menyatakan, model 'bini orang' menjadi salah satu yang paling banyak ditanyakan pembeli menjelang Lebaran tahun ini.
“Model terbaru sekarang ya kayak gini, ‘bini orang’ ini,” ujarnya sambil menunjukkan gamis dengan detail renda di bagian bawah.
Menurut dia, tren 'bini orang' sebenarnya sudah mulai muncul bahkan sebelum Ramadan. Ia mengetahui kepopulerannya dari medsos, terutama TikTok, yang ramai menampilkan model itu dari pusat grosir seperti Tanah Abang.
Meski sempat muncul anggapan tren viral bisa membuat pembeli ragu karena takut kembar dengan orang lain, Ratnasari justru melihat sebaliknya. "Malah banyak yang cari," tukasnya.
Namun, ia mengamati segmen pembelinya cenderung berbeda. Model ini lebih diminati kalangan ibu-ibu daripada remaja. "Biasanya sih ibu-ibu. Kalau remaja kayaknya kurang suka, takut kembar," ucapnya.
Ratna menyebut, dalam sehari, ia rata-rata bisa menjual dua hingga tiga potong gamis 'bini orang', menyesuaikan dengan tingkat keramaian pasar. (Eka Yulianti Fajlin/Rezanda Akbar D/idayatul Rohmah)