Nuansa Tionghoa dan Minahasa Berbaur Jadi Satu dalam Barisan Ritual Suci Goan Siau di Bitung
Rizali Posumah March 03, 2026 11:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Perpaduan budaya etnis Tionghoa dan Minahasa, berbaur menjadi satu dalam arak-arakkan ritual suci perayaan Goan Siau atau Cap Go Meh Imlek 2577, Selasa 3 Maret 2026 di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Perpaduan tersebut membawa Harmoni dan sedap di tonton oleh banyak masyarakat Kota berjuluk Kota Cakalang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Klenteng Seng Bo Kiong.

Goan Siau atau Cap Go Meh, dilaksanakan pada hari yang 15 bulan pertama di tahun baru Imlek.

Di mana menurut masyarakat Tionghoa yang anut ajaran Tridharma bahwa setelah dilangsungkannya Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh rangkaian Tahuk Baru Imlek.

Perpaduan tersebut tergambar dalam susunan barisan perayaan Goan Siau atau Cap Go Meh Imlek 2577.

Terdiri dari barisan Non Ritual dan barisan ritual.

Dalam barisan non Ritual, di buka dengan dua spanduk warna kuning tulisan merah.

Tulisannya Prosesi Goan Siau, tukisan China dan gambar naga disamping kiri dan kanan.

Di spanduk kedua bertuliskan Negara Makmur Rakyat Sentosa, ada juga tulisan china dan gambar naga di sisi kiri dan kana spanduk.

Menyusul di belakang dua spanduk itu, ada tarian Kawasaran atau Kabasaran Kota Bitung. 

Kemudian Mobil hias lambang Negarai Indonesia Garuda, perisai berisi simbol 5 sila Pancasila, pita bertuliskan

"Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tetapi satu jua).

Lalu ada Karnaval dari Dinas Pariwisata Kota Bitung, rombongan TP PKK, Dekranasda,  dan Wanita Katolik Republik Indonesia.

Sementara itu dalam barisan Ritual, ada sepasang Gon atau Lonceng Langit yang memiliki arti sebagai pembersih.

Di mana dalam perayaan Cap Go Meh yang penuh dengan arak-arakkan dan atraksi barongsai dan tatung atau tang sin, bunyi gong berfungsi sebagai pembersih spiritual sebelum dan selama prosesi berlangsung.

Suara gong dipercaya mengusir roh jahat dan energi negatif.

Kemudian ada Kepala Tempayan dan Sosiru. 

Kepala Tempayan dimaknai sebagai simbol penjagaan dan pengendalian energi, yaitu menjaga kesucian serta kestabilan energi dalam diri maupun dalam ritual.

Sementara Sosiru melambangkan proses penyaringan dan pemurnian yaitu memisahkan hal yang baik dari yang buruk, agar batin tetap bersih dan hidup tetap selaras dengan Tao.

Ada juga delapan Barongsai, Naga Hijau dan Qilin.

Barongsai melambangkan kekuatan, keberanian, perlindungan, keberuntungan, dan kemakmuran. 

Dalam kepercayaan Tiongkok, singa dianggap sebagai hewan penjaga yang mampu mengusir roh jahat dan energi negatif. 

Karena itu, pertunjukan barongsai dilakukan untuk "membersihkan" tempat dari hal buruk dan membawa energi positif.

Seekor Naga melambangkan semangat, kekuatan, keuletan dan kemurnian dalam menjalani kehidupan di dunia.

Sosok Qilin adalah mahkluk mitologi Cina yang mempunyai tubuh seperti rusa atau kuda, bersisik seperti naga, berekor seperti lembu, dan memiliki satu atau dua tanduk di kepala. 

Sosok Qilin melambangkan penjaga spiritual yang melindungi tempat ibadah dari energi negatif dan roh jahat. 

Ia juga dipercaya membawa keberuntungan, rezeki, dan kemakmuran bagi umat yang datang bersembahyang.

Kemudian ada Barisan Ngo Heng yang di pimpin oleh Panglima Langit Locia di dampingi
Empat Jenderalnya (Lei Zhen Zi, Nan Gong Shi, Yang Jian dan Wu ji).

Pasukan 36 Bendera, melambangkan 36 Jendral Langit yang ditugaskan untuk melindungi altar, dewa, dan umat dari energi negatif.

Dalam barisan ritual ada Kereta Hias:

1. Kereta hias Lo Cia
Lo Cia adalah Dewa pelindung yang berwujud anak sakti/ksatria remaja. la merupakan salah satu komandan dari "Pasukan 36 Bendera" atau Tentara Langit, yang dikenal sangat lincah, pemberani, dan sakti.

2. Kereta hias Kwan Kong
Kwan Kong adalah tokoh pahlawan dari Tiongkok yang dihormati sebagai

3. simbol kesetiaan, kejujuran, dan keberanian. la dihormati sebagai dewa perang dengan kedudukan tinggi yang melindungi umat manusia dan sering disebut juga sebagai Kwan Seng Tee Kun.

4. Kereta hias Ma Co
Ma Co atau Tian Shang Sheng Mu adalah Dewi Laut yang sangat dihormat dalam tradisi Tionghoa dan Taoisme. la dipercaya sebagai pelindung nelayan, pelaut, pedagang laut, dan siapa pun yang melakukan perjalanan jauh, terutama lewat laut.

Lalu ada Musik Bambu, sebagai salah satu kesenian tradisional dari daerah Sulawesi Utara, dimainkan dengan alat music yang terbuat dari bambu.

Kereta Hias Bunga Mei Hua melambangkan harapan akan keberuntungan, kebahagiaan, dan kehıdupan yang lebih baik di tahun yang baru. 

Selain itu, bunga ini juga melambangkan kemurnian dan keindahan yang tetap bersinar meskipun dalam keadaan sulit.

Disusul Petugas Sembayang SBK Dan Umat Pegang Hio.

Dan usungan atau Kio Yang Suei Tiong Tan Lie Goan Swe / Lo Cia adalah Kio Dewa Lo Cia, dewa pelindung yang berwujud anak sakti/ksatria.

Kemudian Kio Yang Suci Hian Thian Siang Te

Hian Thian Siang Te dikenal sebagai Dewa Langit Utara, yang mempunyai simbol sebagai penakluk atas kekuatan jahat dan ketidakseimbangan alam.

Kio Yang Suci Kwan Kong adalah Kio Dewa Kwan Kong, yang dikenal sebagai Dewa Perang, Kio Yang Suci Hok Tek Ceng Sin
Hok Tek Ceng Sin adalah Dewa Bumi atau Dewa Kesejahteraan dan Kebajikan dalam kepercayaan Taoisme dan tradisi Tionghoa. 

la merupakan dewa yang paling dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari karena bertugas sebagai penjaga dan pelindung suatu wilayah, baik itu kelenteng, pemukiman, maupun perkampungan.

Kio Yang Suci Thian Siang Seng Mu / Ma Cho
Ini adalah Kio Ma Cho, yang di kenal sebagai Dewi Laut. 

Macan dan Naga Atraksi ikut di belakang setelah beratraksi di panggung rumah dinas walikota.

Penjelasan dan keterangan barisan diatas, diambil dari data yang dikeluarkan Klenteng Seng Bo Kiong Bitung.

Arak-arakan perayan Goan Siau atau Cap Go Meh Imlek 2577, mengambil start dari delan Klenteng Seng Bo Kiong jalan SH Sarundajang.

Menyitari rute sejauh 2 Kilometer (Km), melewati jalan AA Maramis depan SMKN 1 dan 2 Bitung.

Kembali ke jalan SH Sarundajang, putar balik di depan rumah Dinas Walikota Bitung jalan SH Sarundajang dan kembali finish di Klenteng Seng Bo Kiong.

Arak-arakkan ini disaksikan banyak pasang mata, yang memadati sepanjang jalan yang dilalui.

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.