Oleh: Herlian, S.Pd., Gr. - Kepala SMA IT CAHAYA
SETIAP pagi melihat anak berangkat ke sekolah, ada yang diantar orang tuanya dan ada juga yang menunggu bus sekolah. Mereka membawa tas penuh buku, jadwal pelajaran yang padat, dan target nilai yang harus dicapai. Mereka belajar matematika, sains, bahasa, teknologi, bahkan keterampilan digital yang terus-menerus berkembang.
Sekolah sangat bekerja keras menyiapkan generasi cerdas dan kompetitif. Namun di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang jarang kita bicarakan dengan serius, jika sekolah mengajar ilmu, lalu siapa yang mengajar makna hidup?
Hari ini sangat banyak sekali kita lihat fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Bahkan anak pintar, tetapi mudah putus asa. Banyak anak berprestasi, tetapi kehilangan arah ketika menghadapi kegagalan. Nilai akademik meningkat, tetapi ketahanan mental justru menurun. Ini bukan semata kesalahan sekolah, melainkan tanda bahwa pendidikan modern sering terlalu fokus pada apa yang harus diketahui, tetapi kurang memberi ruang pada mengapa hidup harus dijalani.
Di zaman sekarang sebuah informasi sangat mudah sekali di akses. Anak-anak bisa belajar apa saja melalui internet. Mereka mengenal teknologi lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Namun, ironisnya banyak ilmu yang dimiliki, tidak selalu diikuti dengan kedewasaan hati.
Banyak tekanan yang dimiliki anak sekarang sehingga mereka ditekankan untuk menjadi apa yang diingakan orang tua. Dengan banyak tuntutan dari orang tua, seorang anak merasa hidup adalah perlombaan tanpa garis akhir, mereka bisa menjawab soal ujian, tetapi tidak tahu cara menghadapi kegagalan, kehilangan atau rasa tidak percaya diri.
Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa tujuan ilmu bukan sekadar kecerdasan, tetapi kesadaran akan makna hidup: “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
kepada-Ku,” (QS. Adz- Dzaroat: 56)
Dengan ayat itu, kita sebagai orang tua ataupun pendidik di sekolah maupun di rumah bisa memberikan arah yang jelas kepada anak, bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya mempersiapkan pekerjaan, tetapi mempersiapkan manusia memahami tujuan keberadaannya.
Kurikulum sekarang yang diterapkan dalam dunia pendidikan modern menekan capaian akademik seperti ranking, nilai, sertifikat, dan sebuah prestasi. Apakah semua itu penting? Penting, tetapi ketika menjadi satu- satunya ukuran keberhasilan, anak tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya ditentukan oleh angka. Akibatnya, kegagalan kecil terasa seperti akhir segalanya.
Imam Syafi’i berkata: “Ilmu itu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat." Kalimat ini sangat berkaitan sekali dengan kondisi sekarang. Ilmu yang hanya berhenti di kepala tidak cukup. Ilmu harus membentuk karakter, melatih kesabaran, menumbuhkan empati, dan menguatkan iman. Tanpa nilai- nilai tersebut, pendidikan hanya menghasilkan manusia pintar tetapi mudah rapuh.
Dalam Islam, pendidikan pertama bukanlah sekolah melaikan keluarga. Orang tua adalah guru pertama sebelum mengenal ruang kelas.
Allah berfirman: “Wahai orang- orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At- Tahrim: 6) Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di lembaga sekolah, tetapi di rumah juga.
Sayangnya, kehidupan modern sekarang membuat orang tua sibuk bekerja sehingga pendidikan makna hidup bagi sang anak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, anak belajar lebih banyak dari contoh daripada nasihat. Cara orang tua menghadapi masalah, bersyukur, berbicara, dan memperlakukan orang lain menjadi pelajaran hidup yang paling kuat.
Daniel Goleman memberikan teori dalam ilmu parenting modern yang dikenal konsep emotional intelligence. Dijelaskan dalam teori ini adalah bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan memahami emosi, empati, dan pengendalian diri.
Kemudian teori character education juga menjelaskan bahwa sekolah harus membangun nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian sosial. Menariknya, nilai- nilai ini sebenarnya telah lama diajarkan dalam Islam melalui akhlak Rasulullah Saw. Anak yang hanya diajarkan kompetisi akan tumbuh mudah cemas. Tetapi anak yang diajarkan makna akan tumbuh kuat menghadapi kehidupan.
Dalam parenting islami ada tiga fondasi utama:
1. Keteladanan (uswah): anak meniru, bukan hanya mendengar.
2. Kedekatan emosional: anak butuh didengar sebelum diarahkan.
3. Penanaman tauhid: anak memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan manusia tetapi Allah.
Ada sebuah fenomena sekarang yang dialami oleh pelajar yang biasa disebut fenomena burnout. Fenomena ini sudah banyak dirasakan oleh pelajar. Ciri- cirinya mereka takut gagal, takut tertinggal dan takut tidak memenuhi ekspektasi. Fenomena ini terjadi karena hidup diajarkan sebagai kompetisi, bukan perjalanan hidup.
Imam Syafi’i memberikan nasihat yang sangat dalam: “Barang siapa menginginkan dunia maka dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan akhirat maka dengan ilmu.” Maksudnya ilmu harus menghubungkan dunia dan akhirat, bukan memisahkan keduanya. Ketika ilmu hanya diarahkan pada dunia, hati menjadi kosong. Namun ketika ilmu diarahkan pada tujuan yang lebih tinggi, hidup terasa lebih bermakna.
Apakah sekolah memiliki peran besar? Sekolah tetap memiliki peran besar, tetapi pendidikan makna hidup harus menjadi kerja sama antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
1. Menghargai proses bukan hanya hasil
2. Menguatkan spiritualitas dalam keseharian anak
3. Mengajarkan reflelksi, bukan hanya hafalan
4. Memberi ruang diskusi tentang nilai hidup dan tujuan
Mungkin pertanyaan “siapa mengajar makna hidup?” sebenarnya adalah perntanyaan untuk kita semua. Guru, orang tua, dan masyarakat yang memiliki peran sama pentingnya. Sekolah bisa mengajarkan rumus kehidupan, tetapi makna hidup lahir dari keteladanan, nilai dan kedekatan dengan Allah.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan manusia cerdas, tetapi manusia yang tahu untuk apa ia hidup. Dan ketika ilmu bertemu dengan iman, pendidikan tidak lagi sekadar mencetak lulusan tetapi melahirkan manusia yang utuh yitu cerdas pikirannya, kuat hatinya, dan lurus arah hidupnya. (*)