UPDATE Perang Iran vs Amerika: Balas Dendam Trump ke Spanyol, Indonesia Tetap Board of Peace
Nia Kurniawan March 04, 2026 03:05 AM

TRIBUNKALTENG.COM - KABAR terbaru Iran vs Amerika, saat situasi Pemerintah Indonesia memutuskan tetap berada dalam board of peace atau BoP buatan Amerika Serikat (AS), meski muncul desakan dari sejumlah pihak agar Indonesia mundur di tengah eskalasi serangan AS-Israel ke Iran. Donald Trump dendam ke Spanyol.

Ya, Kini Donald Trump mengatakan AS akan mengakhiri hubungan perdagangan setelah Spanyol menolak menyediakan pangkalan untuk serangan terhadap Iran.

Baca juga: Kim Jong-un di Korea Utara tak Sembunyi, Pasca Khamenei Meninggal di Konflik Iran Vs Amerika-Israel

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan Madrid tidak akan mengizinkan pangkalan militernya digunakan karena serangan tersebut tidak tercakup dalam perjanjiannya dengan Washington maupun sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara Menteri Luar Negeri RI Sugiono memastikan posisi Indonesia tidak berubah.

“Kita tetap di BOP,” ujar Sugiono Sugiono usai menghadiri pertemuan Presiden Prabowo bersama lintas tokoh di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan terkait pandangan sejumlah elemen masyarakat yang mendorong Indonesia keluar dari BOP menyusul memanasnya situasi di Timur Tengah.

Menurutnya, keputusan untuk tetap berada dalam BoPberpotensi membahayakan integritas politik luar negeri Indonesia di mata dunia serta menyimpang dari prinsip konstitusional politik luar negeri bebas aktif.

“Indonesia sudah terlanjur masuk ke dalam BoP. Namun daripada berlarut-larut dan menimbulkan persoalan yang lebih besar, sebaiknya pemerintah segera mengambil langkah untuk keluar. Ini penting demi menjaga konsistensi prinsip bebas aktif yang menjadi amanat konstitusi kita,” kata TB Hasanuddin, kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).

TB Hasanuddin mengungkapkan memaparkan lima alasan utama mengapa Indonesia perlu segera menarik diri dari BoP.

Pertama, partisipasi Indonesia dalam BoP dinilai telah mencederai prinsip bebas aktif sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. 

"Amanat untuk turut aktif menjaga perdamaian dunia tidak tercermin apabila Indonesia menjadi bagian dari organisasi yang dinilai membiarkan terjadinya agresi militer terhadap bangsa lain, dalam hal ini invasi AS-Israel ke Iran," ujarnya.

Kedua, pemerintah dinilai tidak menunjukkan sikap tegas dalam mengutuk invasi AS-Israel ke Iran. 

"Hal ini memperkuat persepsi adanya keberpihakan Indonesia terhadap agresi tersebut dan menimbulkan kesan lemahnya komitmen terhadap penghormatan kedaulatan negara lain," ucapnya.

Ketiga, posisi yang dinilai tidak netral dan tidak konsisten dalam membela kedaulatan bangsa lain dapat memperburuk persepsi rakyat Palestina terhadap Indonesia. 

TB Hasanuddin mengingatkan bahwa mobilisasi pasukan TNI sebagai bagian dari ISF BoP berpotensi mendapat penolakan. 

"Bahkan, penolakan disebut telah muncul sejak dua pekan lalu ketika perwakilan Hamas secara terbuka menyatakan penolakan terhadap keberadaan pasukan asing di Gaza dan mengklaim telah berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia," ucapnya.

Keempat, alokasi anggaran untuk partisipasi TNI dalam pasukan ISF dinilai akan menekan kapasitas fiskal negara untuk tujuan yang masih bersifat spekulatif. 

"Dalam kondisi fiskal yang tengah tertekan, pemerintah diminta lebih selektif dalam penggunaan anggaran. Terlebih, dampak invasi AS-Israel ke Iran telah menimbulkan ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas fiskal Indonesia," katanya.

Kelima, Indonesia dinilai berisiko terjebak dalam pusaran geopolitik Timur Tengah yang tidak menguntungkan dan berpotensi membahayakan. 

"Kita sudah dianggap sebagai pendukung kepentingan AS dan Israel yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah," ucapnya.

TB Hasanuddin menegaskan bahwa langkah keluar dari BoP bukan berarti Indonesia abai terhadap isu perdamaian dunia. 

Sebaliknya, hal tersebut justru untuk mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif, independen, serta berpihak pada perdamaian dan penghormatan terhadap kedaulatan setiap bangsa.

 Sikap Donald Trump ke Spanyol

Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengatakan negaranya akan memutuskan semua perdagangan dengan Spanyol setelah negara Eropa itu menolak mengizinkan pasukan Amerika menggunakan pangkalan-pangkalan mereka untuk misi yang terkait dengan kampanye yang sedang berlangsung melawan Iran .

"Spanyol sangat buruk," kata Trump kepada wartawan saat bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, menambahkan bahwa dia telah memerintahkan Menteri Keuangan Scott Bessent untuk "menghentikan semua urusan" dengan Spanyol.

"Kita akan menghentikan semua perdagangan dengan Spanyol. Kita tidak ingin berhubungan dengan Spanyol," tambahnya. Trump mengutip kemampuannya untuk memberlakukan embargo terhadap Spanyol, berdasarkan keputusan Mahkamah Agung baru-baru ini mengenai kemampuan presiden untuk memberlakukan tarif.

Dilansir Tribunkalteng.com dari India Today Rabu 4 Maret 2026. Menteri Keuangan Scott Bessent setuju dengan klaim presiden bahwa ia dapat menghentikan perdagangan dengan Spanyol. Bessent mengatakan kepada presiden, "Saya setuju bahwa Mahkamah Agung menegaskan kembali kemampuan Anda untuk menerapkan embargo."

Komentar Trump muncul setelah AS memindahkan 15 pesawat, termasuk pesawat tanker pengisian bahan bakar, dari pangkalan militer Rota dan Moron di Spanyol selatan setelah kepemimpinan Sosialis negara itu mengatakan tidak akan mengizinkan pesawat-pesawat tersebut digunakan untuk menyerang target Iran.

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan Madrid tidak akan mengizinkan pangkalan militernya digunakan karena serangan tersebut tidak tercakup dalam perjanjiannya dengan Washington maupun sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah mengalami peningkatan tajam sejak Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan beberapa tokoh penting lainnya dari kalangan militer dan politik negara itu tewas dalam serangan militer yang dilancarkan bersama oleh Israel dan AS.

Iran menanggapi serangan tersebut dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang menargetkan negara-negara Arab di kawasan itu. Balasan Iran terhadap serangan terkoordinasi AS-Israel tersebut, sejauh ini, melibatkan penembakan beberapa rentetan rudal ke negara-negara tetangganya di Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

Pasukan Iran juga menembakkan rudal ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman. Menurut perkiraan, lebih dari 500 orang telah tewas dalam krisis yang berkembang pesat antara Iran dan musuh bebuyutannya.

Jumlah korban tewas termasuk enam korban jiwa dari militer Amerika yang telah dikonfirmasi.(Tribunkalteng/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.